• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, January 21, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Melestarikan Konsep Menyama Braya dalam Menghadapi Covid-19

Desak Supraba by Desak Supraba
22 May 2020
in Kabar Baru, Opini
0
0
Pecalang di Badung menyemprot desinfektan pada warga yang lewat desanya untuk mencegah penyebaran Covid-19. Foto Anton Muhajir

Bali selalu terkenal dengan menjunjung nilai-nilai kearifan lokal.

Nilai itu bersumber dari sistem nilai budaya dan adat istiadat untuk dapat hidup rukun. Salah satunya memiliki konsep hidup bermasyarakat yang membentuk solidaritas kuat yaitu menyama braya (persaudaraan). Kearifan lokal menyama braya patut dilestarikan dan bahkan ditumbuhkembangkan.

Nilai kearifan lokal Menyama Braya mengandung makna persamaan dan persaudaraan serta adanya pengakuan sosial bahwa kita adalah bersaudara. Sebagai satu kesatuan sosial persaudaran maka sikap dan perilaku dalam memandang orang lain sebagai saudara, patut diajak bersama dalam suka maupun duka. Namun, pada kondisi saat ini respon masyarakat terhadap kepulangan PMI Bali membuat konsep menyama braya seakan terkikis.

Sejarawan Israel Yuval Noah Harari menyatakan bahwa adanya virus ini justru menguji hati nurani kita, kebencian, keserakahan dan ketidaktahuan kita sendiri. Dalam pandangan Agama Hindu salah satu konsep dari Tri Hita Karana yaitu pawongan (manusia dengan sesama). Konsep ini memiliki makna kita harus bisa menjaga keharmonisan hubungan dengan keluarga, teman dan masyarakat.

Dalam menjaga keharmonisan tentunya menjauhkan sikap saling membeda-bedakan berdasarkan derajat, agama ataupun suku serta adanya diskriminasi pada golongan tertentu. Karena kita semua sama. Sama-sama mahluk ciptaan Tuhan. Menganggap apa yang diyakini benar dan apa yang diyakini orang lain yang tidak sama adalah salah.

Bali adalah salah satu provinsi di Indonesia yang terkena dampak pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dari Maret lalu. Perekonomian Bali yang tergantung pada sektor pariwisata mengalami penurunan sangat disignifikan. Warga Bali yang menjadi pelaku pariwisata sangat merasakan dampak pandemik ini. Banyak nyama Bali yang bekerja di luar negeri, lebih dikenal dengan sebutan Pekerja Migran Indonesia (PMI) juga terkena.

Maraknya kasus Covid-19 menyebabkan banyak sektor perjalanan pariwisata terhenti. Tidak hanya di Indonesia, tetapi di dunia. Karena berhentinya sektor pariwisata, banyak PMI Bali pulang. Mereka sangat rentan terpapar virus corona dan dikhawatirkan memicu transmisi lokal di Bali, secara otomatis menambah kasus virus Corona di Indonesia.

Hal itu menyebabkan kepanikan masyarakat Bali. Muncul pro kontra yang menyebabkan PMI Bali merasakan diskriminasi karena dianggap sebagai pembawa virus. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali telah menyiapkan penjemputan di kedatangan internasional Bandara I Gusti Ngurah Rai. PMI juga dikarantina untuk menjalani rapid-test pertama. Ketika hasil negatif PMI diperbolehkan pulang ke rumah masing-masng serta disarankan untuk isolasi mandiri.

Namun, apa daya, alih-alih diterima, mereka malah ditolak krama adat banjar yang takut par PMI akan mengakibatkan transmisi lokal. Alhasil, mereka harus menjalankan isolasi mandiri di tempat berbeda. Misalnya di kos, penginapan dll selama 14 hari. Padahal, mereka sudah membawa surat keterangan sehat dari Luar Negeri dan Dinas Kesehatan serta hasil rapid-test yang negatif.

Hal itu menyebabkan banyak PMI Bali kecewa karena mereka ditolak di tanah kelahiran sendiri.

View this post on Instagram

WIH KOK RAME – RAME NIH? ADA YANG TAU PENYEBABNYA SEMETON? . .di salah satu Hotel di Karangasem . Sumber @ifanpratma #infokarangasem_id

A post shared by Infokarangasem_id (@infokarangasem_id) on Apr 15, 2020 at 6:04am PDT

Penolakan

Karena banyak terjadi penolakan Pemprov Bali berusaha menyediakan tempat karantina untuk PMI. Namun, lagi-lagi banyak masyarakat Bali yang merasa keberatan jika wilayah mereka dijadikan tempat karantina.

Seperti ditulis Kompas, penolakan itu misalnya terjadi di Banjar Subagan, Desa Sengkidu, Kecamatan Manggis, Karangasem sempat menolak Hotel Rama Candidasa di dekat wilayah itu dijadikan tempat karantina PMI pada Rabu (15/4/2020). Setelah bernegosiasi, akhirnya warga mengizinkan hotel itu dijadikan tempat lokasi karantina buat pekerja migran. Para pekerja migran itu masuk ke hotel dengan pengawalan aparat kepolisian pada Kamis (16/4/2020) sekitar pukul 01.00 WITA.

Wakil Bupati Karangasem I Wayan Artha Dipa mengaku kurang menyosialisasikan kebijakan itu kepada warga sekitar. Kurangnya sosialisasi membuat masyarakat khawatir dengan keberadaan para PMI di tengah pandemi Covid-19. Karena kurangnya edukasi dan munculnya kepanikan masyarakat serta ketakutan yang berlebihan, masyarakat bereaksi sebaliknya bukannya menguatkan solidaritas melainkan dengan kebencian, saling menyalahkan.

James Scoot, sosiolog asal Amerika dalam bukunya Weapon of The Weak, menyatakan bahwa perlawanan simbolik sangat dimungkinkan dilakukan ketika informasi, teknologi, pemikiran, modal, tren dan kemuakan (rasa kesal, geram, marah dan muak) bergerak pindah dengan cepat. Perlawanan simbolik juga dapat membuat ideologi atau apapun yang memiliki kekuatan merasa kelimpungan dan takut karena mereka tak bisa melawan sesuatu yang tidak jelas dan absurd.

Pendapat James Scoot itu sangat cocok dengan penggambaran tertutupnya konsep menyama braya yang menolakan PMI di wilayah mereka.

Karena itu, dalam situasi krisis dan ketidakpastian seperti ini, konsep menyama braya harus dilestarikan dan diterapkan. Hal ini agar tidak terjadi diskriminasi dan stigma bahwa PMI pembawa virus. Sebaliknya, nyama Bali harus bahu membahu menciptakan solidaritas yang kuat dalam menyikapi pandemik ini, demi tercapainya hidup rukun seperti yang selalu dijunjung oleh masyarakat Bali. [b]

kampungbet
Tags: AJW 2020COVID-19KesehatanSosial
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Desak Supraba

Desak Supraba

Ni Desak Made Supraba Dewi, Mahasiswa Sosiologi Universitas Mataram.

Related Posts

Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025

Ancaman Kesehatan Pasca Banjir di Bali

8 October 2025
Budaya Ngayah Makin Langah

Budaya Ngayah Makin Langah

13 June 2025
Mengenal 4 F, Respon terhadap Stres dan Trauma

Mengenal 4 F, Respon terhadap Stres dan Trauma

4 June 2024
Napak Tilas Konflik Tanah Desa Adat Bugbug

Napak Tilas Konflik Tanah Desa Adat Bugbug

23 October 2023
TPA Suwung yang Dibalut Asap: The Aftermath

TPA Suwung yang Dibalut Asap: The Aftermath

19 October 2023
Next Post
Hal-hal yang Terabaikan dari Bumi Datar

Hal-hal yang Terabaikan dari Bumi Datar

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Finansialisasi Desa-desa di Bali

20 January 2026
Mosi Tidak Percaya adalah Pemuda yang Bersuara

Aksi Agustus: Dewan Pers Menugaskan Ahli Pers Memantau Kasus Kekerasan pada Jurnalis di Bali

20 January 2026
Permasalahan Petani Hutan di Bali

Permasalahan Petani Hutan di Bali

19 January 2026
Mandaragiri: Saat Leluhur Membaca Bahasa Bumi

Mandaragiri: Saat Leluhur Membaca Bahasa Bumi

19 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia