
Penulis: Ni Nyoman Meliaria
Desa Pedawa merupakan desa tua di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali. Pedawa dikenal dengan dialek unik bahasanya yang berbeda dari dialek Bahasa Bali dataran, sekaligus ragam tradisi, dan ciri khas wajah yang dominan berbentuk bulat dan alis tebal. Saat ini, masyarakat hingga generasi muda tengah aktif melestarikan dialek khas tersebut di kegiatan sehari-hari maupun kegiatan budaya.
Bahasa Bali Aga, dialek khas Desa Pedawa memiliki perbedaan mencolok dibandingkan Bahasa Bali dataran, terutama pada akhiran dan pelafalan. Ciri khas utamanya adalah penggunaan akhiran “a” dan pelafalan yang jelas pada kata “sekaa”.
Keunikan ini menarik perhatian bagi para peneliti maupun masyarakat umum di luar Pedawa. Bahasa Pedawa ini cukup unik, selain digunakan dalam komunikasi sehari-hari, bahasa tersebut digunakan dalam nyapatin tua-tua dari banten sagi (menyapa orang yang sudah meninggal, namun belum suci dari sebuah banten sagi).
Digunakan pula pada saat matur piuning atau sembahyang menggunakan Bahasa Kesamen, untuk dewa, Bhuta Kala, dan orang yang sudah meninggal, serta sudah diupacari dalam keadaan suci menggunakan Bahasa Bali Alus.
Bahasa Pedawa dengan dialek dan pelafalannya yang khas ini telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi identitas kuat masyarakat Pedawa. Untuk menjaga kelestarian bahasa ini, masyarakat Pedawa menekankan agar selalu menggunakan Bahasa Pedawa sebagai alat komunikasi dalam keseharian di desa, maupun di luar desa seperti perantauan ketika bertemu dengan orang sesama orang Pedawa. Terutama pada generasi muda agar tetap menjaga warisan tersebut dan tidak punah.
Namun, yang menjadi tantangan pada era sekarang adalah pengaruh bahasa daerah lain atau bahasa gaul dan Bahasa Indonesia yang semakin dominan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga pelestarian Bahasa Bali Aga sangat penting.
Melestarikan Bahasa Bali Aga bukan hanya menjaga komunikasi, tetapi juga mempertahankan identitas budaya Desa Pedawa. Dengan dukungan seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda, warisan berharga ini akan terus hidup di tengah perkembangan zaman yang cepat dan perubahan sosial yang semakin dinamis.
(Salah satu karya Kelas Jurnalisme Warga Desa Pedawa)
sangkarbet kampungbet










