• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, December 16, 2025
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup Buku

Telinga yang Tidak Dijual di Pasar Saham: Perempuan Antara Karir dan Domestik

I Gusti Ayu Septiari by I Gusti Ayu Septiari
23 October 2025
in Buku, Gaya Hidup, Kabar Baru
0 0
0
Diskusi buku Telinga yang Tidak Dijual di Pasar Saham (10/10)

Taman Baca Kesiman (TBK) hari itu (10/10) meluangkan waktu untuk buka lebih lama. Semakin malam, semakin banyak orang-orang berdatangan. Sore menjelang malam itu dilaksanakan bincang dan diskusi buku bertajuk Telinga yang Tidak Dijual di Pasar Saham karya Annisa Resmana.

Hati sedikit tergelitik mendengar judul tersebut. Bertanya-tanya apakah buku tersebut membahas tentang investasi. Namun, Annisa Resmana justru memberikan judul tersebut untuk kumpulan puisinya.

Annisa merupakan perempuan asal Bandung yang sempat berkarir di korporat, sebelum terbelenggu dengan tugas-tugas domestk. Telinga yang Tidak Dijual di Pasar Saham (selanjutnya disingkat TYTDDPS) merupakan buku perdana Annisa yang bukan sekadar kumpulan puisi, tetapi juga dokumen perjalanannya ketika berkutat antara karir dan domestik. Buku ini memuat 78 puisi dengan tiga bab berbeda.

Namanya dulu disebut dengan nada datar dalam rapat yang padat.
Di mana perempuan dihitung bukan dari isi kepalanya, tapi berapa cepat bisa menghapus air mata.

TYTDDS, halaman 7

Diskusi buku TYTDDPS menghadirkan penulis Annisa Resmana serta dua pembahas, yaitu Wayan Jengki Sunarta dan Ni Nyoman Ayu Suciartini. Annisa membuka diskusi dengan menjelaskan sekilas isi bukunya yang membahas tentang isu sosial, politik, budaya, ekonomi, ketimpangan, dan suara yang dibisukan.

Annisa menulis TYTDDPS ketika sudah menyandang status sebagai istri, sehingga memunculkan bait-bait tentang perempuan dan multiperannya. Kata telinga dalam judul dipilih untuk menggambarkan fungsi telinga sebagai pendengar dan penampung curahan hati. Ketika menjadi seorang istri dan ibu, Annisa banyak mendengar cerita-cerita tentang ibu lainnya, sehingga menimbulkan empati yang berproses menjadi sebuah karya puisi.

“Dan kenapa pasar saham? Simple sebenarnya… Dunia itu sudah sangat statistik, di pasar saham kayak trade-nya hijau naik, merah turun. Dunia ini sangat angka, sehingga pada akhirnya kehilangan sejatinya manusia itu apa,” ujar Annisa.

Puisi Annisa dalam TYTDDPS dikritisi oleh Suci, seorang dosen dan peneliti yang banyak berkontribusi pada bidang literasi. Sebagai seorang perempuan, Suci mengaku terhubung dengan tiap bait dalam puisi TYTDDPS. “Ketika membaca halaman satu, oh saya pernah mendengar ini. Kemudian membaca halaman yang lain, saya pernah merasakan ini. Kemudian membaca lagi halaman lain, saya pernah melihat ini,” ujar Suci

Meski dunia saat ini membedakan setiap umur dalam lingkaran generasi, Suci merasa bahwa permasalahan perempuan tidak pernah berbeda dari generasi ke generasi. Di zaman sekarang, perempuan bisa jadi apa saja, tetapi menurut Suci tak lepas dari sejumlah syarat. 

“Kamu boleh jadi rektor dengan syarat anak tidak boleh terbelenggu. Kamu boleh jadi penulis asal kamu punya waktu me time dengan anakmu yang sedang bertumbuh. Terus kapan saya bisa selesai dengan diri saya?” terang Suci. Ia menekankan fase perempuan ketika belum menikah dan sudah menikah sangat berbeda. Ketika sudah menjadi seorang istri dan ibu, dunia seakan menerkam perempuan.

Suci menilai bahwa Annisa juga menggambarkan kekhawatiran penggunaan media sosial melalui puisinya. Seperti pasar saham, media sosial kian mengkreditkan perempuan selalu terafiliasi dengan uang, seperti munculnya kalimat ‘donatur dilarang ngatur’. “Nah, itulah bahwa sisi-sisi perempuan sebenarnya bukan terdoktrin oleh konteks sosialnya, tetapi justru perempuan yang membentuk dirinya ditu loh dengan segala kekhawatirannya,” imbuhnya.

Berbeda dengan Suci, Jengki justru membahas teknis buku TYTDDPS. Ia menilai bahwa setiap bab terlalu membaur satu sama lain. Buku tersebut terbagi dalam tiga bab, tetapi setiap bab tidak memiliki tema atau pembahasan secara spesifik. Dihitung dari jumlah puisinya, Jengki menilai masa subur Annisa dalam menulis puisi terjadi pada tahun 2025, sedangkan masa pacekliknya terjadi tahun 2022 dan 2023.

Jengki juga takjub dengan kemampuan Annisa meramu dan mengolah kata kekinian menjadi majas, sehingga tiap bait tampak puitik. “Bahkan ramuan-ramuan kata tersebut pada sejumlah puisi cenderung absurd. Misalnya, di dalam lirik yang selalu naik, aku mendengar seorang mengetuk angka-angka. Matanya seperti loyang, tangannya seperti kuitansi, yang berbicara tentang emas, tentang gedung tumbuh dari dahi manusia,” ujar Jengki membacakan beberapa bait puisi.

Seperti yang disinggung Suci, Jengki juga melihat bahwa Annisa melontarkan sindiran pada dunia patriarki yang cenderung mendominasi ruang-ruang kehidupan melalui puisinya. Kata-kata dalam puisinya juga diikuti beberapa istilah dunia kerja, seperti grafik, excel, email, presentasi, dan lain-lain.

“Penggunaan diksi-diksi kekinian untuk membentuk majas dan kelemak politik menjadikan puisinya terkesan formal dan beraroma intelektual. Hal ini dapat dimaklumi sebab Annisa berlatar belakang akademik dan pekerja kantoran,” ujar Jengki.

Meski perempuan menjadi benang merah TYTDDPS, Annisa tidak sekadar menampilkan perempuan sebagai korban atau simbol perjuangan. Jengki malah melihat puisi tersebut menilai perempuan sebagai manusia utuh yang mencintai, bekerja, bergulat dengan identitas, sekaligus terikat ruang sosial, politik, serta sejarah.

Jengki menilai Annisa tidak menggurui. Ia hanya menyampaikan kegelisahannya dalam bentuk refleksi yang tenang, bukan teriakan lantang yang terlalu tajam. Jengki menutup pemaparannya dengan mengungkapkan bahwa di tengah dunia yang jarang mendengar, Annisa berusaha menggunakan telinganya dengan baik dan benar. “Dari telinga itu seperti Dewi Kunti melahirkan Karna, dia melahirkan puisi-puisi sebagai anak-anak rohaninya, puisi-puisi yang akan bersimpuh mengusik benak pembaca,” pungkasnya.

Meski judulnya terkesan provokatif, Telinga yang Tidak Dijual di Pasar Saham merupakan puisi yang diperuntukkan untuk siapa pun, untuk perempuan yang sedang dalam pencarian jati diri, untuk perempuan yang baru menjadi istri dan ibu, dan untuk laki-laki. Puisi-puisi dalam buku ini bisa menjadi refleksi singkat bagaimana kompleksnya pengalaman perempuan dengan berbagai peran yang menjadi beban di pundak.

Tags: Annisa Resmanabincang bukudiskusi bukuperan perempuanPuisipuisi perempuanTelinga yang Tidak Dijual di Pasar Saham
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Gusti Ayu Septiari

I Gusti Ayu Septiari

Suka mendengar dan berbagi

Related Posts

Jalan Pulang Bernama Puisi – Pengantar “Catatan Pulang”

Jalan Pulang Bernama Puisi – Pengantar “Catatan Pulang”

16 January 2018
Warisan Puisi Gugatan dari Putu Vivi Lestari

Warisan Puisi Gugatan dari Putu Vivi Lestari

15 September 2017
Api, Tanah, dan Air: Buku Puisi Tiga Perempuan

Api, Tanah, dan Air: Buku Puisi Tiga Perempuan

12 August 2017
[Sesi Sastra] Sajak-sajak Angga Wijaya

[Sesi Sastra] Sajak-sajak Angga Wijaya

22 September 2016
Sabtu Malam Berpesta Puisi di Warung Tresni

Sabtu Malam Berpesta Puisi di Warung Tresni

12 February 2015
Malam Purnama, Gerhana Bulan, Gerhana Puisi

Malam Purnama, Gerhana Bulan, Gerhana Puisi

9 June 2010
Next Post
Konflik di TWA Gunung Batur

Tiga Petani Menggugat Dirjen KSDAE Kementerian Kehutanan atas Penetapan Pengecualian Wajib AMDAL Proyek Leisure Park

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Anak Muda Mengolah Limbah Organik di Tengah Macetnya Dukungan Investor

Anak Muda Mengolah Limbah Organik di Tengah Macetnya Dukungan Investor

15 December 2025
Begini Lho Cara Menjelajah Nusa Penida dengan Cara Berbeda

Perempuan dalam Sistem Pewarisan Adat Bali: Terikat Adat, Hak Terbatas

15 December 2025
Gagas Aksi Iklim Melalui Mangrove, Bendega Tanam Harapan di Pesisir

Gagas Aksi Iklim Melalui Mangrove, Bendega Tanam Harapan di Pesisir

14 December 2025
Para Perempuan di Balik Kerajinan Ate

Para Perempuan di Balik Kerajinan Ate

14 December 2025
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia