
Nangkil ke Pura Besakih menjadi agenda tahunan bagi saya dan umat Hindu di Bali lainnya. Persembahyangan umat Hindu ke Pura Besakih berlangsung tiap Karya Ida Bhatara Turun Kabeh (IBTK), dilaksanakan setiap setahun sekali pada Purnama Sasih Kadasa. Dalam periode tersebut, umat Hindu akan berbondong-bondong menuju Pura Besakih untuk sembahyang. Upacara tahunan ini biasanya berlangsung selama sebulan penuh.
Ketaatan masyarakat Bali terhadap agama, tradisi, dan budaya tidak perlu diragukan lagi. Namun, di tengah ketaatan tersebut, ada satu hal yang mengganjal, kenapa pemedek membuang sampah sembarangan setelah mendekatkan diri kepada Tuhan?
Sejak tahun 2023, Pemerintah Provinsi Bali mengeluarkan larangan penggunaan plastik sekali pakai di kawasan Pura Besakih melalui Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 03/2023 tentang Tatanan Baru bagi Pemedek/Pengunjung saat Memasuki dan Berada di Kawasan Suci Pura Agung Besakih selama Pelaksanaan Karya Ida Bhatara Turun Kabeh.
Selain larangan membawa plastik sekali pakai untuk pemedek, aturan ini juga melarang penggunaan tas kresek, pipet plastik, styrofoam, dan produk plastik sekali pakai lainnya untuk pelaku UMKM di area Pura Besakih.
Jika dihitung dari tahun 2023, setidaknya larangan tersebut sudah berlangsung selama empat tahun. Berbagai hal pun dilakukan untuk mencegah masyarakat membuang sampah sembarangan, salah satunya adalah pemeriksaan barang bawaan.
Tahun lalu, saya menjadi satu dari sekian orang yang diperiksa barang bawaannya. Tas kresek yang di dalamnya membungkus dua keben pun disimpan oleh petugas. Namun, isi di dalam tas maupun keben tidak diperiksa. Tahun ini, beberapa waktu lalu, saya tidak menjumpai petugas yang memeriksa barang bawaan. Padahal, di beberapa unggahan media sosial disampaikan bahwa pemedek akan diperiksa barang bawaannya.
Sayangnya, aturan sepertinya hanya sekadar kalimat yang ditulis di atas kertas putih. Sampah berserakan di area utama Pura Besakih, bukan hanya sampah bekas persembahyangan, tetapi juga sampah plastik bungkus makanan. Sore menuju malam sekitar pukul 18:00 WITA, pemedek masih ramai. Pemedek berdesakan masuk ke area pura, datang dari berbagai sudut usai sembahyang di Kawitan masing-masing. Hari itu (08/04) hujan turun dengan intensitas ringan. Genangan air membuat sampah-sampah yang ditinggalkan oleh pemedek terbawa arus dan menciptakan tumpukan sampah baru.
Ketika tempat kosong untuk bersimpuh tak tersedia, para pemedek mau tak mau menduduki tumpukan sampah yang basah tercampur air. Sisa canang bekas persembahyangan, bunga, dupa, bungkus permen, tas kresek, plastik kemasan makanan, hingga uang koin pun bercampur menjadi satu di depan tempat pemedek bersimpuh dan bersila.
Tumpukan sampah tak hanya ada di satu titik, tetapi di berbagai tempat yang jauh dari tempat sampah. Padahal, berbagai imbauan untuk membawa sampah bekas sembahyang sudah ditempel di berbagai sudut. Namun, para pemedek tampaknya sibuk dengan urusan spiritualnya hingga abai dengan sampah yang dibawa dari rumah.
Dalam unggahannya di Instagram, Sugi Lanus menulis mengenai petunjuk leluhur Bali tentang sampah. Lontar pedoman Kepemangkuan Sangkul Putih dan Kusumadewa menyebutkan pembersihan Sekala (dunia yang terlihat) dilakukan terlebih dulu sebelum ke Niskala (spiritual). Artinya, pembersihan secara fisik, termasuk membersihkan sampah yang terlihat, dilakukan terlebih dulu sebelum melakukan persembahyangan.
Sugi Lanus pun menyoroti pesan dalam Pupuh Ginada yang diwarisi bertahun-tahun. “Dari Pupuh tersebut kita menggali bahwa leluhur Bali berpesan bahwa sebelum menata rohani, menata pikiran, dimulai dari palemahan dengan bersih dari luhu (sampah). Tahu mengatur kebersihan adalah pokok pembelajaran hidup leluhur Bali,” tulisnya.
Jika dilihat dari pesan leluhur tersebut, masyarakat Bali tampaknya belum mampu mewarisi petunjuk leluhur Bali tentang sampah. Permasalahan sampah tak hanya menjadi urusan rumah tangga, tetapi juga berkaitan dengan spiritualitas.
Datang ke pura seharusnya menjadi bentuk bhakti dan upaya menyucikan diri. Namun, melihat kondisi saat ini, praktik spiritual yang berlandaskan konsep Tri Hita Karana justru menjadi kontradiktif. Kesadaran spiritual bukan semata-mata datang ke pura, tetapi juga tercermin dari cara memperlakukan lingkungan.
sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet










