• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, March 16, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Dilema dan Negosiasi Anak Muda Bali dalam Kehidupan Adat

Gita Andari by Gita Andari
14 November 2025
in Budaya, Kabar Baru
0
0

Organisasi Kepemudaan Kian Luntur?

Dalam kurun beberapa waktu terakhir, fenomena pergeseran minat generasi muda terhadap aktivitas kolektif dan organisasi berbasis komunitas daerah terlihat semakin nyata.  Berdasarkan survei terbaru dari Pusat Kajian Sosial dan Budaya UIN SSC, hanya sekitar 25% mahasiswa Gen Z yang menunjukkan minat untuk bergabung dengan organisasi daerah. Angka ini mengalami penurunan tajam dibandingkan empat tahun sebelumnya, ketika tingkat partisipasi masih berada di kisaran 45%. 

Di Bali, organisasi kepemudaan lebih dikenal dengan sebutan Sekaa Teruna Teruni (STT). STT biasanya ada di setiap banjar, yaitu satuan sosial berbasis wilayah yang mirip dengan rukun warga. Banjar berfungsi sebagai wadah masyarakat untuk saling membantu, terutama saat mempersiapkan berbagai acara adat atau kegiatan sosial. Di dalam banjar sendiri, ada beberapa kelompok kecil yang disebut Sekaa artinya perkumpulan atau organisasi yang dibentuk untuk tujuan tertentu, biasanya guna mendukung program kerja desa (Mahendra, 2016). Nah, salah satu bentuk Sekaa ini adalah STT. Struktur organisasi STT sebenarnya tidak jauh berbeda dari organisasi pada umumnya. Anggotanya terdiri dari para remaja di wilayah banjar tersebut, dan mereka biasanya punya berbagai program kerja maupun kegiatan rutin. Keberhasilan STT dalam menjalankan program tentu sangat bergantung pada partisipasi para anggotanya.

Fenomena serupa juga tampak di Bali. Meskipun kehidupan sosial masyarakatnya masih tetap mempertahankan nilai gotong royong dan tradisi, keterlibatan anak muda dalam kegiatan STT perlahan menunjukkan tanda-tanda penurunan. Bagi sebagian remaja Bali, kesibukan kuliah, pekerjaan, atau bahkan kehidupan di luar daerah membuat mereka sulit hadir secara rutin dalam kegiatan di banjar atau desa. Di sisi lain, perubahan gaya hidup dan pola pikir generasi muda yang kini lebih individualistis turut memengaruhi semangat kebersamaan yang dulu begitu kuat di lingkungan STT.

Sebagai contoh, dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Permata (2024) tentang “Partisipasi Pemuda dalam Program Kegiatan Penggalangan Dana Sekaa Teruna Teruni Pancaka Putra Pejaten” diperoleh temuan bahwa selama lima tahun terakhir (2018–2023), terlihat adanya penurunan tingkat partisipasi pemuda dalam kegiatan penggalangan dana yang dilakukan oleh STT tersebut. Pada tahun 2018 dan 2019, sebelum pandemi Covid-19, keterlibatan anggota mencapai hampir 95% dari total anggota STT. Namun, pada tahun 2022 dan 2023, angka partisipasi tersebut menurun hingga sekitar 85%. Penurunan ini terutama disebabkan oleh faktor eksternal, seperti anggota yang bekerja di luar wilayah banjar atau melanjutkan pendidikan di luar daerah, sehingga mereka sulit hadir secara langsung dalam kegiatan.

Faktor-faktor penurunan tersebut juga diamini oleh Cika, salah satu pengurus STT di Banjar Pikah. “Biasanya dikarenakan kesibukan dari masing-masing anggota seperti kuliah, kerja yang sulit mengatur waktu,” ungkapnya ketika dihubungi (14/10/2025). Meski demikian, Cika mengutarakan bahwa partisipasi anggota STT Guna Karya masih cukup baik dalam melangsungkan program-program organisasi. Mengingat dalam kurun beberapa tahun terakhir STT Guna Karya cukup banyak mengikuti kegiatan baik di banjar, maupun di desa. Seperti lomba parade bale ganjur/ogoh-ogoh, HUT STT, hingga festival. Menanggapi anggota-anggota yang jarang aktif dalam kegiatan, Cika menjelaskan bahwa hal tersebut dapat dimaklumi selama ketidakhadirannya memiliki alasan yang jelas. “Apabila ketidakhadirannya ada alasan yang pasti kami pengurus tentu saja akan memakluminya, sedangkan apabila tidak ada kami biasanya tanyakan terlebih dahulu ke orangtuanya/saudaranya,” imbuhnya.

Antara Karir, Pendidikan, dan Adat

Tuntutan waktu dan bagaimana menyeimbangkannya memang tidak mudah, terutama bagi anak muda yang dihadapkan pada pilihan antara karir, pendidikan, dan kewajiban adat. Dalam situasi seperti ini, banyak dari mereka mencoba mencari bentuk kontribusi lain, memutar otak untuk memilih prioritas, atau berkorban lebih demi tercapainya keseimbangan. 

“Aku nggak ikut STT soalnya aku tinggalnya bukan di wilayah lingkungan bapakku, merantau, jadi keluar gitu. Jadi aku gak ikut STT,” ungkap Wayan (20) pada (14/10/2025). Wayan merupakan seorang mahasiswa yang jauh meninggalkan kampung halamannya di Karangasem untuk menuntut ilmu ke Denpasar. Menurut Wayan, anak muda yang tidak aktif dalam kegiatan adat atau STT sebenarnya memiliki keinginan berkontribusi, tapi belum dapat terwujud karena kesibukan yang mengharuskannya jauh dari rumah. “Kalau aku sih, biasanya ya, karena kan sebagian dari kita itu kan pasti punya urusan pribadi. Terus ada mungkin tujuan yang harus dicapai, makanya sebenarnya dia itu mau ikut, tapi belum ada kesempatan buat ikut, karena dia masih mengejar cita-citanya gitu kan,” ujarnya.

Hal serupa juga dialami oleh Komang (20), seorang mahasiswa asal Gianyar yang merantau ke Denpasar untuk menimba ilmu. Selain berkuliah, sebagian waktu Komang turut digunakan untuk bekerja dan berkegiatan organisasi di kampus. “Kadang aku harus selesai ngajar dari kuliah jam 8 terus ngajar, kadang aku perlu ikut gladi (proker) juga karena teman-teman yg lain ga bisa, seperti itu,” ungkap Komang pada (14/10/2025). 

Secara administratif, Komang menjelaskan masih menjadi bagian atau anggota resmi STT, terlepas karena kesibukannya dalam pekerjaan, kuliah hingga organisasi yang jarang memberinya kesempatan untuk hadir dalam kegiatan STT. Ia juga menyoroti ketidaknyamanan sebagai individu yang introvert (tidak nyaman dalam keramaian), dan lingkungan circle (kelompok) yang kental. 

“Setiap rapat kan mereka ngadain weekdays, sedangkan aku masih di Denpasar. Aku juga ngerasa kayak introvert di sana. Mungkin karena gak ada circle. Palingan kalau kita ketemu say hello. Kita gak bisa cerita gimana-gimana gitu. Karena mereka itu aku pikir sudah terikat dalam circle dan misalnya yang dewasa sama yang dewasa, anak sekolah sama anak sekolahan gitu. Palingan kalau ke pura aku pasti sama adik, sama ibuk,” terang Komang.

Dengan kepribadian tersebut membuatnya lebih sulit untuk beradaptasi atau berbaur, terutama di lingkungan baru. Meski terkadang, perasaan bersalah muncul ketika tidak aktif dalam kegiatan adat atau sejenisnya. “Mungkin kalau menurut pandangan aku sendiri, merasa bersalahnya itu ada. Karena kadang mereka itu kan sering gini ya kayak aku mikirnya ada circle, begitu. Jadi kalau misalnya aku balik ke kampung terus ada ngayah, kan biasanya kita ada bebandaran gitu, kayak nyuwun bebandaran. Ngayah istilahnya. Kadang aku enggan untuk ikut karena kadang di desaku juga berbanyak kan muda-mudinya. Kadang cuma bisa bersepuluh bisa ngayah, kadang yang lainnya gak dapet. Jadi aku itu kayak enggan gitu, karena oke deh diem sendiri,” jelas Komang. Dari segi kontribusi, Komang tetap menjalankan kewajibannya setidaknya disiplin dalam membayar iuran organisasi. “Palingan kalau berkontribusi misalnya ada iuran itu aku bisa,” imbuhnya.

Untuk menyeimbangkan antara kesibukan memang tidak mudah, apalagi ketika tanggung jawab datang dari berbagai arah. Mengenai hal tersebut, Emi (20) mahasiswa yang aktif berorganisasi di kampus dan banjar, memandang kemampuan untuk mengatur waktu dan menentukan prioritas menjadi kunci agar semuanya tetap berjalan beriringan. “Cara mengatasinya pertama kali itu, pintar-pintar gini aja sih bagi waktu, (itu) yang pertama. Dan juga pasti, kita juga naruh prioritas. Yang mana bisa kita lakukan terlebih dahulu, yang mana bisa kita kesampingkan,” ungkapnya (14/10/2025). 

Berdasarkan penuturannya, pernah dirinya menghadapi hari yang padat, sehingga membuat dilema dan bimbang untuk memilih kegiatan yang akan diikuti. “Itu pernah banget, karena pernah kejadian waktu itu kayak, sebelumnya itu udah latihan kan di STT itu udah mau ngayah karena odalan gitu. Sedangkan di kuliah, (dan) di organisasi tiba-tiba mendadak ada situasi yang mengharuskan untuk datang. Karena kan termasuk penting juga kegiatannya. Terus di balik itu, ada juga kelas online. Jadi mau gak mau harus bagi waktu kan. Jadi dari awal itu yang tak prioritasin kuliahnya dulu, cuma karena kuliahnya waktu itu kebetulan online, jadi yang pertama diprioritasin itu datang ke kampus dulu, ke organisasinya, diselesaikan rapatnya terlebih dahulu, habis gladi rapat langsung ngayah dan pas di ngayah itu disambilin sama kelas online. Jadi kayak sambil (be)rias sambil kelas, gitu. Jadi semua keambil,” ujarnya.

Dari kisah Wayan, Komang, hingga Emi, tampak bahwa anak muda Bali saat ini tengah bernegosiasi dengan waktu dan prioritas. Di satu sisi, mereka ingin tetap terikat dengan akar tradisi, tetapi di sisi lain, tuntutan pendidikan dan pekerjaan membuat mereka harus menunda atau menyesuaikan bentuk keterlibatan mereka dalam kegiatan adat. Dilema inilah yang mencerminkan realitas generasi muda Bali untuk menemukan cara baru tetap terhubung di tengah perubahan zaman.

Sumber foto: Kresnanta
Tekanan dan Stigma: Antara Kesadaran Sosial dan Beban Psikologis

Secara umum, keanggotaan dalam Sekaa Teruna Teruni (STT) bersifat sukarela. Artinya, keikutsertaan seseorang ditentukan oleh kesadaran dan kemauan pribadi untuk ikut berkontribusi dalam kegiatan banjar. Namun dalam praktiknya, konsep “sukarela” ini sering kali berjalan berdampingan dengan tekanan sosial yang halus tapi nyata. Ada ekspektasi tidak tertulis bahwa setiap anggota harus hadir dan aktif, sebab kehadiran dianggap mencerminkan rasa hormat terhadap banjar dan masyarakatnya. Di sisi lain, ketidakhadiran justru bisa menimbulkan pandangan negatif, seolah tidak peduli dengan adat dan nilai kebersamaan. Fenomena ini sejalan dengan teori normative social influence dari Deutsch dan Gerard (1955), yang menyebutkan bahwa individu sering menyesuaikan perilaku mereka terhadap norma kelompok untuk menghindari penolakan sosial atau kecanggungan sosial. Dalam pengembangan selanjutnya, Cialdini dan Goldstein (2004) menekankan bahwa motivasi seseorang untuk berkonformitas tidak semata-mata berasal dari tekanan sosial eksternal, tetapi juga dari tiga dorongan psikologis utama, yakni keinginan untuk menjadi tepat (accuracy), diterima dalam masyarakat (belonging), dan menjaga citra diri yang positif (self-image).

Bagi sebagian anak muda Bali, tekanan sosial untuk hadir dalam kegiatan STT kadang muncul bukan karena keinginan tulus, melainkan karena takut pada stigma. Rasa malu, takut dianggap “tidak menghargai adat,” atau bahkan dicap sebagai generasi yang tidak tahu adat menjadi pemicu utama. Studi oleh Widiyasari (2019) juga menunjukkan bahwa rasa takut dikucilkan di lingkungan banjar menjadi faktor penting yang memengaruhi partisipasi pemuda dalam STT. Tekanan untuk mempertahankan citra baik di mata masyarakat, terutama di ruang sosial yang sangat erat seperti banjar, membuat banyak anak muda menekan kelelahan atau keterbatasan waktu demi memenuhi ekspektasi tersebut.

Perspektif menarik datang dari teori Labeling yang dikemukakan oleh Howard Becker (1963) dalam bukunya “Mind, Self and Society”. Teori ini menjelaskan bahwa seseorang bisa bertindak atau merasa sesuai dengan label yang diberikan masyarakat kepadanya. Dalam konteks ini, anak muda Bali yang dianggap “tidak aktif di banjar” bisa mendapat label negatif seperti malas ngayah atau tidak tahu adat. Label semacam ini perlahan membentuk tekanan batin, bahkan memengaruhi identitas sosial mereka. Tak jarang, rasa bersalah dan beban moral muncul hanya karena ketidakhadiran dalam kegiatan komunitas. Dengan kata lain, stigma sosial dapat menciptakan cognitive dissonance atau konflik individu yang timbul karena kesenjangan antara nilai budaya yang dipegang dan realitas hidup modern yang dijalani.

Selain faktor sosial, tekanan ekonomi juga memainkan peran besar. Banyak anggota STT kini merupakan mahasiswa atau pekerja muda yang hidup mandiri di luar rumah, dengan jadwal padat dan tuntutan finansial yang tinggi. Ketika kegiatan ngayah berbenturan dengan pekerjaan atau tanggung jawab akademik, muncul dilema moral antara memenuhi kebutuhan pribadi atau menjaga citra sosial. Alhasil tidak jarang modernitas telah mengubah cara pandang generasi muda dalam memaknai pengabdian budaya sebagai beban waktu dan biaya bagi mereka yang hidup dalam tekanan ekonomi.Pada akhirnya, fenomena tekanan sosial dan stigma ini memperlihatkan realitas baru dalam kehidupan anak muda Bali. Mereka hidup di tengah tarik-menarik antara ekspektasi tradisi dan realitas kontemporer. Dalam kacamata teori Erving Goffman (1963) dalam “The Presentation of Self in Everyday Life”, perilaku mereka bisa dimaknai sebagai bentuk impression management, usaha untuk tetap menampilkan citra “baik dan beradab” di depan masyarakat, meski di balik itu ada kelelahan yang tak terlihat. Ngayah atau menghadiri acara banjar, menjadi simbol bahwa mereka masih terhubung dengan akar budaya. Tapi di balik layar, banyak yang bergulat dengan rasa bersalah, keletihan, dan pertanyaan eksistensial tentang apa yang sebenarnya sedang mereka perjuangkan.

Sumber foto: Kresnanta

Bisakah Berjalan Beriringan?

Ketika kedua hal ini seakan berjalan berlawanan arah, apakah masih ada ruang untuk menyelaraskannya? Di sinilah kebutuhan keseimbangan antara loyalitas budaya dan kesejahteraan psikologis individu diperlukan. Dalam subjective well-being yang dikemukakan oleh Diener (1984), menjelaskan kesejahteraan seseorang tidak hanya bergantung pada faktor eksternal seperti status sosial atau ekonomi, tetapi juga pada sejauh mana individu mampu menemukan harmoni antara nilai-nilai pribadi dan lingkungan sosialnya. Ketika tekanan sosial dari komunitas adat atau pekerjaan dirasakan terlalu kuat tanpa ruang bagi ekspresi diri, keseimbangan ini dapat terganggu dan menimbulkan stres atau konflik batin. 

Lebih lanjut, teori Self-Determination menyoroti bahwa manusia membutuhkan tiga kebutuhan psikologis dasar untuk mencapai kesejahteraan optimal: autonomi/kemandirian, kompetensi, dan keterkaitan/ relasi sosial. Dalam konteks anak muda Bali, keseimbangan antara keterlibatan di STT dan pencapaian pribadi dapat terwujud ketika mereka merasa memiliki otonomi dalam memilih cara berpartisipasi, merasa kompeten dalam peran yang dijalankan, serta tetap memiliki hubungan yang hangat dengan komunitasnya. Artinya, pengabdian pada adat tidak harus meniadakan ambisi pribadi, selama kedua hal itu dijalani dengan kesadaran dan ruang saling memahami antara individu dan masyarakat. Kebahagiaan akan ditemukan ketika kebebasan absolut dari autonomi diperoleh, dimana individu akan merasa bahwa tindakan yang dilakukan merupakan hasil dari pilihan pribadi, bukan karena tekanan eksternal atau paksaan. 

Psikologi budaya modern juga melihat pentingnya cultural resilience atau kemampuan individu untuk tetap berpegang pada nilai budaya sambil beradaptasi terhadap perubahan sosial. Anak muda Bali yang belajar menyeimbangkan tanggung jawab adat dan kehidupan pribadi sedang mempraktikkan bentuk ketahanan budaya ini. Di satu sisi mereka tidak menolak tradisi, tetapi menegosiasikannya agar tetap relevan dengan konteks hidup masa kini. Pendekatan semacam ini tidak hanya menjaga keberlanjutan budaya, tetapi juga membangun generasi muda yang lebih sadar diri dan berdaya secara emosional.

Dalam praktiknya, keseimbangan itu mungkin berarti memberi ruang bagi fleksibilitas, misalnya sistem STT yang lebih terbuka terhadap jadwal dan kondisi anggota yang bekerja atau kuliah di luar daerah. Keseimbangan juga bisa tumbuh dari dialog lintas generasi antara tokoh adat dan anak muda, agar nilai pengabdian tidak dipahami sebagai keterpaksaan, melainkan sebagai wujud rasa memiliki yang lahir dari hati. 

Sumber foto: Kresnanta

Menjawab Hambatan Psikologis dan Budaya

Bagi sebagian anak muda seperti Komang dan Wayan, hambatan untuk aktif dalam kegiatan adat bukan hanya soal waktu, tetapi juga menyangkut faktor psikologis dan budaya sosial di lingkungan mereka. Keduanya mengaku merasa sulit berbaur karena kepribadian yang cenderung introvert dan adanya budaya “circle” yang kental dalam organisasi seperti STT.

Dalam konteks psikologis, kecenderungan introversion membuat seseorang lebih nyaman dalam situasi yang tenang dan interaksi yang mendalam, bukan dalam kelompok besar yang ramai. Menurut teori kepribadian Carl Jung, individu introvert cenderung menarik energi dari dalam diri, bukan dari interaksi sosial. Akibatnya, mereka lebih mudah merasa lelah atau canggung dalam lingkungan sosial baru yang penuh tekanan interaksi. Kondisi ini membuat partisipasi mereka dalam kegiatan komunal seperti STT menjadi tantangan tersendiri, apalagi jika suasananya didominasi oleh kelompok-kelompok kecil yang sudah saling mengenal.

Sementara dari sisi budaya, fenomena “circle” yang disebut Komang menunjukkan adanya bentuk eksklusivitas sosial yang tidak jarang muncul dalam komunitas adat maupun organisasi pemuda. Teori ingroup-outgroup dari Henri Tajfel (1979) menjelaskan bahwa manusia cenderung membentuk kelompok sosial (ingroup) yang memberikan rasa memiliki, sementara secara tidak sadar menutup jarak terhadap kelompok luar (outgroup). Dalam konteks STT, mereka yang sudah lama aktif biasanya memiliki ikatan kuat antarsesama anggota, sedangkan pendatang baru atau yang jarang hadir bisa merasa teralienasi.

“Yang kedua dari segi membahu. Bagaimana ketuanya ini bisa mengajak anggotanya itu biar gak circle-circle-an gitu. Kadang aku mikir juga, anggota yang lain gak dateng karena mereka itu enggan, gak punya teman di sana,” jelas Komang. 

Kondisi ini bukan hanya menimbulkan hambatan sosial, tetapi juga beban psikologis berupa rasa bersalah atau tidak diterima. Komang dan Wayan mengaku terkadang merasa enggan datang karena khawatir tidak punya teman dekat atau circle di organisasi. Namun di sisi lain, keduanya menunjukkan keinginan untuk tetap terlibat jika ada kesempatan dan ruang yang lebih terbuka.

“Cuma kadang aku mikirnya, ih enak ya ikut STT. Kalau ada apa-apa itu kayak odalan atau siwalatri, kadang kayak ngadain sebelum 17 agustus itu loh, terus yang jadi panitia itu kan yang ikut STT. Kayak lomba-lomba buat anak-anak. Ya kalau misalnya, aku kan gak ikut STT nih. Misalnya dia ada ngadain kegiatan organisasi gitu. Kalau aku dikasih kesempatan buat ikut, aku mau sih ikut. Juga biar nambah temen. (Biar) tau kalo oh ini si ini, saudaranya si ini. Biar kalau ada acara (bisa bantu),” ungkap Wayan.

Perlu disadari selain karena hambatan waktu dan kesibukan, kebutuhan akan rasa diterima (sense of belonging) menjadi motivasi anak muda untuk terlibat kembali dalam organisasi. Organisasi STT kini memiliki beberapa pekerjaan rumah penting agar tetap relevan dan inklusif bagi generasi muda. Pertama, STT perlu membangun sistem yang lebih fleksibel untuk menyesuaikan dengan kehidupan anak muda masa kini yang banyak merantau untuk kuliah atau bekerja. Kedua, STT perlu mulai menggunakan pendekatan psikologis terhadap anggota yang jarang hadir.

Tidak semua yang pasif berarti tidak peduli,  sebagian mungkin merasa malu, tidak percaya diri, atau sulit beradaptasi karena kepribadian yang berbeda. Dalam situasi seperti ini, pengurus atau anggota lainnya sebaiknya tidak langsung menegur atau menyindir, tetapi melakukan pendekatan yang lebih hangat dan personal. Ketiga, STT juga perlu menghapus budaya “circle” atau kelompok kecil yang membuat suasana organisasi terasa tertutup bagi anggota baru. Budaya ini sering menjadi alasan anak muda enggan terlibat karena merasa tidak punya tempat.

Pengurus juga harus memberi contoh dengan tidak hanya bergaul dengan teman dekat, tetapi aktif menyapa dan melibatkan anggota lain. Suasana yang terbuka dan inklusif akan menumbuhkan rasa kebersamaan yang lebih kuat. Terakhir, penting bagi STT untuk membangun kepercayaan melalui sikap profesional dan transparan. Kepercayaan anggota akan tumbuh jika organisasi dikelola dengan jujur dan terbuka. Laporan keuangan, hasil rapat, dan pembagian tanggung jawab apapun sebaiknya disampaikan secara jelas kepada semua anggota. Keputusan pun diambil melalui musyawarah bersama. Ketika anggota merasa dilibatkan dan dihargai, mereka akan lebih semangat berpartisipasi. 

Pada akhirnya, menjaga keseimbangan antara nilai budaya dan kesejahteraan diri bukanlah hal yang mudah, tetapi menjadi tantangan penting bagi generasi muda Bali saat ini. Menjadi bagian dari STT, ngayah di pura, atau sekadar berkontribusi dari jauh bukan hanya soal kewajiban adat, tetapi juga wujud dari rasa memiliki terhadap identitas budaya. Namun di saat yang sama, mereka juga perlu diberi ruang untuk tumbuh secara pribadi sesuai keahliannya, mengejar pendidikan, dan membangun masa depan. 

grenetwork.org shortlybusiness.com sangkarbet
Tags: anak muda baliBanjarbudaya baliDesaAdatORGANISASIDAERAHPEMUDABALISTT
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Gita Andari

Gita Andari

Related Posts

Banten bukan Beban Perempuan, Laki-Laki Juga Punya Peran

Paradoks Identitas Sekaa Teruna Teruni di Bali

21 February 2026
Anak Muda Intaran Sanur Mengubah Wajah Desa Adat

Anak Muda Intaran Sanur Mengubah Wajah Desa Adat

24 September 2025
Sanur Masa Depan dari Warga Sanur

Anak Muda Sanur dalam Penguatan Identitas Adat, Pariwisata, dan Ekonomi Lokal di Bali

23 September 2025
Menyemai Harapan Kota Melalui Suara Anak Muda di Youth City Fora

Menyemai Harapan Kota Melalui Suara Anak Muda di Youth City Fora

5 September 2025
Disabel Melawan Keterbatasan dengan Pertunjukan

Agar Suara Teruna Teruni, Forum Ibu PKK, dan Difabel tak Sekadar Formalitas

11 December 2024
Mencari Capung Terakhir

Berdamai dengan Perubahan di Bali

30 October 2023
Next Post
Platform Digital untuk Tata Kelola Rantai Pasok Beras di Bali

Platform Digital untuk Tata Kelola Rantai Pasok Beras di Bali

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Perspektif Disabilitas Netra untuk Ruang Jalan Inklusif di Bali

Perspektif Disabilitas Netra untuk Ruang Jalan Inklusif di Bali

15 March 2026
Benteng Terakhir Ruang Terbuka Hijau Kota adalah Kuburan

Benteng Terakhir Ruang Terbuka Hijau Kota adalah Kuburan

11 March 2026
Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

10 March 2026
Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

8 March 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia