
Pada perhelatan Singaraja Literary Festival 2026, Stri Sasana menjadi tema utama. Tema ini yang membawa sejumlah forum diskusi membahas perempuan, baik itu dalam kehidupan secara keseluruhan maupun dalam dunia sastrawi.
Namun, apa yang terjadi ketika forum diskusi yang membahas suara hati perempuan dibawakan oleh laki-laki? Pertanyaan ini langsung terjawab pada forum diskusi panelis yang diadakan oleh Singaraja Literary Festival 2026 yang bertajuk Suara Hati Perempuan dalam Narasi Indonesia pada Minggu, 5 Juli 2026.
Seolah menyindir diskusi itu, Kalis Mardiasih mengatakan, perempuan selalu dijadikan tokenisme, sebuah upaya simbolis. “Ada satu perempuan yang dilibatkan sebagai narasumber. Narasumber itu, bukan karena menganggap perspektif perempuan itu penting, dan kehadiran perempuan itu penting, tapi kayak ‘oh puas loh udah loh udah diganti ini loh,’ kayak gitu. Nah itu tuh kejadiannya tuh sekarang seperti itu levelnya gitu,” tuturnya.
Hari itu, Kalis Mardiasih merupakan satu-satunya perempuan dalam diskusi tersebut. Di sebelahnya ada dua laki-laki yang akan berbicara tentang perempuan, Andre Syahreza dan Jengki Sunarta.
Asimetri dalam diskusi
Kalis Mardiasih merupakan aktivis dan juga penulis—bukunya yang berjudul Luka-Luka Lini Masa. Di sisi kirinya ada Andre Syahreza, jurnalis dan novelis yang tahun lalu menerbitkan reinterpretasi Sukreni Gadis Bali. Sementara, Jengki Sunarta merupakan cerpenis dan penyair Bali yang telah menulis tokoh-tokoh perempuan sejak awal 2000-an.
Meskipun komposisi ini dapat dijustifikasi, seperti sebut Jengki Sunarta. “Ini sebenarnya diskusi yang diplomatis bagi saya,” katanya, tapi yang terjadi selama diskusi yang berangsur dua jam itu memperlihatkan suatu ketidakseimbangan.
Kalis bicara dari pengalaman tubuh perempuan. Ia bercerita tentang vaginismus—kondisi yang ia baru pahami setelah lebih dari tiga dekade hidup sebagai perempuan, ketika sahabatnya mengaku tidak bisa berhubungan seksual bertahun-tahun setelah menikah.
Ketika Kalis mencoba untuk memberi gambaran mengenai rasa sakit sahabatnya, dengan kondisi vaginismusnya, ia gagal. “Aku yang sesama punya vagina aja enggak bisa menakar seberapa sakitnya,” ujarnya. Ia lalu menarik pembahasan perempuan vaginismus itu ke kitab klasik yang menyebut perempuan vaginismus boleh diceraikan atau dipoligami, lalu ke terapi vaginismus yang sangat mahal dan tidak dibiayai oleh BPJS, hingga ke kebijakan negara atas kesehatan perempuan.
Kalis pula bicara mengenai motivasi di balik aktivitas menulisnya di Instagram dengan tagar mencatat pengalaman perempuan, tepat ketika gelombang hijrah dan konservatisme Islam sedang masifnya.
Kalis bercerita bahwa teman-temannya sendiri keluar dari pekerjaan bagus—staff kementrian dan perusahaan—setelah dikirimi tautan ceramah yang mengatakan bahwa tempat terbaik bagi perempuan adalah di dalam rumah. “Bahkan di pojok paling belakang rumah,” tuturnya. Seorang temannya yang dokter tidak melanjutkan koas karena video ceramah YouTube yang menyebut pekerjaan yang mempertemukan perempuan dengan lawan jenis itu berbahaya.
Ada banyak poin yang Kalis sebutkan—dari bagaimana ada akun-akun dakwah beradmin laki-laki yang sibuk mendefinisikan perempuan muslimah ideal, bagaimana peran perempuan di ruang publik, bagaimana respons dirinya dalam menghadapi fenomena tersebut, hingga perihal bagaimana peran media sosial dalam pengesahan Undang-undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual.
Sementara itu, di tengah-tengah pembicaraan Kalis yang mengutarakan suara hati perempuan dalam narasi indonesia, kedua narasumber laki-laki berbicara mengenai “bagaimana menuliskannya.”
Strategi kedua narasumber laki-laki

Kedua narasumber laki-laki tersebut mencoba untuk menegosiasi posisinya dalam diskusi.
Posisi netral Andre terlihat ketika ia mengakui sudut pandangnya saat menulis ulang Sukreni—novel Anak Agung Pandji Tisna dari tahun 1930-an yang tokoh perempuannya mengalami represi patriarki hingga pemerkosaan—sama sekali tidak bertolak dari pertimbangan gender. Ia menekankan sudut pandang atau motivasi yang melatarbelakangi karyanya.
“Point of view saya bermuara pada pendekatan artistik,” sebutnya. Lalu melanjutkan, “Bagaimana karya berusia 90 tahun bisa dibahasakan hari ini.” Ia pula menekankan penggunaan sudut pandang gender yang setara. “Saya anggap kedua gender ini equal saja,” sebutnya.
Andre baru mendapatkan kesadaran feminismenya melalui editorial, ketika Andre mengumpamakan tokoh perempuan seperti cappucino. “Jadi, saya ikutin (isu feminisme) bukan karena saya sering ngikutin isu, tapi saya belajar dari mereka bahwa ya ini berarti titik-titik sensitif hari ini mengenai isu keperempuanan,” tuturnya.
Dibalik netralitas Andre, Jengki Sunarta memperluas peta korban. Setelah dirinya membentangkan arsip cerpen-cerpennya yang membahas mengenai perempuan—Ratih si pemandu wisata yang ditampar suami pencemburu, Rastiti yang memalsukan kehamilan, perempuan karir yang dinikahkan dengan keris karena calon suaminya mangkir dari nyentana—ia mengingatkan bahwa laki-laki bisa menjadi korban perempuan. Ia menyebut pengalaman patah hatinya dalam kisah cintanya sendiri, om yang “di bawah kaki istrinya,” dan neneknya yang merundung ibunya karena berdarah Tionghoa. “Selama ini persoalan gender seolah-olah perempuan melulu jadi korban patriarki,” keluhnya.
Dalam merespons pembicaraan tersebut, tanpa menunjuk siapa pun, Kalis menekankan bahwa feminisme yang ia pahami adalah perlawanan terhadap sistem penindasan atas perempuan dan kelompok rentan lainnya—bukan sebagai pengelompokan korban, layaknya disebut Jengki Sunarta. “Penindasannya itu sistem, dan solidaritas yang kita bangun juga bersama-sama melawan sistem,” ujarnya.
Kalis lalu menggambarkan cara kerja sistem patriarki dalam ranah kepenulisan—tulisan laki-laki selalu tentang perang, politik, dan ekonomi dianggap berdampak bagi peradaban, sementara perempuan yang menulis tentang tubuhnya dan lokus domestiknya dicap cengeng. “Tidak keluar dari dirinya sendiri dan bangunan rumahnya,” tuturnya.
Kalis menambahkan bahwa ketika tidak adanya tulisan perempuan yang seperti itu, penindasan patriarki bisa berlangsung berabad-abad—seperti karya-karya tentang raja-raja yang membahasakan budak seksual sebagai selir.
Perempuan Bali dan perempuan disabilitas

Seorang perempuan Bali yang berasal dari Singaraja mempertanyakan sebuah pertanyaan yang tak terjamah dalam diskusi.
Perempuan Bali-Singaraja itu mengangkat persoalan perihal beban ganda perempuan Bali hari ini. Perempuan Bali dituntut ahli di ranah domestik—seperti memasak, mebanten, bersosialisasi di banjar—sekaligus dituntut bekerja untuk membantu finansial keluarga. Meski di tengah-tengah tanggung jawab ganda, perempuan Bali di ranah pengambilan keputusan yang krusial, seperti halnya kepala desa atau kelian adat, sangat absen. Ceritanya merupakan kebalikan dari perempuan muslim yang diceritakan oleh Kalis—perempuan muslim tak memiliki pilihan selain tinggal di rumah, perempuan Bali justru harus bisa keduanya.
Perempuan itu kemudian meminta pandangan para narasumber, dan mengarahkannya ke Kalis Mardiasih, mengenai fenomena yang dialami oleh para calon menantu di Bali.
Begitupula perempuan Bali lainnya yang bertanya perihal kondisi feminisme saat ini kaitannya dengan patriarki—apakah perempuan harus berdamai atau melawan patriarki? Lalu mengarahkan pertanyaan lagi ke Kalis Mardiasih.
Dan seorang dari pewakilan DPC HWDI Singaraja turut berpatisipasi dalam diskusi dengan bertanya bagaimana cara untuk menjadi perempuan yang ideal.
Sebuah ironi ganda yang dirasakan pada diskusi panel yang berlangsung: pertanyaan pengalaman perempuan Bali hanya bisa ditunjuk ke Kalis Mardiasih yang merupakan seorang perempuan kelahiran Jawa.
Dari sini, kesadaran akan gender belum menyeluruh
Seperti Andre Syahreza sempat menyebut gerakan genderless sebagai suatu yang “setingkat di atas feminisme” —tahap yang menurutnya dicapai masyarakat yang menamatkan feminismenya, dimana orang tak lagi membahas pembukuan gender. Jengki Sunarta, menolak menyebut dirinya sebagai feminis, walaupun dirinya menyebut sering menjadi support system teman-teman perempuannya dan meski dua dekade karyanya membahas perempuan. Membuktikan kesadaran akan feminisme, bahkan di forum yang membicarakannya, belum menyeluruh.
Definisi yang Kalis sebutkan pada diskusi itu menjadi pembukti. Feminisme yang ia pahami adalah pengenalan bahwa ada satu sistem penindasan terhadap perempuan dan kelompok rentan lainnya, dan bahwa perlawanannya harus dibangun bersama-sama.
Dari definisi Kalis, pendapat Andre agak berbeda. Feminisme dan genderless pada dasarnya mengusahakan hal yang sama—dunia tanpa hierarki berbasis gender dan keduanya tidak layak disusun bertingkat. Genderless bukanlah gerakan yang berdiri “di atas” feminisme, melainkan gambaran kondisi yang diperjuangkan feminisme itu sendiri. Menyebutnya setingkat lebih tinggi berarti mengira kondisi akhir bisa diduduki lebih dulu, selagi sistem penindasannya masih bekerja.
Penolakan Jengki atas label feminis pun sama—memperlakukan feminisme sebagai perempuan melawan laki-laki, alih-alih sebagai gerakan yang melawan sistem yang menindas perempuan.
Penutup akhir
Kalis berpesan bagaikan respons pernyataan sebelumnya tentang “bukan berarti perempuan benar-benar tertindas,” ia menyebutkan bahwa “Jangan takut dengan pengalaman kita yang paling otentik sebagai perempuan. Karena yang otentik itu aja jarang ditulis. Perempuan, katanya, terbiasa ditekan ekspresinya—sedih tak boleh terlihat, bahagia pun tak boleh terlihat,” sebutnya
Panel ini menjadi bukti bahwa suara perempuan masih harus meminjam panggung yang mayoritas kursinya diduduki orang lain. Kesadaran gender tidak hanya secara spesifik dimiliki oleh Gen Z, semua generasi pun bisa dan harus memiliki kesadaran gender.
Diskusi ini merupakan pekerjaan rumah sejumlah festival dan kegiatan lain, posisi (perempuan) yang diisi agar tidak “puas loh,” seperti tutur Kalis Mardiasih.










