• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Thursday, July 30, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Manis-Kecut Pengguna Bus TMD

Made Teja Permana by Made Teja Permana
30 July 2026
in Kabar Baru, Pelayanan Publik
0
0

Catatan penulis dengan TMD

Niat untuk ke Ubud. Dari rumah menuju Terminal Ubung dengan ojek online saldo berkurang Rp12.000. Sulit untuk berjalan kaki sejauh itu: dari Jalan Gatot Subroto menuju Terminal Ubung, trotoar jarang dan kurang layak—khawatir akan kecelakaan.

Setibanya di terminal, tinggal cari bus TMD yang menuju lokasi tujuan, scan kode QRIS, perjalanan belasan kilometer terbayar Rp4.500. Pramudi mengarahkan prosedur pembayaran yang tersedia. 

Halte TMD tersebar tak merata. Pergerakan bus dari halte bisa terbaca melalui aplikasi TMD—dapat diunduh melalui AppStore dan PlayStore—pada laman bus nearby. Pergantian bus di halte diinformasikan setiap 4 menit pada laman tersebut. Pengguna bisa melacak pergerakan semua bus melalui laman all bus.

Di dalam bus terlihat orang dari berbagai kalangan—balita, anak muda, dan lansia.

Seorang lansia perempuan di sampingku, di kakinya terdapat banyak barang—sekantong buah-buahan dengan tas McDonald’s, sekresek motif zebra tanaman kuping gajah, umbi-umbian, dan tas berisi baju. Ia baru saja dari Tabanan dan saat ini sedang menuju rumahnya. 

Ibu lansia itu membagi cerita alasan memakai TMD. “Suka naik bus ini, karena murah, buat lansia cuma bayar Rp2.500 udah sampe tujuan, dan nggak ribet juga. Kalau inguh (jenuh) di rumah, tinggal pulang kampung di Tabanan atau melali tanpa perlu diantar anak dan bayar bensin juga, apalagi bensin sekarang mahal, cuma minta tolong anak buat pesenin gojek aja,” tuturnya. 

Ibu lansia itu bercerita, ia tidak ingin merepotkan anaknya yang sedang bekerja. Kalau dirinya mau berwisata, tinggal meminta anaknya untuk memesankan ojek ke halte—Terminal Ubung. “Saya juga lumayan sering ke Ubud mengunjungi teman di sana,” tuturnya. 

Ibu lansia itu memilih menggunakan ojek untuk berangkat ke halte; halte yang tersedia tidak merata. Biaya yang keluar lumayan banyak untuk transportasi.

Ia turun di halte dekat McDonald Jalan Nangka; pramudi memberi informasi padanya. “Nanti bakal dikasih halte yang isi tempat duduk, Bu. Masih di survei sama pimpinannya. Nanti Ibu bisa duduk di sana,” tuturnya. 

Cerita manis-kecut pengguna netra TMD

Cerita lansia yang kutemui membawaku ke Jero Puri—pemijat, penyandang disabilitas netra, pengguna harian Trans Metro Dewata.

Yang membuatku sampai sini ialah cerita lansia itu bergema di telingaku—bedanya Jero Puri adalah penyandang netra. 

Ketika aku masuk ke ruko tempat pijatnya, Jero Puri menyuguhkan dagangannya—sembari bercerita tentang kegiatannya kemarin hari. “Ibu biasa jualan ini, sabun sama minyak. Ibu buat sendiri di rumah. Sabun ada varian kopi, madu, ada susu juga. Ini minyak juga dibuat dari serai, jahe, dan cengkeh. Hangat ini, cocok buat pijat. Kemarin dapat jualan sama jaga di stan Denpasar Youth Festival (D-Youth). Pertuninya dikasih stan sama DInas Sosial kemarin,” tuturnya.

Sembari memijat, aku bertanya sedari kapan Jero Puri naik TMD. “Ibu biasanya ke tempat pasien naik TMD. Udah lama Ibu naik TMD, sedari TMD sudah ada, tahun 2020 lah. Dulu, selama enam bulan gratis TMD-nya, terus gratis lagi 2 tahun setelahnya.”

Di sini, Jero Puri bercerita perihal kesulitan yang ia alami ketika pemberhentian TMD beberapa waktu lalu. “Kemarin kan TMD dapat berhenti, ibu jadinya naik ojek ke mana-mana. Ibu waktu itu kan punya pasien di Mengwi, biasanya kan Ibu naik TMD ke Mengwi. Waktu itu, jadinya tak alihkan ke teman-teman, soalnya ga masuk ke pembayaran ongkos transportnya. Kan kemahalan kalau naik ojek, kalau ditambah tarifnya kan gamau pasiennya. Kalau pake TMD kan, kalau jauh-jauh kena Rp2.000, jadi tarif Ibu tetap.” 

Jero Puri menjelaskan bagaimana mekanisme pembagian tarif pijatnya dengan biaya transportasi; Jero Puri pula menekankan perbandingan pengeluaran yang signifikan antara menggunakan TMD dan ojek online. 

“Kalau di sekitaran Denpasar baru pulang-pergi aman naik ojek, ke rumah-rumah pasiennya, juga di sini, di tempat pijet Ibu (Puri Lestari Massage dan Culinary, Jalan Bakung).”

“Kalau di Denpasar Ibu yang bayarin transportasinya. Paling yang dekat-dekat sini (sekitaran rumah Jero Puri) naik ojek habis paling sekitar Rp15.000 lah, Rp30.000 bolak-balik, dan ibu bayar sendiri. “

“Kalau sekitaran rumah (Batubulan-Denpasar), cuma dapat untung Rp20.000, jadinya Rp125.000 dah tak suruh bayar kalau datengin pasiennya yang deket rumah.“

“Kalau jauh kayak dulu tuh ke Jimbaran mereka yang bayar. Ibu tetap per jamnya Rp150.000 kalau keluar. Kalau pijet di tempat Ibu, di Jalan Bakung,  Rp100.000.“

“Ibu kalau ke tempat pasien, ke mana-mana sendiri. Waktu TMD berhenti itu dah ibu ke mana-mana naik ojek. Ibu nggak diantar sama anak. Pas naik gojek ke mana-mana, mahalnya berlipat-lipat ganda. “

Jero Puri menjelaskan kenapa TMD merupakan fasilitas yang baik. “Naik TMD nyaman sekali, enak banget. Nyamannya karena ber-AC. Cocoklah untuk orang lansia, ndak begitu ngebut lah. Kalau naik ojek itu malah yang ga nyaman—naik-naik trotoar gitu ojeknya, kan jadi takut ya. 

“Selain itu juga, baru masuk udah disapa sama itunya, apa ya namanya, supirnya. Terus diarahkan cara bayarnya, terus diarahkan turunnya di mana. Merasa diperhatikan lah. Bahkan pas waktu turun, supirnya mau nganter ibu turun dari busnya.”

Sewaktu TMD diberhentikan, Jero Puri melakukan audiensi bersama teman-temannya. “Makanya dah waktu berhenti tu, Ibu audiensi ke sana, ke kantornya. Ibu bersama teman-teman disabel waktu itu dah memperjuangkan audiensi ke mana-mana, bersama sekitar 10-15 orang. Waktu audiensi ke Pak Parta, rame-rame ibuk ke sana.”

Jero Puri menjelaskan kesehariannya menggunakan TMD—dari rumah menuju halte hingga sampai ke tempat tujuan. “Biasanya ibu jalan dari rumah ke halte—jalan sekitar 550 meter. Haltenya yang di Siulan itu, tadi lewat sana? Kan Jalan Merak tu, sebelum Jalan Merak haltenya. Haltenya ada fisiknya yang besar itu, biasanya dipakai sama bus Sarbagita-nya.”

Jero Puri menjelaskan penggunaan halte yang berbeda tergantung lokasi tujuan. “Kalau satu jalan ndak di sana, biasanya dari Brimob itu, yang di UC Silver itu. Ibu nyebrang di UC Silver, terus ke Indomart. Biasanya Ibu pulang dari Ubud kan nyebrang tu, tukang parkirnya dah yang bantu Ibu nyebrang biasanya.”

Jero Puri menceritakan pahitnya menggunakan TMD: fasilitas pejalan kaki yang tidak ramah bagi netra. “Susah jalan kaki juga di sini, ibu biasanya harus nyisir got, jalan biar ga keserempet. Apalagi kalau mobil lewat, ibu harus berhenti dulu. Soalnya lampu mobilnya itu terang sekali, Ibu ga bisa ngeliat jadinya.”

Jero Puri menjelaskan dirinya tidak menggunakan TMD setiap saat: kekurangan dari TMD. “Tapi Ibu ga make TMD tiap hari. Kalau dekat-dekat rumah, enggak dah Ibu make TMD, Ibu tanggung (bayar sendiri) sendiri dah biasanya, naik ojek. Misal, kaya ke Renon tu, bayar sendiri dah Ibu naik ojek. Soalnya kalau make TMD harus ada waktu—satu jam atau satu setengah jam dah biasanya Ibu udah berangkat. Soalnya kan waktunya tidak bisa diprediksi (macet).”

Jero Puri menjelaskan strategi manajemen waktunya apabila menggunakan TMD. “Misal, ada booking pasien itu kan dari kemarin sudah tahu waktunya. Kalau jam 10, jam 8 pagi biasanya Ibu sudah harus berangkat. Karena kan tidak sekali busnya berangkat, kaya ke Renon itu, Ibu harus naik dulu di halte Brimob, habis itu transit lagi ke Ubung dulu—transit di Ubung naik bus TB3. Belum lagi nanti kalau ada jalan di Krishna, di sana kan banyak halte tu. Terus, jalan lagi nyari lokasi rumah pasiennya. Misal ke Badak, kan tak sampai TMDnya ke Badak. Karena itu, makanya harus ada pul waktu—sudah tahu waktunya.”

“Kalau dadakan kaya Adik ni misalnya, dadakan biasanya di sini (Puri Lestari Massage dan Cullinary). Terus, kalau ada panggilan misalnya di Sanur, terus pasiennya mau pijet hari ini, 15 menit Ibu harus sudah sampai, pakai ojek dah Ibu. Kan sering biasanya ada pasien dadakan. “Bu bisa pijat disini? Jam berapa ya?” 30 menit lagi, enggak bisa dah itu makai TMD. Makanya dah, semua pasien itu harus sudah booking sehari sebelumnya. Kan tahu jadinya waktunya.”

Aku menyambung pertanyaanya dengan bertanya perihal pengalaman tak mengenakkannya dengan TMD. Ia bercerita bagaimana dirinya mengalami ketidakpercayaan, kelalaian supir, dan fasilitas yang tidak ramah untuknya.

“Waktu itu, Ibu turun, itu belum turun benar. Apa Ibu memang karena pelan ya jalannya. Ibu masih belum keluar penuh, itu busnya udah jalan. Ih, ngeri. Syukur keseimbangan Ibu masih bagus. Makanya sekarang tiap mau turun tak bilangin dah sopirnya: sabar ya, Pak.”

“Terus pernah juga Ibu ga dipercaya netra. Waktu itu kan buat disabel masih gratis. Mata Ibu kan ga keliatan netra, Ibu dibilang katarak sama supirnya. Ya, Ibu lapor ke Dinas Sosialnya biar dapat, kan memang waktu itu belum ada kartu gini, kartu disabel. Ada lah beberapa supir yang gituiin Ibu.”

“Terus ada lagi, nyari haltenya itu dah sulit sekali. Biasanya kan Ibu ke haltenya itu naik ojek. Kadang ojeknya itu dah ga nemu haltenya di mana. Ojeknya aja ga ngeliat, apalagi Ibu. Karena kan dipakein tiang aja atau papan kuning, agak susah nyarinya.”

Jero Puri sendiri sudah menemukan cara berdamai dengan kota yang setengah ramah ini. Jero Puri berberes tempat pijat—memasukan minyak ke dalam tas, dan menutup ruko. Sembari mengantarkannya pulang, aku melihat jalan yang dilalui Jero Puri menuju haltenya—tidak ada tempat pejalan kaki, dan halte yang hanya tiang. 

Tags: bus TMDhalte TMDtransportasi publik bali
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Made Teja Permana

Made Teja Permana

Related Posts

Pusat Pariwisata Global dengan Transportasi Publik Layak

Pusat Pariwisata Global dengan Transportasi Publik Layak

6 December 2025
Mungkinkah Kawasan Rendah Emisi di Bali?

Menata Ulang Ruang dan Mobilitas Bali di Era Digital

28 July 2025
Kadishub Bali: Pembiayaan TMD Sudah Tidak Ada, Kami Masih Negoisasi

Iri pada (Mantan) Ibu Kota dengan Keragaman Transportasi Publiknya

28 February 2025
Perjuangan Pengguna Trans Metro Dewata Terus Berlanjut

Perjuangan Pengguna Trans Metro Dewata Terus Berlanjut

19 January 2025
Kadishub Bali: Pembiayaan TMD Sudah Tidak Ada, Kami Masih Negoisasi

Kadishub Bali: Pembiayaan TMD Sudah Tidak Ada, Kami Masih Negoisasi

10 January 2025
Bali menapak 2025: Kehilangan TMD, Kehilangan TEMAN

Bali menapak 2025: Kehilangan TMD, Kehilangan TEMAN

7 January 2025
Next Post
Buku Seabad Relokasi Batur: Upaya Lingkar Studi Batur Merawat Ingatan Kolektif

Buku Seabad Relokasi Batur: Upaya Lingkar Studi Batur Merawat Ingatan Kolektif

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Buku Seabad Relokasi Batur: Upaya Lingkar Studi Batur Merawat Ingatan Kolektif

Buku Seabad Relokasi Batur: Upaya Lingkar Studi Batur Merawat Ingatan Kolektif

30 July 2026
Manis-Kecut Pengguna Bus TMD

Manis-Kecut Pengguna Bus TMD

30 July 2026
Merayakan Kesenian Tradisi Bali

Internalisasi Nilai “Eda Ngaden Awak Bisa”

30 July 2026
An Increasingly Crowded City and Land That’s Beyond Affordable

An Increasingly Crowded City and Land That’s Beyond Affordable

29 July 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia