
Peristiwa Rarud Batur yang terjadi satu abad lalu pada tahun 1926, merupakan peristiwa erupsi Gunung Batur yang berdampak pada perpindahan masyarakat Batur. Perpindahan ini dilakukan untuk mencari lokasi baru akibat lava pijar yang keluar dari perut Gunung Batur kala itu menenggelamkan peradaban Desa Batur Let. Peristiwa ini menyimpan nilai dan pesan yang kuat tentang ketahanan serta keberlanjutan. Sampai sejauh ini, masyarakat Batur masih mempertahankan warisan nilai masa lalu tersebut sebagai wujud memori kolektif atas peristiwa itu.
Guna mempertahankan identitas, tradisi, dan ingatan kolektif setelah relokasi akibat erupsi Gunung Batur, Komunitas Lingkar Studi Batur (LSB), mempersembahkan sebuah karya melalui buku Seabad Relokasi Batur. Buku ini didiskusikan dalam agenda Festival Seni Bali Jani VIII Tahun 2026 bersama pembedah buku, Heri Purwanto di Perpustakaan Widya Kusuma, Art Center, Denpasar, pada Jumat (24/07/2026).
Untuk memahami kisah perjalanan komunitas dan buku ini, saya berbincang langsung bersama sang editor, Jero Penyarikan Duuran Batur, I K. Eriadi Ariana.
Beliau mulai berbagi cerita tentang awal mula perjalanan Lingkar Studi Batur, bagaimana para anggotanya berkarya, serta berbagai karya yang telah dihasilkan. Menurutnya, Lingkar Studi Batur lahir dari keresahan bersama. Pemicunya karena pandemi Covid-19 pada tahun 2020, ketika banyak anak muda pulang ke rumah karena dirumahkan.
“Kami berkumpul lebih banyak untuk melakukan diskusi di rumah, menghilangkan stres dengan kami keliling Batur. Terakhir bulan Desember, kami mekemit (terjaga semalam suntuk) di Titik Nol, yang merupakan tempat Batur Lama. Dari sinilah muncul ide untuk membuat semacam komunitas yang bisa menjadi ruang diskusi,” jelasnya.
Menariknya, komunitas ini banyak mendapat sorotan karena menggunakan nama Batur. Nama tersebut dinilai seperti sebuah magnet yang mewakili kultur dan lingkungan Batur. Lingkar Studi Batur kemudian mendapat tawaran kerja sama dari Yayasan Puri Kauhan Ubud.
“Kita diajak riset bareng tentang air di Batur dan menjalankan kerja-kerja akademik yang lebih serius. Hasil-hasil riset kita dari kerja akademik tersebut pun akhirnya dibukukan. Dan tentunya yang terakhir kerja-kerja kami adalah buku ini, Seabad Relokasi Batur,” terangnya.
Saya bertanya kepadanya di tengah perbincangan tentang bagaimana proses kreatif penggarapan buku ini. Jawabannya sederhana, awalnya buku tersebut tidak digarap secara serius.
“Di awal hanya ada 10 tulisan, tapi tiba-tiba datang 30 tulisan. Karena banyak tulisan yang dikirimkan, kami pun jadi pusing untuk bagaimana cara mengurasinya. Akhirnya, kami memutuskan untuk menggarap semua tulisan tersebut dalam bentuk book chapter,” katanya.
Ariana menambahkan, penyuntingan dilakukan secara bertahap berdasarkan tema, meliputi sejarah, dinamika sosial budaya, antropologi, pendidikan agama, lingkungan dan tata ruang, hukum, serta ekonomi dan pariwisata. Berangkat dari perspektif yang beragam, buku ini menjadi refleksi sejarah sekaligus cara menghadapi tantangan masa depan.
Di penghujung perbincangan, sang editor menegaskan bahwa buku ini ditujukan sebagai bank data. Data tersebut memuat sejarah Batur yang diupayakan untuk merawat ingatan kolektif masyarakat tentang sejarah dan budaya Batur.
“Tujuannya kami memang membuat buku ini, untuk menjadi ajang bank data. Kalau kita mau mengkritik, banyak sekali bahkan ada data yang sudah didebat oleh orang lain. Karena dianggap tidak sesuai dan sebagainya. Tapi tidak apa, ini menjadi sebuah diskursus kan bagus,” tutup Ariana sambil tersenyum.





