
Hari itu, iringan jempana dan barong datang dari Desa Banjarangkan ke Pantai Lepang. Iringan masyarakat yang datang duduk di atas pasir hitam. Dalam hitungan menit, ruang kosong di depan wantilan Pantai Lepang dipenuhi para pemedek.
Masyarakat Desa Banjarangkan melaksanakan upacara Melasti, upacara adat tahunan yang dilakukan sebelum Tilem Kesanga. Upacara ini ditujukan untuk menyucikan diri (Bhuana Alit) dan alam semesta (Bhuana Agung) dari kotoran. Proses penyucian dilakukan di sumber air, baik itu danau maupun pantai.
Ketika Melasti berlangsung, iringan jempana dan barong biasanya menyentuh pasir dan air sebagai proses penyucian. Namun, Melasti yang dilakukan oleh masyarakat Desa Banjarangkan kali itu terasa berbeda.
I Nengah Sumerta, salah satu masyarakat Desa Banjarangkan, puluhan tahun mempertanyakan lokasi Melasti desanya. Sebelum Pantai Lepang, Desa Banjarangkan melakukan Melasti di Pantai Tegal Besar.
Dalam ingatan Sumerta, Melasti di desanya dilakukan di Pantai Tegal Besar selama bertahun-tahun. Ia masih ingat ketika sebuah bangunan tiba-tiba berdiri di lokasi upacara Melasti biasanya berlangsung.
Ingatan Sumerta tidak merekam jelas tahun berapa bangunan tersebut berdiri. Namun, ketika ditelusuri dari satelit Google Earth, bangunan yang disebutkan oleh Sumerta telah berdiri sebelum tahun 2003. Pada tahun 2003, bangunan tersebut satu-satunya bangunan di sepanjang Pantai Siyut hingga Pantai Lepang. Sisanya merupakan lahan sawah dan perkebunan milik warga. Pada saat itu pun belum ada bangunan penahan gelombang seperti yang saat ini ada di Pantai Tegal Besar.
Pada tahun 2005, bangunan lain mulai menjamur di sekitar Pantai Tegal Besar. Sumerta pun merasakan upacara Melasti desanya mulai terhimpit bangunan. Bukan hanya terhimpit bangunan, Melasti desanya terancam oleh perubahan garis pantai di Pantai Tegal Besar.
Ada dua perubahan yang bisa terjadi di wilayah pesisir, yaitu penambahan daratan oleh tumpukan material (akresi) atau pengikisan daratan oleh air laut (erosi/abrasi). Studi Laju Perubahan Garis Pantai di Pesisir Tenggara Bali Menggunakan Citra Satelit Landsat oleh INJ Nugraha dkk. meneliti dua wilayah pesisir tenggara Bali, yaitu Gianyar dan Klungkung dalam kurun waktu 20 tahun.
Selama periode waktu 20 tahun, dari tahun 1995 hingga 2015, pesisir Gianyar lebih banyak mengalami akresi, seperti di Desa Keramas dan Medahan. Perubahan garis pantai akibat erosi di Kabupaten Gianyar justru terjadi di wilayah yang berbatasan dengan Kabupaten Klungkung. Desa Takmung, lokasi Pantai Lepang berada, dan Desa Negari merupakan wilayah yang paling luas mengalami erosi. Penelitian ini menemukan bahwa Pantai Tegal Besar yang berada di pesisir Desa Negari mengalami laju pengikisan paling tinggi mencapai 3,09 meter per tahun.
Pengikisan garis pantai membuat pemerintah berinisiatif membangun tanggung pengaman pantai berupa batuan miring atau revetment. Pembangunan tersebut dilakukan pada tahun 2019. Namun, revetment pantai yang dibangun di sekeliling vila Pantai Tegal Besar tak mampu menahan kuatnya gelombang ombak. Revetment malah memperparah abrasi dan erosi pantai di sebelahnya. Ruang untuk Melasti pun habis, tidak ada lagi tempat untuk sembahyang dan meletakkan banten.
Ketika ruang untuk Melasti tak lagi ada di Pantai Tegal Besar, Desa Banjarangkan pun berpindah ke Pantai Lepang. “Kita kayak jadi tontonan,” kata Sumerta mengingat Melasti yang dilaksanakan bulan Maret lalu di Pantai Lepang.
Tepat di Pantai Lepang berdiri sebuah resort di atas lahan 3 hektar. Resort tersebut menghadap ke pantai dan memiliki halaman rumput yang berdempetan dengan revetment pantai. Halaman rumput tersebut lebih tinggi daripada halaman tempat Melasti berlangsung.


Sumerta pun keheranan melihat fenomena tersebut. “Kita (pemedek) duduk di bawah, orang ngegong, orang pesantian, mangku di bawah, mereka (penghuni resort) di atas,” kata Sumerta. Kejadian tersebut ia ibaratkan sebagai gladiator yang bertarung mati-matian dengan pengikisan daratan pantai, sedangkan di atasnya berdiri penghuni resort sembari memegang gelas dan menjadikan para iringan Melasti tontonan.
“Masih menjadi pertanyaan apa karena dia investor besar jadi dia berhak menggunakan sempadan pantai? Karena saya mikir, kenapa kita nggak Melasti di sana aja? Kan tempatnya “lebih terhormat” gitu, lebih di atas tempatnya,” jelas Sumerta mengutarakan keheranannya.
Bukan hanya permasalahan ketinggian daratan, halaman resort tersebut pun seakan tidak boleh dimasuki karena dipasang pagar bambu. Padahal, menurut Sumerta, halaman tersebut merupakan hak publik karena termasuk sempadan pantai.
Sama seperti di Pantai Tegal Besar, Studi Laju Perubahan Garis Pantai di Pesisir Tenggara Bali Menggunakan Citra Satelit Landsat juga menemukan erosi tertinggi Pantai Lepang di Desa Takmung mencapai 2,17 meter per tahun. Dalam kurun waktu 20 tahun, Desa Takmung setidaknya kehilangan daratan akibat erosi kurang lebih 2,73 hektar, hampir setengah luas Lapangan Puputan Badung.
Di saat erosi berlangsung, pesisir Pantai Lepang justru dibangun resort besar dengan kolam renang luas. Dilihat dari satelit Google Earth, pembangunan resort diperkirakan dimulai antara tahun 2013 atau 2014.
Sama seperti dua bangunan vila di Pantai Tegal Besar, wilayah resort di Pantai Lepang pun menempel dengan revetment. Sebelum revetment dibangun, pantai seharusnya memiliki sempadan. Sempadan pantai merupakan zona atau batas wilayah di sepanjang tepi pantai yang dilindungi dan tidak boleh dimanfaatkan sembarangan.
Dalam Undang-undang Nomor 27 Tahun 2007 dan aturan perubahannya, sempadan pantai ditetapkan minimal 100 meter dari garis pasang tertinggi ke arah darat. Namun, ketika dihitung dari Google Earth, jarak bangunan resort di Pantai Lepang pada beberapa periode tahun 2014 sekitar 59 meter dari garis air. Angka ini berada di bawah ketentuan sempadan pantai 100 meter. Meski begitu, perlu dilakukan verifikasi data pasang tertinggi dan pengukuran geospasial.
Dalam beberapa tahun ke depan, Sumerta mempertanyakan akan berapa kali Melasti di desanya berpindah-pindah tempat. “Bahkan ke Pantai Siyut kami pernah, daerah tetangga loh itu,” kata Sumerta sambil tertawa miris. Pengikisan pantai akibat abrasi dan erosi tidak lagi menjadi alasan tunggal. Kini, Melasti pun terhimpit bangunan atas nama pariwisata.
sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet










![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)