
“Pade nyame Bali kalah kalahang rage, mani ade bule ngamuk sing ade ngenah nak sakti nak siteng, Rahayu sareng sami,” — keluh seorang netizen yang resah ketika konten adu kekuatan (Jro Jepang) menumbuhkan suasana konflik sosial.
Di tengah derasnya arus media digital dan gelombang algoritma yang tak henti menggiring perhatian, kita sering kali terbawa ke dalam ruang yang samar antara kenyataan dan konstruksi virtual. Tanpa sadar, kita hidup dalam dunia yang terus bergerak, namun tak selalu memberi ruang untuk jeda dan refleksi.
Bali, dengan segala keadiluhungan budayanya, tentu tak ingin terputus dari akar tradisi. Namun, di saat yang sama, Bali juga tak ingin dicap kolot karena dianggap tidak mampu bersinergi dengan perkembangan zaman dan teknologi.
Identitas Bali di Era Digital
Lalu bagaimana wacana identitas Bali berkembang di era digital saat ini? Di tengah derasnya pertukaran informasi dan banjir konten, muncul sosok yang menggugah perdebatan tentang keaslian, otoritas, dan kelayakan seseorang untuk berbicara atas nama Bali.
Melalui media sosial, ia menyampaikan kritik terhadap praktik-praktik kebudayaan yang dianggap manipulatif atau menyesatkan. Ia menyematkan gelar “Jro” pada dirinya—sebuah simbol yang dalam narasi budaya Bali memiliki makna spiritual dan sosial yang dalam. Tentu saja hal ini memunculkan pertanyaan: siapa yang berhak menafsirkan nilai-nilai budaya Bali dan bagaimana representasi itu dikonstruksi dan diperebutkan di ruang publik.
Mengacu pada pemikiran Stuart Hall, identitas kultural tidak bersifat esensial atau final, melainkan terbentuk melalui representasi. Identitas adalah proses diskursif—selalu dalam proses menjadi, terhubung dengan waktu, tempat, dan relasi kuasa. Michel Picard dalam bukunya Kebalian: Konstruksi Dialogis Identitas Bali menjelaskan bahwa pembentukan ke-Bali-an berlangsung dalam dialog antara kelompok internal dan eksternal.
Identitas Bali bukanlah monolitik, tapi arena konflik dan negosiasi simbolik antar berbagai aktor. Oleh karena itu, ke-Bali-an bukanlah sesuatu yang tunggal atau murni, melainkan hasil perjumpaan antara sejarah, budaya lokal, pengaruh luar, dan kini: logika algoritma serta pasar wacana digital.
Sosok seperti Jro Jepang maupun figur-figur serupa adalah representasi dari tafsir baru identitas Bali. Ia bukan bagian dari kasta spiritual tradisional, bukan pemangku adat, tetapi justru menggunakan bahasa spiritualitas dan ilmu populer untuk menafsir ulang simbol-simbol Bali. Ia adalah cerminan dari transformasi identitas yang kini berlangsung di banyak ruang, termasuk di luar sanggar dan pura, seperti di layar ponsel dan kanal YouTube.
Jro Jepang dan mereka lainnya bukan sekadar fenomena lokal; mereka adalah produk dari budaya digital. Kehadirannya di berbagai format media sosial menunjukkan bagaimana teknologi membuka ruang baru untuk produksi identitas dan otoritas. Mereka melampaui batas-batas geografis dan struktur adat. Namun, ruang virtual ini juga menciptakan konflik baru, karena otoritas budaya yang sebelumnya dijaga secara hierarkis kini menjadi lebih cair dan terfragmentasi.
Di sinilah muncul apa yang disebut Homi Bhabha sebagai “ruang antara” (in-between space), di mana makna identitas dinegosiasikan secara hibrid. Jro Jepang dan mereka lainnya adalah figur hibrid, memakai simbol Bali, tetapi dengan gaya komunikatif global; menampilkan wacana spiritual, namun dengan narasi ilmiah dan skeptis. Dalam kajian budaya, posisi seperti ini sering disebut sebagai “ambivalen” sekaligus subversif dan terkooptasi oleh sistem dominan.
Menafsir Ulang Tradisi, Menjaga Nilai
Fenomena ini membawa kita pada perdebatan lama tentang otentisitas budaya dan hak untuk menafsirkan ulang tradisi. Dalam sejarahnya, Bali bukanlah entitas tertutup. Pulau ini terbentuk dari berbagai arus migrasi, interaksi lintas budaya, dan adaptasi spiritual yang dinamis. Namun Bali juga memiliki batas dan sistem sosial yang dijaga ketat, terutama dalam ranah adat dan agama. “Ke-Bali-an”, dalam pandangan banyak orang, bukan sekadar tinggal di Bali atau menguasai bahasa dan simbol lokal. Ia adalah soal rasa hormat terhadap sistem nilai yang hidup, kesadaran akan posisi diri dalam tatanan adat, serta kesediaan untuk berproses dalam komunitas.
Ketika seseorang mengklaim identitas kultural tanpa melalui laku dan legitimasi sosial, yang muncul bukan penerimaan, melainkan penolakan. Kasus Jro Jepang memperlihatkan pentingnya etika dalam kebudayaan. Kritik terhadap praktik spiritual palsu tentu sah dan bahkan penting. Namun, cara dan konteks penyampaiannya menentukan apakah ia akan membangun dialog atau memicu konflik.
Dalam masyarakat tradisional, penghormatan tidak hanya kepada isi, tetapi juga kepada bentuk dan cara bertutur. Lebih jauh lagi, peristiwa ini menjadi cermin bagi kita semua: bahwa identitas budaya adalah medan negosiasi antara warisan dan pembaruan, antara kekuasaan simbolik dan hak untuk bertanya. Bali tidak akan bertahan dengan menutup diri, tapi juga akan kehilangan jiwanya jika terbuka tanpa batas. Maka, jadilah Bali tanpa melukai Bali itu sendiri.
(I Gusti Agung Gede Artanegara, pemerhati teknologi dan budaya)
sangkarbet kampungbet



![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)



