
Ubud, sebuah desa tua yang dikenal dengan sejarah panjangnya. Ubud dikenal sebagai desa yang tenang, jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Di masa lalu, Ubud merupakan tempat mencapai kesucian dan mendapatkan kesehatan jiwa. Ini tercermin dari sumber-sumber mata air yang tersebar di beberapa titik.
Dalam perjalanannya, Ubud berkembang menjadi satu pusat kekuasaan penting di abad 19 dengan hadirnya para tokoh-tokoh penting, salah satunya Cokorda Gede Sukawati. Dari Cokorda Gede Sukawati, muncul talenta-talenta lain yang mengisi peran penting perkembangan Ubud.
Interaksi global antara Ubud dengan negara lain mulai muncul sejak pembentukan Pita Maha, gerakan dan perkumpulan seni rupa Bali yang didirikan tahun 1936. Dimulai dari Pita Maha, sejumlah seniman Ubud berhasil mementaskan karya seninya di Paris. Ubud pun semakin dikenal dan ketertarikan global terhadap Ubud mulai terjadi.
Ari Dwipayana dari Puri Kauhan Ubud menyebutkan kedatangan orang-orang ternama membuka jalan Ubud sebagai sebuah desa kosmopolitan. “Modernitas itu diterima kembali di Ubud sekitar tahun 1970-an,” ujar Ari.
Kehadiran ekspatriat dan wisatawan membuat warga mengalihfungsikan rumahnya menjadi homestay atau rumah singgah. “Sehingga konsep homestay menjadi konsep penting di Ubud,” tutur Ari. Konsep homestay membuat rumah-rumah di Ubud berkembang, toilet mulai dibuat, hospitality pun mulai diperkenalkan.
Selanjutnya dan hingga kini Ubud mengenalkan mass tourism. Wisatawan banyak muncul, sedangkan homestay tak lagi cukup menampung. Akhirnya, hotel dan vila bermunculan. Pada tahun 1980-an muncul Yayasan Bina Wisata, sebuah yayasan yang memberikan edukasi dan informasi kepada wisatawan.
Namun, saat ini Ubud berhadapan dengan masalah baru. “Kemacetan, yang kedua soal sampah, yang kemudian juga ada persoalan terkait dengan interaksi karena sekarang ada enclave (daerah kantong) baru, misalnya turis kan dia punya satu enclave tersendiri,” terang Ari. Banyak pula para digital nomad (pekerja jarak jauh) yang menetap di Ubud.
Perkembangan pariwisata ini yang membuat Ubud mengalami berbagai masalah, seperti masalah macet, sampah, dan ekonomi. Macet merupakan masalah yang paling sering dikeluhkan warga Ubud. Volume kendaraan yang melintas membludak, sedangkan jalan di Ubud ukurannya sempit.
Daripada melakukan pelebaran jalan, Ari lebih setuju dengan penambahan kantong parkir di beberapa titik. “Dan juga larangan, misalnya mungkin dilakukan sebuah upaya untuk mengatur transportasi online,” jelas Ari. Kantong parkir ini nantinya tidak hanya dimanfaatkan oleh wisatawan yang datang ke Ubud, tetapi juga masyarakat Ubud yang tidak lagi memiliki garasi mobil di rumahnya.
Hal ini tengah dilakukan oleh Desa Padangtegal, sebuah desa adat di Ubud. Saat ini, Desa Padangtegal sudah memiliki kantong parkir bertingkat di Monkey Forest. Nantinya, sepanjang Desa Padangtegal akan bebas parkir. Parkir diarahkan di Monkey Forest dan satu kantong parkir yang tengah dibangun.
Bendesa Adat Padangtegal, I Made Parmita, juga menyebutkan rencana pengadaan shuttle oleh Desa Padangtegal. Shuttle ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 2018, tetapi berhenti beroperasi karena Covid-19 pada tahun 2020. Shuttle diperuntukkan bagi siapa pun, bukan hanya wisatawan. “Jadi mungkin ke depan kita pikirkan shelter-shelter-nya,” ujar Parmita.
Dibanding melakukan pelebaran jalan untuk mengatasi kemacetan, Desa Padangtegal justru melakukan pelebaran trotoar. Sebagian trotoar di Jalan Sugriwa telah dilebarkan menjadi 800 meter dan rencananya akan dilebarkan lagi menjadi 1.20 meter. “Dan di beberapa tempat kita setiap 40 meter ada loading zone. Jadi mereka bisa nurunin penumpang di sana,” jelas Parmita. Pelebaran trotoar dilakukan dengan memotong lebar jalan, sehingga warung-warung di pinggir jalan tidak terdampak.
Saat ini sepanjang Jalan Sugriwa hanya dilalui kendaraan satu arah untuk mencegah kemacetan dan penumpukan kendaraan. Hal ini dilakukan Desa Padangtegal agar orang-orang lebih nyaman berjalan, sehingga secara tidak langsung juga meningkatkan perekonomian warga sekitar yang berjualan di pinggir jalan.
Desa Padangtegal memang sudah berencana memperbaiki beberapa hal. Namun, Parmita menyebutkan bahwa pemahaman warga belum bisa menerima beberapa perubahan tersebut. Ia juga menjelaskan perlu adanya sinergi antar desa-desa yang ada di Ubud. “Harus bareng-bareng gitu. Jadi sinergi itu yang penting,” ujar Parmita.
Selain masalah kemacetan, Ari juga menyoroti pelayanan publik di Ubud. Ia menyinggung Lapangan Astina Ubud yang saat ini dialihfungsikan menjadi tempat parkir. Di depan Lapangan Astina Ubud juga terdapat Sekolah Dasar (SD). “Harusnya dibuatkan satu tempat khusus, misalnya center untuk sekolah, untuk kesehatan,” terang Ari.
Bukan hanya pelayanan publik, ruang publik di Ubud juga kurang, termasuk ruang terbuka hijau. Tak dapat dipungkiri, di beberapa kawasan ramai wisatawan, beberapa masyarakat Ubud menjual tanahnya ke orang asing. Akhirnya, tanah tersebut berganti menjadi hotel, vila, dan akomodasi pariwisata lainnya.
Salah satu ide yang terpikirkan oleh Ari adalah membuat bank tanah. Pemerintah bisa membeli tanah-tanah warga untuk mencegah mereka menjual tanahnya ke orang asing. “Sehingga nanti bisa digunakan untuk kepentingan masyarakat. Uangnya jangan digunakan untuk bansos saja, gunakan untuk membangun investasi pelayanan publik,” jelas Ari.
Terlepas dari salah satu kawasan ramai wisatawan, masyarakat Ubud juga membutuhkan ruang untuk beraktivitas, seperti berolahraga maupun berkumpul. Bukan hanya kualitas pariwisata yang dijaga, tetapi juga kualitas hidup masyarakat Ubud itu sendiri.
legianbet legianbet legianbet kampungbet










