• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, April 22, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Di Balik Panggung Seni: Cerita Diskriminasi dan Perjuangan Pekerja Ragam Gender di Ekosistem Kreatif

Maya Ayu Revalina by Maya Ayu Revalina
19 December 2025
in Budaya, Kabar Baru
0
0

Di zaman yang semakin maju, pekerja seni dari beragam gender masih rentan mengalami diskriminasi di lingkungan kerjanya. Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (Sindikasi) menggelar acara diskusi hasil riset dari Koalisi Seni yang bertajuk “Tumbuh dan Menubuh: Kondisi Pekerja Ragam Gender di Ekosistem Seni dan Kreatif”. Diskusi ini dihadiri oleh peserta yang berasal dari beragam gender. Ruang diskusi sore itu tidak hanya dipenuhi kursi dan mikrofon. Namun, juga dipenuhi dengan cerita tentang tubuh, kerja, seni, dan perjuangan yang seringkali luput dari sorotan.

Melalui paparan hasil riset dan diskusi, kegiatan ini membuka realitas pekerja seni dan kreatif dari kelompok ragam gender di Indonesia, terutama bagi mereka yang hidup dan bekerja di tengah sistem yang belum sepenuhnya ramah. Akses ragam gender muda dan trans terhadap pekerjaan bersifat lebih terbatas. Hal ini disebabkan karena banyak dari mereka yang tidak dapat mengakses Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang memerlukan Kartu Keluarga (KK) atau akta lahir. Hilangnya akses pendidikan formal yang berbanding lurus dengan kesempatan mendapatkan pekerjaan formal merupakan dampak dari pembatasan akses kartu identitas terhadap transgender.

Istilah “ragam gender” di sini merujuk pada kalangan yang identitas gendernya tidak selalu sejalan dengan jenis kelamin saat lahir, seperti transgender, non-biner, dan lainnya. Mereka adalah bagian tak terpisahkan dari ekosistem seni, namun sering kali harus berjuang ekstra keras hanya untuk bisa bernapas lega.

Pertama, soal uang. Banyak dari mereka yang bergelut dengan ketidakpastian ekonomi. Bayaran seringkali tak sesuai tenaga, proyek bersifat sekali jadi selesai, dan manfaat seperti jaminan kesehatan atau pensiun adalah impian yang jauh. Mereka berkarya, namun di saat yang sama terus dicekam rasa cemas akan masa depan.

Kedua, tubuh menjadi medan pertarungan. Bagi pekerja seni, tubuh adalah instrumen utama. Namun, bagi pekerja seni ragam gender, tubuh ini juga jadi sumber diskriminasi. Mulai dari cibiran, pandangan aneh, hingga penolakan dalam proses casting atau pemberian peran karena ekspresi gender mereka dianggap tidak sesuai. 

Tekanan mental adalah beban tak terlihat yang paling berat. Harus terus-menerus menjelaskan identitas, merasa tidak aman di ruang latihan atau pementasan, dan menerima perlakuan berbeda adalah menu sehari-hari. Banyak yang memilih untuk menutup diri atau tidak sepenuhnya mengekspresikan diri mereka demi diterima, sebuah pengorbanan besar bagi jiwa seni.

Yang menarik, dunia seni sebenarnya sering dianggap sebagai ruang paling terbuka. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa keterbukaan itu bersyarat. Mereka akan diterima selama sesuai dengan norma yang diharapkan, atau selama karyanya masih laku. Inklusivitas masih setengah hati.

Penelitian Koalisi Seni ini bukan hanya untuk didokumentasikan, tapi untuk jadi panggilan bagi semua pihak. Bagi pemerintah dan pemangku kebijakan, perlu ada regulasi yang jelas yang melindungi pekerja seni dari segala bentuk diskriminasi dan memastikan akses mereka pada jaminan sosial.

“Dari saya sendiri, kalau saya selaku kreatif itu sendiri ataupun pekerja seni merasa di Indonesia itu kolektif atau asosiasi seni berbasis yang melek terhadap kesejahteraan gender dan ragam gender itu masih sangat kurang sendiri. Jadi mungkin dari riset ini bisa dijadikan referensi bagi teman-teman kreatif baik asosiasi komunitas daerah maupun nasional,” tanggapan dari salah satu peserta diskusi.

Bagi institusi seni, saatnya mengevaluasi praktik perekrutan, penyediaan ruang kerja yang aman, dan memastikan upah yang adil. Keramahan tak cukup hanya di slogan, tapi harus diterjemahkan dalam anggaran dan kebijakan nyata.

Bagi penikmat seni, mungkin dimulai dari hal sederhana untuk mengakui dan menghormati identitas setiap seniman yang menghibur dan menggerakkan kita. Memberi apresiasi yang tulus, serta bersikap kritis ketika melihat ketidakadilan. Pada akhirnya, ekosistem seni yang sehat adalah yang mampu merawat semua pelakunya, tanpa kecuali. 

sangkarbet
Tags: diskriminasi genderGenderSeni
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Maya Ayu Revalina

Maya Ayu Revalina

Related Posts

Melestarikan Tapel Ngandong, Kesenian Unik dari Desa Les Lewat Akses Digital

Kesenian yang Terancam Hilang di Desa Wisata Les

3 January 2025
Sang Gunung Menyerahkan Jejaknya ke Laut, Alternatif Pengarsipan Sejarah

Sang Gunung Menyerahkan Jejaknya ke Laut, Alternatif Pengarsipan Sejarah

22 August 2023
Jalan Terjal Kedaulatan Benih bagi Petani

Jalan Terjal Kedaulatan Benih bagi Petani

18 March 2021
Pandora Paradise, Cermin Hidup Kita yang Tanpa Rahasia

Pandora Paradise, Cermin Hidup Kita yang Tanpa Rahasia

18 December 2020
Menggunakan Kesenian untuk Mengatasi Krisis Lingkungan

Menggunakan Kesenian untuk Mengatasi Krisis Lingkungan

1 December 2020
Lelakut itu Hantu Sawah, Bukan Menghantui Sawah

Lelakut itu Hantu Sawah, Bukan Menghantui Sawah

21 October 2020
Next Post
Beban Tak Terlihat Remaja Bali di Jembrana

Beban Tak Terlihat Remaja Bali di Jembrana

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Ekowisata di Subak Sebagai Solusi atau Ancaman Baru?

Plastik Makin Mencemari Pertanian

21 April 2026
Sampah tak Terpilah, Subsidi Pupuk Organik bikin Jengah

Cara Leluhur Bali Memilah Sampah

21 April 2026
Bencana Sunyi: Penurunan Muka Tanah Akibat Eksploitasi Airtanah di Bali

Bencana Sunyi: Penurunan Muka Tanah Akibat Eksploitasi Airtanah di Bali

20 April 2026
Reklamasi Sekali, Abrasi Berkali-kali

Reklamasi Sekali, Abrasi Berkali-kali

20 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia