
Apa yang terjadi ketika dua kebutuhan spiritual yang saling bertolak belakang dipaksa berbagi ruang dan waktu yang persis sama? Pada 19 Maret 2026, sebuah fenomena unik sosiologis dan religius terjadi di Bali. Pelaksanaan Catur Brata Penyepian bagi umat Hindu beririsan langsung dengan Malam Takbiran menyambut 1 Syawal 1447 H.1 Momentum ini menciptakan perbenturan dua ekspresi spiritual yang diametral berbeda. Keheningan total dalam Nyepi berhadapan langsung dengan gempita perayaan komunal Takbiran. Dua kebutuhan ini bertolak belakang. Satu butuh sepi, satunya butuh ramai.
Pemerintah dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bali merespons cepat dengan aturan yang spesifik. Takbiran hanya diizinkan di lingkungan dekat masjid atau musala, antara pukul 18.00 hingga 21.00 WITA. Umat Islam berjalan kaki, tanpa pengeras suara luar, tanpa petasan, dengan penerangan terbatas.2 Pengurus masjid bersama aparat keamanan bertanggung jawab penuh menjaga ketertiban. Terlihat di atas kertas, aturan ini berhasil meredam potensi gesekan. Nyepi berjalan senyap, takbir tetap menggema. Namun, mengamati dinamika sosial ini, saya tergelitik untuk bertanya. Apakah kita benar-benar sedang rukun, atau sekadar dipaksa akur demi menghindari keributan?
Rukun karena Aturan
Membaca sejarah panjang bangsa ini, pemerintah selalu cenderung mengambil jalan aman agar konflik komunal tidak meledak. Caranya beragam, pembentukan forum lintas agama, deklarasi toleransi massal, hingga produksi wacana kerukunan melalui spanduk jalanan dan kampanye digital.
Masalahnya, kerukunan yang dibentuk lewat regulasi resmi sering terasa kaku di lapangan. Warga patuh secara kasatmata, tetapi di dalam hati, kepatuhan ini menyisakan rasa mengganjal. Mari kembalikan kata “toleransi“ pada akar etimologisnya. Berasal dari bahasa Latin tolerare yang berarti “menanggung”, toleransi dalam praktik sehari-hari sering tereduksi menjadi sekadar kompromi pragmatis.3 Ya, toleransi pada dasarnya adalah kompromi yang melelahkan. Warga menahan diri semata-mata karena mereka tinggal di lingkungan yang sama dan tidak memiliki alternatif spasial lain.
Ganjalan di Sudut Hati dan Realitas Keheningan
Mari kita lihat kenyataan di lapangan. Saya melihat umat Islam di Bali menerima dengan lapang dada, menjalankan takbiran tanpa kemeriahan yang biasa mereka nantikan.
Lain sisi, umat Hindu tahun ini juga mengalami pengalaman berbeda. Publik luar selalu membayangkan Nyepi sebagai keheningan mutlak. Kemampuan Bali menghentikan segala aktivitas manusia selama 24 jam penuh memang diakui dunia. Namun, mengutip Gde Aryantha Soethama dalam buku Dari Bule Jadi Bali halaman 31 menjelaskan, kenyataannya tak pernah sesunyi yang dibayangkan.4 Realitas di lapangan menunjukkan masih ada riak-riak kecil, ada yang diam-diam bermain “ceki” dari pagi hingga malam, atau sekadar keluar rumah untuk berkumpul. Terlepas dari dinamika tersebut, secara esensial Nyepi tetaplah sehari sakral untuk ketenangan dunia.
Tahun ini, umat Hindu mensyukuri kesunyian yang sebagian besar tetap terjaga. Paradoksnya muncul ketika aturan membolehkan Takbiran bersama dengan Nyepi di Bali. Mereka menerima kelonggaran tersebut dan patuh pada kesepakatan. Tetapi, di sudut hati kecil mereka, ganjalan itu tetap ada.
Stop Memaksa Semua Orang Berpikiran Sama
Kegagalan terbesar kita dalam merawat keberagaman adalah obsesi menyatukan hati semua orang. Kita terlalu sering mencekoki masyarakat dengan ilusi bahwa toleransi berarti menjadi “satu saudara”.
Pemikir politik John Rawls mengajukan gagasan overlapping consensus yang sangat provokatif.5 Dalam masyarakat yang beragam, kita tidak perlu mencapai kesepakatan tentang nilai-nilai tertinggi. Di tengah perbedaan keyakinan yang drastis, kesepakatan moral yang bulat adalah kemustahilan. Kita tidak perlu memaksa orang untuk saling mencintai. Kita hanya membutuhkan modus vivendi, sebuah kesepakatan tentang cara hidup berdampingan. Kesepakatan ini murni lahir dari akal sehat agar kita bisa bertahan hidup bersama, lepas dari romantisasi persaudaraan.6
Gagasan ini diperkuat oleh Chantal Mouffe melalui konsep Pluralisme Agonistik. Dalam The Democratic Paradox (2000), saya sepakat dengan peringatannya bahwa ilusi konsensus sempurna justru berpotensi memberangus keberagaman. Solusinya adalah transisi dari “antagonisme” (melihat yang berbeda sebagai ancaman) menuju “agonisme” (melihat yang berbeda sebagai entitas setara yang diakui hak hidupnya, meski kepentingannya berbenturan).7
Solusinya lugas, akui saja bahwa kita memang berbeda. Akui bahwa kepentingan kita kadang bertabrakan. Kuncinya ada pada sikap menghargai hak eksistensi masing-masing. Penerimaan umat Hindu terhadap suara samar takbiran di awal malam, serta “kepatuhan” umat Islam, adalah contoh rill kompromi akal sehat ini. Sebuah kesepakatan praktis.
Friksi Laten dan Ekologi Ruang Publik
Mengamati percakapan dan komentar warganet, saya menemukan adanya dilema struktural yang nyata. Bagi pemuda Muslim, restriksi ini mereduksi esensi perayaan komunal yang telah mengakar secara budaya. Sebaliknya, bagi umat Hindu yang menjalankan Amati Karya dan Amati Geni, kompromi di hari Nyepi adalah kelonggaran yang cukup berat atas ruang spiritual absolut mereka.
Kepatuhan lahiriah kedua belah pihak ini menyimpan residu psikologis berupa akumulasi kekecewaan mikro yang tak terartikulasikan. Oleh karena itu, metafora sosiologis “good fences make good neighbors” (pagar yang baik menciptakan tetangga yang baik) menemukan relevansinya yang paling kuat di sini.8 Rukun tidak berarti dinding rumah kita dan tetangga harus dijebol agar menyatu. Rukun justru tercipta ketika ada batas pagar yang jelas. Setiap pihak mengetahui batas masing-masing dan sepakat menghormatinya.
Kedewasaan Bernegara
Saya bermuara pada satu kesimpulan. Sudah saatnya kita mengubah cara pandang tentang toleransi. Rukun sejati tidak diukur dari seberapa keras kita memaksakan senyum kepada orang yang berbeda. Rukun sejati diukur dari seberapa patuh kita pada konsensus dan batas yang telah dibuat bersama.
Momen beririsannya Nyepi dan Takbiran tahun ini seyogianya tidak perlu dikomodifikasi menjadi sekadar retorika “indahnya kebersamaan”. Ini adalah wujud nyata kedewasaan masyarakat kita dalam mengatur ruang hidup komunal. Mendewasakan cara bernegara berarti berani menelan kenyataan untuk hidup damai, kita tidak diwajibkan untuk saling melebur. Kita cukup bersepakat untuk tidak saling melanggar batas.
Catatan Kaki
- Berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2026. Nyepi Tahun Baru Saka 1948 jatuh pada Kamis, 19 Maret 2026. Proyeksi astronomis dan kalender Islam (termasuk keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah) menempatkan 1 Syawal 1447 H beririsan dengan periode tersebut ↩︎
- Merujuk pada preseden Seruan Bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali dalam memitigasi tumpang tindih perayaan keagamaan di ruang publik. Selengkapnya lihat Kemenag (14 Oktober 2021), tautan: https://ntb.kemenag.go.id/artikel/ini-panduan-takbiran-di-bali-jika-idulfitri-berbarengan-dengan-nyepi ↩︎
- Media Indonesia. (14 Oktober 2021). “Apa Sih yang Dimaksud dengan Toleransi”. Diakses dari situs web Media Indonesia. ↩︎
- Soethama, Gde Aryantha. (2022). Dari Bule Jadi Bali. Denpasar: Penerbit Arti. Buku ini merekam berbagai anomali dan realitas kultural masyarakat Bali. ↩︎
- Madung, O. G. N. (2022). “Konsep Liberalisme Politik John Rawls sebagai Jawaban terhadap Tantangan Masyarakat Plural dan Kritik atasnya”. Diskursus – Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara, 18(2), 218-237. https://doi.org/10.36383/diskursus.v18i2.327 ↩︎
- Rawls, John. (1993). Political Liberalism. New York: Columbia University Press, hlm. 133–172. ↩︎
- Mouffe, Chantal. (2000). The Democratic Paradox. London: Verso, hlm. 80–107. ↩︎
- Terminologi spasial/teritorial ini terinspirasi dari pepatah dalam puisi karya Robert Frost, “Mending Wall” (1914). ↩︎








![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)
