• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, September 30, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Dulu Ya Dulu, Sekarang Ya Sekarang (Catatan untuk Sugi Lanus)

Angga Wijaya by Angga Wijaya
1 September 2017
in Budaya, Kabar Baru, Opini
0
1

Zaman telah berubah, termasuk soal nyastra.

Tulisan Sugi Lanus berjudul “Apakah jika Orang Bali Baca Karya Nietzsche Bisa Disebut “Nyastra”? – Merunut Kembali Arti Kata Sastra” yang dimuat di tatkala.co, 26 Agustus 2017 menarik dicermati. Penulis merunut arti kata sastra yang pingit dan sakral sekaligus mempertanyakan orang Bali yang membaca karya sastra penulis modern semacam Nietzsche, Kafka, Salman Rushdie atau Ayu Utami bisa disebut nyastra disertai berbagai argumen.

Sugi Lanus berpendapat kalau diamati secara saksama seseorang dikatakan nyastra apabila ia menekuni karya-karya sastra religius yang bernuansa Hindu (Sanskrit, Jawa Kuno, dan Bali) dan orang-orang yang menekuni kakawin Jawa Kuno atau Ramayana dan Sarasamuscaya serta berbagai tembang Jawa Kuno bisa dilabeli sebagai orang yang nyastra. “Sungguh sulit nampaknya bagi orang Bali bisa menyebut seseorang sebagai seorang yang nyastra bila ia menekuni karya-karya Nietzsche, Kafka, Salman Rushdie, atau Ayu Utami,” tulisnya.

Ia juga menyebut nyastraisme sudah memudar, seiring dengan arti kata sastra yang kian meluas. Menulis karya sastra sudah tidak relevan lagi disebut sebagai kegiatan “mencari tuhan”. Sastra sekarang dilihatnya sebagai karya-karya yang memperjuangkan ideologi dan ambisi pengarangnya, pengekspresian diri dan kegelisahan yang bebas, dibanding melihatnya sebagai jejak-jejak pencarian manusia dalam mencari Tuhan. Bukan lagi mengandung teks-teks suci, tetapi sebaliknya, mempertanyakan atau bahkan melawan kesucian.

Khas sarjana Sastra Bali, Sugi Lanus asyik bernostalgia dengan masa lalu di mana para penulis zaman dahulu sebelum menulis melakukan brata (puasa) dan aktivitas tersebut merupakan ekspresi pencarian Tuhan. Bahkan, penulis zaman dahulu menggunakan nama samaran untuk menghindarkan diri dari kepongahan. Ia kemudian membandingkan dengan penyair (Bali) zaman sekarang yang menulis dengan nama asli dan tak “malu” dengan publisitas.

Jika masa kini dibandingkan dengan masa lalu memang jauh berbeda dan tak seindah harapan. Bernostalgia memang asyik, namun kadang membuat kita hidup di masa lalu dan tak berpijak di masa kini serta cenderung utopis. Zaman telah berubah, banyak hal yang berkaitan dengan masa lalu kini punah dan berubah. Termasuk soal nyastra.

Sastra bagi saya ya sastra, produk kebudayaan suatu bangsa. Jika nyastra hanya diartikan sebagai hal yang suci dan religius maka lebih baik menyebutnya sebagai sastra tradisional-sakral dan sastra modern adalah sastra profan. Dikotomi ini lebih jelas sehingga tidak lagi ada klaim bahwa hanya mereka yang menekuni teks-teks kuno dan suci (Hindu) sebagai seorang yang nyastra.

Mereka yang belajar ilmu sastra di universitas baik Sastra Indonesia, Inggris, Jepang, Rusia Arab, Perancis atau sepanjang hidupnya sebagai pembaca dan penekun sastra (apapun) bisa disebut nyastra. Pengertian nyastra ala Sugi Lanus sangat sempit dan subyektif bagi saya, hanya berkutat pada etimologi dan latar pendidikannya sebagai sarjana Sastra Bali (dan orang Bali tentunya).

Daripada mengagung-agungkan masa lalu dan “mengutuk” masa kini ada baiknya kita mencari solusi melihat kurangnya minat generasi muda pada sastra, baik sastra Bali atau Jawa kuno. Para sarjana Sastra Bali yang notabena lebih paham karya masa lalu yang kebanyakan ditulis pada lontar ada baiknya menterjemahkan dan mereinterpretasi teks-teks kuno tersebut ke dalam bahasa Indonesia, atau mengemasnya secara digital sehingga generasi milenial bisa mengaksesnya tanpa perlu nangkil ke Griya, dengan aturan yang kadang merepotkan bagi generasi sekarang. Itu pun jika tak terbentur Aje Wera, sesuatu yang menjadi penghalang kemajuan ilmu.

Soal Nietzsche yang disebut sebagai ahli sastra anti-Tuhan tampaknya Sugi Lanus mesti membaca Nietzsche dengan kadar penghayatan yang sama ketika membaca Sarasmuscaya atau buku-buku “suci” lainnya.

Pendapat saya, andaikan Nietzsche lahir di India ia akan disebut Rishi oleh masyarakat di sana. Rishi artinya “Sang Pelihat”, ia yang bisa melihat apa yang tak terlihat oleh orang kebanyakan. Rishi juga visioner, berpandangan jauh ke depan melampaui zamannya. Karya dan pemikiran Nietzsche baru dipahami dan dihargai jauh setelah ia meninggal dunia.

Jangan-jangan Tuhan pun tertawa melihat diskusi kita soal sastra dan nyastra ini. Itupun kalau Tuhan tak mati seperti kata Nietzsche. [b]

Catatan editor:
Tulisan Sugi Lanus bisa dibaca di http://tatkala.co/2017/08/26/apakah-jika-orang-bali-baca-karya-neitzsche-bisa-disebut-nyastra-merunut-kembali-arti-kata-sastra/.

Kami tidak memasukkanya sebagai tautan karena ada peringatan tentang keamanan website Tatkala ketika membukanya. Kami tidak bertanggung jawab terhadap risiko keamanan yang akan dialami pihak lain ketika membuka tautan tersebut.

Tags: OpiniSastra
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Angga Wijaya

Angga Wijaya

Bernama lengkap I Ketut Angga Wijaya. Lahir di Negara, Bali, 14 Februari 1984. Menyukai dunia literasi sejak SMA. Pernah kuliah Prodi Antropologi Fakultas Sastra Universitas Udayana. Bekerja sebagai wartawan di Denpasar.

Related Posts

Bali dan Banjir: Apakah Kita Serius Menata Kota?

Kesalahpahaman dalam Penganggaran Mitigasi Bencana di Bali

25 September 2026
Napak Tilas Konflik Tanah Desa Adat Bugbug

Bugbug, Wilayah Frontier, dan Tubuh yang Dikorbankan

17 September 2026
Negara yang Meminta Kami Terus Beradaptasi

Negara yang Meminta Kami Terus Beradaptasi

16 September 2026
Inilah Kunci Kemewahan Sejati Primo Chocolate Bali

Gotong Atas, Royong Bawah

8 September 2026
Tumpek Uye: Manusia bukan Satu-satunya Mahluk di Bumi tapi Paling Invasif Merusak

Tumpek Uye: Manusia bukan Satu-satunya Mahluk di Bumi tapi Paling Invasif Merusak

6 September 2026
Warisan Budaya Kolonial Dulu dan Kini

Warisan Budaya Kolonial Dulu dan Kini

27 August 2026
Next Post
Pameran Kartun 50 Tahun Kesaksian Oom Pasikom

Pameran Kartun 50 Tahun Kesaksian Oom Pasikom

Comments 1

  1. dewa keta says:
    9 years ago

    Saya komen untuk melihat komen.

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Penataan Gajah Mada Memprioritaskan Pejalan Kaki

Penataan Gajah Mada Memprioritaskan Pejalan Kaki

29 September 2026
Peta Konflik Agraria di Bali

Peta Konflik Agraria di Bali

29 September 2026
Mencari Gas Elpiji 3Kg di Kota Denpasar Serasa Berburu Barang Selundupan

Mencari Gas Elpiji 3Kg di Kota Denpasar Serasa Berburu Barang Selundupan

28 September 2026
Makna dari Singkat yang Lekat di Minikino Film Week 2026

Makna dari Singkat yang Lekat di Minikino Film Week 2026

28 September 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia