• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, May 13, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Satu Abad Rarud Batur 1926: Ingatan jadi Mitigasi Bencana di Masa Depan

Oka Agastya by Oka Agastya
13 May 2026
in Budaya, Kabar Baru, Lingkungan, Opini
0
0

Pada tahun 1926, Gunung Batur tidak sekadar meletus. Ia mengubah arah hidup masayarakat yang hidup di sekitarnya. Desa Batur lama tertimbun lava, pura-pura runtuh, dan lanskap yang sebelumnya akrab menjadi asing dalam semalam. Peristiwa yang dikenal sebagai rarud Batur, istilah Bali untuk merarudkan diri atau mungkin kita kenal sebagai evakusi akibat letusan besar gunung api bukan hanya catatan geologi, melainkan luka kolektif yang membentuk cara masyarakat memahami risiko hingga hari ini.

Dalam bahasa ilmu kebencanaan, peristiwa seperti ini tidak berhenti pada dampak fisik. Ia meninggalkan apa yang disebut sebagai memori kolektif bencana ingatan bersama yang diwariskan lintas generasi melalui cerita, ritual, dan praktik hidup (Halbwachs, 1992; Assmann, 2011). Di Bali, memori ini tidak hanya hidup dalam arsip atau laporan ilmiah, tetapi dalam tutur, dalam upacara, dan dalam cara masyarakat menata ruang.

Kenampakan semburan lava dari kawah samping letusan Gunung Batur tahun 1926 photo oleh Stehn soerang geolog belanda.

Letusan Batur 1926 secara geologi merupakan erupsi efusif–eksplosif yang menghasilkan aliran lava luas dan material piroklastik yang menimbun permukiman lama di sekitar kaldera (Sutawidjaja, 2009). Desa Batur lama, termasuk kawasan sakral, tertutup lava dan memaksa masyarakat melakukan relokasi besar-besaran ke tempat yang kini dikenal sebagai Karanganyar atau Desa Batur baru. Perpindahan ini bukan sekadar migrasi fisik, tetapi juga pergeseran kosmologi ruang bagaimana manusia menempatkan dirinya kembali dalam hubungan dengan gunung (kaja) dan danau (segara).

Photo kenampakan Pura Batur pasca letusan 1926 di photo oleh Stehn soerang geolog belanda.

Dalam konteks Bali, ruang tidak pernah netral. Ia selalu terikat pada makna. Ketika ruang berubah karena bencana, makna pun harus dinegosiasi ulang.

Masyarakat Batur tidak hanya “bangkit kembali”, tetapi membangun ulang identitasnya melalui memori bencana. Pura Ulun Danu Batur dipindahkan, bukan sekadar sebagai tindakan praktis, tetapi sebagai upaya menjaga kesinambungan spiritual dalam lanskap yang berubah. Di sinilah terlihat bahwa mitigasi dalam konteks Bali tidak hanya teknis, tetapi juga kultural.

Berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa masyarakat yang memiliki memori kolektif bencana cenderung memiliki kesiapsiagaan yang lebih baik, karena pengalaman masa lalu menjadi referensi dalam menghadapi ancaman masa depan (Gaillard & Mercer, 2013). Di Batur, memori rarud tidak hilang. Ia hidup dalam cerita keluarga, dalam narasi tetua, dalam ritual yang mengingatkan bahwa gunung adalah sumber kehidupan sekaligus ancaman.

Istilah “eling” ingat menjadi penting di sini. Ingat bukan sekadar mengenang, tetapi kesadaran aktif bahwa bencana bisa terjadi kembali.

Namun, memori kolektif bukan sesuatu yang statis. Ia bisa menguat, tetapi juga bisa memudar.

Seiring berkembangnya pariwisata di kawasan Batur Kintamani, lanskap ini mulai dibaca ulang sebagai ruang ekonomi. Gunung menjadi destinasi trekking, danau menjadi latar foto, dan kaldera menjadi daya tarik global sebagai UNESCO Global Geopark. Narasi tentang keindahan sering kali lebih dominan dibanding narasi tentang risiko. Di sinilah muncul pertanyaan penting: apakah memori rarud masih hidup dalam kesadaran kolektif, atau perlahan tergeser oleh narasi komersial ?

Dalam beberapa kasus, generasi muda yang tidak mengalami langsung bencana cenderung memiliki persepsi risiko yang lebih rendah (UNDRR, 2015). Mereka mengenal Batur sebagai destinasi, bukan sebagai gunung api aktif dengan sejarah letusan yang panjang. Tanpa proses pewarisan memori yang kuat, risiko menjadi abstrak sesuatu yang “tidak akan terjadi lagi”.

Padahal secara geologi, Gunung Batur masih aktif. Aktivitas vulkaniknya tercatat hingga abad ke-20, dengan beberapa fase erupsi setelah 1926 (Global Volcanism Program, 2023). Artinya, potensi bahaya tetap ada, dan memori kolektif menjadi salah satu alat penting untuk menjaga kesiapsiagaan.

Di Bali, pewarisan memori tidak selalu dilakukan melalui pendidikan formal. Ia hidup dalam praktik budaya.

Sistem komunikasi tradisional seperti kulkul tidak hanya berfungsi sebagai alat peringatan, tetapi juga sebagai simbol kesiapsiagaan komunitas. Ritual keagamaan tidak hanya bermakna spiritual, tetapi juga menjaga hubungan manusia dengan alam yang dinamis. Bahkan konsep seperti Tri Hita Karana harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas dapat dibaca sebagai kerangka etika dalam pengelolaan risiko lingkungan.

Photo kegiatan geowisata menyusuri jejak letusan Gunung Batur 1926 di kawasan Black Lava.

Namun, tantangan hari ini adalah bagaimana menjembatani memori tradisional dengan pendekatan ilmiah modern.

Mitigasi bencana tidak bisa hanya bergantung pada ingatan masa lalu, tetapi juga harus diperkuat dengan data, teknologi, dan sistem peringatan dini. Di sisi lain, pendekatan ilmiah tanpa memahami konteks budaya lokal sering kali tidak efektif. Integrasi keduanya menjadi kunci.

Misalnya, jalur evakuasi di kawasan Batur tidak hanya perlu dirancang secara teknis, tetapi juga harus dipahami dan diterima oleh masyarakat. Sistem peringatan dini perlu disesuaikan dengan cara komunikasi lokal. Edukasi kebencanaan perlu menggunakan bahasa yang akrab, bukan istilah teknis yang jauh dari keseharian.

Di sinilah pentingnya memori kolektif sebagai jembatan antara masa lalu dan masa depan. Ia bukan nostalgia. Ia adalah alat bertahan hidup.

Ketika memori kolektif kuat, masyarakat tidak hanya tahu apa yang harus dilakukan saat bencana, tetapi juga memahami mengapa hal itu penting. Mereka tidak hanya mengikuti prosedur, tetapi memiliki kesadaran yang mendalam.

Namun jika memori itu hilang, maka kita kehilangan satu lapisan perlindungan yang paling mendasar. Kita menjadi masyarakat yang hanya bereaksi, bukan yang siap.

Kegiatan pembangunan Cihna Batur Let selasa, 5 Mei 2026 dilaksanakan sebagai rangkaian seratus tahun Rarud Batur photo oleh Panitia Peringatan 100 Tahun Rarud Batur

Merawat Ingatan, Menjaga Kehidupan

Memperingati Rarud Batur 1926 bukan sekadar peristiwa masa lalu. Ia adalah pengingat bahwa bumi tempat kita berdiri selalu bergerak, selalu berubah, dan selalu memiliki potensi untuk mengejutkan kita.

Memori kolektif adalah cara manusia menjinakkan ketidakpastian itu bukan dengan menghilangkannya, tetapi dengan memahaminya. Melalui kegiatan Peringatan 100 Tahun Rarud Batur masyarakat Desa Batur melalui gerakan bersama pemuda dan desa adatnya berusaha mewarat dan menjembatani memori kolektif ini kepada generasi kedepan dan bahkan masyarakat dunia bahwa Batur adalah tempat dimana kepercayaan, penghormatan dan kerendahan hati terhadap alam menjadi petunjuk dalam upaya mitigasi bencana.

Di Bali, merawat memori bukan berarti hidup dalam ketakutan. Ia berarti hidup dalam kesadaran. Eling lan waspada ingat dan waspada adalah dua kata sederhana yang mungkin menjadi inti dari mitigasi bencana yang sesungguhnya.

Karena pada akhirnya, yang membuat kita selamat bukan hanya teknologi atau infrastruktur, tetapi kemampuan untuk mengingat dan belajar dari apa yang pernah terjadi.

Gunung Batur akan tetap berdiri. Lava mungkin akan kembali mengalir suatu hari nanti. Tetapi selama memori itu dirawat dalam cerita, dalam ritual, dalam kesadaran kita tidak akan benar-benar tidak siap.

Dan mungkin, di situlah makna terdalam dari hidup berdampingan dengan alam: bukan menghindari bencana, tetapi mengingatnya dengan cukup baik agar kita bisa tetap hidup bersamanya.

Referensi

  • Assmann, J. (2011). Cultural Memory and Early Civilization. Cambridge University Press.
  • Gaillard, J. C., & Mercer, J. (2013). From knowledge to action: Bridging gaps in disaster risk reduction. Progress in Human Geography.
  • Global Volcanism Program. (2023). Batur Volcano Activity Report. Smithsonian Institution.
  • Halbwachs, M. (1992). On Collective Memory. University of Chicago Press.
  • Sutawidjaja, I. (2009). Geologi dan sejarah letusan Gunung Batur. Jurnal Geologi Indonesia.
  • UNDRR. (2015). Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015–2030.
Tags: 100 tahun erupsi baturGunungapi BaturMemori Kolektifmitigasi bencanaRarud Batur
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Oka Agastya

Oka Agastya

Seorang pencerita bumi dan praktisi manajemen bencana

Related Posts

Adakah Sistem Peringatan Dini Banjir di Bali? Ini Simulasinya

Adakah Sistem Peringatan Dini Banjir di Bali? Ini Simulasinya

18 October 2025
Merana Wana di Jimbarwana

Petahana di Daerah Rawan Bencana

13 February 2024
Ketika Sungai Mati Membawa Banjir dengan Material Pasir dan Batu

Menelusuri Bencana di 3 Kabupaten di Bali

29 October 2023
Ketika Sungai Mati Membawa Banjir dengan Material Pasir dan Batu

Ketika Sungai Mati Membawa Banjir dengan Material Pasir dan Batu

28 October 2023
Merasakan Cerita Anak-anak Bebandem tentang Bencana

Merasakan Cerita Anak-anak Bebandem tentang Bencana

19 August 2019
Peta Simulasi Evakuasi, Ini Sekolah Mitigasi Bencana

Peta Simulasi Evakuasi, Ini Sekolah Mitigasi Bencana

12 August 2019

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Satu Abad Rarud Batur 1926: Ingatan jadi Mitigasi Bencana di Masa Depan

Satu Abad Rarud Batur 1926: Ingatan jadi Mitigasi Bencana di Masa Depan

13 May 2026
Kerusakan Alam karena Food Estate di Film Pesta Babi

Kerusakan Alam karena Food Estate di Film Pesta Babi

12 May 2026
Aksi Kamisan Bali ke-66: Reaktivasi Berjuang tak Gentar

Aksi Kamisan Bali ke-66: Reaktivasi Berjuang tak Gentar

11 May 2026
Film Pendek Menapak di Sesi Cinéma de Demain, Festival de Cannes 2026

Film Pendek Menapak di Sesi Cinéma de Demain, Festival de Cannes 2026

10 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia