Merasakan Cerita Anak-anak Bebandem tentang Bencana

dok. Balebengong.id

Bebandem adalah salah satu desa yang ditetapkan menjadi kawasan rawan bencana erupsi Gunung Agung.

Gunung Agung mulai menunjukan aktivitasnya sebagai salah satu gunung api yang aktif di Bali. Terhitung sejak September tahun 2017, gejala dan tanda-tanda erupsi Gunung Agung sempat menyebabkan kepanikan warga di sekitar Gunung Agung khususnya Kabupaten Karangasem.

Secara keseluruhan dampaknya sekitar 40.000 orang harus dievakuasi dari 22 desa. Proses evakuasi sempat pikuk akibat simpang siurnya berita melalui pesan singkat dan media sosial menyebabkan terjadinya “shock” semisal warga dengan paniknya menjual hewan ternak dengan harga murah, terjadinya kemacetan di jalan ruas utama kota, dan mengungsinya secara acak hingga mereka harus berpindah-pindah.

Inilah yang menjadi cerita yang dikenang oleh anak-anak SMPN 3 Babandem saat membagikan pengalaman mereka di acara Edukasi Kesiapsiagaan Bencana Kegunungapian yang dilaksanakan oleh tim Institut Teknologi Bandung (ITB), didukung sejumlah lembaga lain. Media jurnalisme warga Balebengong.id juga terlibat pada 13-14 Agustus 2019.

Ni Luh Cahyani (murid kelas VII c) menuliskan pengalamannya saat berpindah-pindah saat Gunung Agung dalam status Siaga 1. “Di saat terjadi erupsi Gunung Agung pada tahun 2017 yang lalu, saya mengungsi di Kabupaten Gianyar. Saya mengungsi di sana selama kurang lebih 5 bulan dan saya bersekolah di SDN 1 Blahbatuh. Di sana saya punya banyak sekali teman. Setelah saya mengungsi di Gianyar, saya pindah ke Desa Pertima Kabupaten Karangasem. Di sana saya mengungsi bersama paman, kakek, dan nenek saya. Saya tidak bersekolah tetapi saya punya banyak teman. Setelah itu barulah saya pindah ke tempat pengungsian terakhir saya yaitu di Desa Bungaya Kangin Kabupaten Karangasem. Saya bersekolah di SDN 3 Bungaya Kangin. Setelah sekian lama saya tinggal di Bungaya barulah saya dijemput dan diajak pulang oleh kedua orang tua saya” tulisnya dalam sesi membuat kording sekolah. Hal serupa juga dituliskan oleh murid-murid lain.

Cerita lain tentang perasaan anak-anak menghadapi bencana alam tersebut seperti “Pada tanggal 22 September 2017, Gunung Agung mengeluarkan asap yang sangat tebal dan juga mengeluarkan abu yang lebat. Pada hari itu juga pas kami ulangan pertama dan akhirnya kami tidak jadi ulangan pertama. Akhirnya kami disuruh pulang dan segera mengungsi oleh kepala Dusun Banjar Gula. Dan akhirnya kami pulang lalu kami diajak mengungsi oleh orang tua kami ke Singaraja, Buleleng untuk mencari tempat yang lebih aman. Orang tua kami menjual ternak kami dengan harga yang sangat murah. Hati kami sangat sedih dan kami tidak mau meninggalkan halaman kami yang sangat indah.” Tulis Ni Nengah Susanti (murid VIII b).

Hati kami sangat sedih dan kami tidak mau meninggalkan halaman kami yang sangat indah

Ni Nengah Susanti (murid VIII b SMPN 3 Bebandem)

Selain menjadi kenangan tentu ada hikmah dan hal yang dapat dipetik dari hal ini seperti pengalaman yang dibagikan oleh Ni Kadek Ayu Fitriani (murid VII c) yakni “Pada tanggal 22 September 2017, saya diungsikan oleh pemerintah di Desa Ulakan tetapi masyarakat Desa Tenganan Pegringsingan ingin masyarakat saya mengungsi di Desa Tengangan Pegringsingan. Saya sangat sedih karena harus meninggalkan rumah dan berpisah dengan kawan-kawan saya. Pada saat saya diungsikan saya baru kelas 5 SD. Sudah seminggu saya di pengungsian saya pun mulai masuk sekolah SD 1 Tenganan. Saya merasa senang karena bisa masuk sekolah lagi walaupun tidak bisa bersama-sama dengan kawan-kawan semua. Hari pun berlalu dan saya dan teman-teman saya kedatangan tim PMI dan saya dan teman-teman diajarkan untuk membuat tas dari bahan plastik (mendaur ulang sampah plastik bekas minuman). Dan akhirnya saya bisa membuat tas dari sampah plastik. Lima bulan sudah lamanya saya mengungsi dan akhirnya pulang ke rumah. Saya sangat senang karena bisa sekolah lagi dan bisa kembali ke rumah. Dan saya sangat senang karena saya bisa pulang ke rumah membawa ketrampilan kerajinan dari sampah plastik. Demikian pengalaman saya saat di pengungsian.”

Dan akhirnya saya bisa membuat tas dari sampah plastik

Ni Kadek Ayu Fitriani (murid VII c SMPN 3 Bebandem)

Inilah cerita-cerita mereka yang nantinya menjadi pengalaman dan refrensi mereka saat menghadapi bencana yang serupa di kemudian hari. Hal tersebut yang diharapkan dari Balebengong.id, bagaimana mereka dapat mengabadikan momen dan cerita mereka sehingga mereka tidak panik lagi saat menghadapi bencana. Kesiapsiagaan tentang bencana sangat perlu mereka ketahui sejak dini sebab desa dan lokasi sekolah mereka dekat dengan Gunung Agung yang kini masih beraktivitas.