• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Sunday, July 19, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Opini

Ketika Gunung Dikejar: Refleksi Wajah Baru Pariwisata Batur Kintamani

Renaldi Bayu by Renaldi Bayu
6 May 2025
in Opini
0
0

“Ketika keindahan alam dijadikan latar belakang bisnis, kita lupa bahwa alam bukan panggung, melainkan jiwa dari tempat itu sendiri.”

Pemandangan Gunung Batur yang dulunya terbentang luas dan memesona, kini perlahan mulai tertutup oleh deretan bangunan komersial yang menjamur tanpa kendali. Kintamani, daerah yang dikenal karena keindahan alam dan kekayaan budayanya, kini berada di persimpangan antara pelestarian dan eksploitasi.

Pembangunan kafe, restoran, dan swalayan modern memang membawa geliat ekonomi baru bagi masyarakat lokal. Akan tetapi di balik itu semua, ada harga yang diam-diam harus dibayar dan hilangnya harmoni antara manusia dan alam. Kemacetan yang terjadi hampir setiap hari, terutama saat upacara keagamaan, menunjukkan betapa infrastruktur yang ada belum siap menghadapi ledakan jumlah pengunjung. Jalanan sempit dan padat kendaraan tak hanya mengganggu aktivitas warga, tapi juga menciptakan tekanan yang besar pada ruang hidup dan spiritualitas kawasan ini.

Lebih dari itu, deretan bangunan di sepanjang jalan dan lereng tebing tak hanya mengganggu estetika lanskap, tapi juga mengundang potensi bencana. Banyak dari bangunan tersebut berdiri di zona hijau dan didirikan tanpa izin yang jelas. Di kawasan Penelokan, yang semestinya menjadi titik pandang utama keindahan Gunung Batur, Danau Batur, dan kalderanya, kini mulai terhalang oleh coffee shop dan tempat usaha lain yang menyalahi tata ruang.

Pembangunan yang tak terkendali ini tidak hanya mengaburkan pemandangan, tetapi juga merusak lingkungan. Pertanyaan mendasarnya; apakah benar pembangunan semacam ini akan memajukan Kintamani? Ataukah ini hanya sebuah bentuk kapitalisme pariwisata yang mengorbankan kelestarian alam dan budaya lokal?

Keadilan ekologis juga patut dipertanyakan. Ketika pembangunan hanya berpihak pada para kapitasis dan pertumbuhan ekonomi jangka pendek, sementara alam menjadi korban, di mana letak keberlanjutannya? Apakah ini sepadan dengan pendapatan yang dihasilkan?

Pemerintah daerah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap arah pembangunan di Kintamani. Kebijakan harus berpihak pada masa depan, bukan hanya pada keuntungan hari ini. Kawasan yang kaya akan keindahan alam dan nilai budaya ini seharusnya dijaga, bukan dikomersialisasikan tanpa batas.

Pariwisata seharusnya menjadi sarana untuk memperkuat identitas lokal dan melestarikan lingkungan, bukan sebaliknya. Jika tidak ada perubahan arah, kita bukan hanya kehilangan panorama indah, tapi juga kehilangan makna dari pariwisata itu sendiri.

sangkarbet kampungbet
Tags: gunung baturpariwisata baliWisata Kintamani
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Renaldi Bayu

Renaldi Bayu

Renaldi Bayu is a student at Udayana University specializing in critical social sciences, with a focus on sustainability and contemporary social phenomena, combining empirical analysis and philosophical reflection in the study of modern society.

Related Posts

Berendam di Air Panas Belulang

Bali Under Attack: Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

14 July 2026
Abrasi yang tak Pernah Henti di Pantai Kuta

Bali Sané Mangkin: Hegemoni Pariwisata di Balik Sikap Apolitis Masyarakat

14 July 2026
Abrasi yang tak Pernah Henti di Pantai Kuta

Gemerlap Pariwisata dan Kemegahan Ritual Bertemu Krisis Ketenteraman Batin

23 June 2026

Mall Baru akan Bermunculan, Warga Bali Khawatir Ruang Hidup Kian Sesak

27 May 2026
Angkat Topi Buat Wanita, Khususnya Wanita Bali

Orang Bali jadi Objek Perencanaan Pariwisata

6 May 2026
Refleksi Melasti: Tradisi dan Budaya Mengalah atas Nama Pariwisata

Refleksi Melasti: Tradisi dan Budaya Mengalah atas Nama Pariwisata

11 April 2026
Next Post
José: Realita Suram Kaum Marginal di Amerika Latin

José: Realita Suram Kaum Marginal di Amerika Latin

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Membaca Series Nature Crime Mongabay: Seberapa Jahat Manusia kepada Alam?

Membaca Series Nature Crime Mongabay: Seberapa Jahat Manusia kepada Alam?

17 July 2026
AMSI Minta Majelis Hakim Nyatakan Gugatan tidak dapat Diterima atas Kasus Perdata 4 Media

AMSI Minta Majelis Hakim Nyatakan Gugatan tidak dapat Diterima atas Kasus Perdata 4 Media

16 July 2026
Kitab yang Ditulis Alam: Membaca The Sacred Text of Padma Karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

Kitab yang Ditulis Alam: Membaca The Sacred Text of Padma Karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

16 July 2026
Konservasi Kawasan Pura dan Budidaya melalui Bambuloka dari Yayasan Bambu Lestari

Konservasi Kawasan Pura dan Budidaya melalui Bambuloka dari Yayasan Bambu Lestari

16 July 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia