• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Thursday, January 22, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Catatan Mingguan Men Coblong: Gawai

Men Coblong by Men Coblong
29 July 2018
in Berita Utama, Esai
0
0
Anak-anak main gawai di salah satu SD di Denpasar. Foto Men Coblong.

MEN COBLONG belakangan ini sungguh prihatin dan jujur saja nelangsa. Juga migren akut.

Masalah di negeri ini makin hari bukannya makin berkurang tapi justru makin bertambah dan makin tidak masuk akal. Padahal di setiap acara berisi pidato-pidato suara-suara para petinggi negeri terdengar begitu indah dan membuai.

Seolah semua kata-kata indah itu mampu membuat para “umat” di negara ini akan ketiban kesejahteraan yang berlimpah. Gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja.

Mimpi menjadi sejahtera di Indonesia memang harapan yang paling dalam tumbuh dan menjalar di tubuh Men Coblong. Rasanya impian-impian semasa muda ketika berumur 20-an mengambang setelah usia Men Coblong menginjak setengah abad.

“Kau bermimpi apa lagi tentang negeri ini?” suara sahabatnya membuat Men Coblong merengut. Mimpi? Apakah layak memiliki mimpi lagi di tengah beragam onak yang makin hari makin aneh.

Salah satunya adalah persoalan gawai yang menyita fokus dan perhatian generasi muda Indonesia. Masalah gawai yang terhubung dengan sistem daring dengan berbagai fitur, menurut sebuah harian pagi ternama di Indonesia, ibarat pisau bermata dua, yang bisa bermanfaat, tetapi juga bisa membahayakan kehidupan anak-anak. Sejumlah anak mengalami “gangguan jiwa” akibat kecanduan gawai.

Men Coblong jujur saja prihatin, tetapi apakah cukup prihatin saja? Pengalaman Men Coblong yang memiliki anak dari generasi Z, justru memiliki beragam pengalaman menarik. Ketika Men Coblong berkunjung ke SDN 21 Desa Dauh Puri Kauh Denpasar, yang diisi anak-anak dengan ekonomi terbatas dengan fasilitas terbatas juga. Banyak anak di sekolah yang terletak di pinggir kali Badung ini sehabis pulang sekolah justru membantu orangtua mereka mempersiapkan dagangan. Mereka membantu menyokong ekonomi keluarga.

Di SD yang tentu saja tidak terjamah pers ini, guru-guru dengan segala keterbatasan dan ruang kelas yang juga tidak begitu lengkap harus memiliki ide-ide gemilang untuk mengejar beragam trik dan teknik untuk membuat anak-anak di siini memiliki mimpi tinggi dan merasa nyaman di sekolah.

“Dengan segala keterbatasan secara ekonomi yang dimiliki anak-anak di SD ini, para guru justru merasa ilmu yang selama ini hanya dipelajari dalam teks-teks baku di bangku sekolah guru justru teruji. Jadi ilmu mereka berguna di sekolah ini, karena guru-guru di sini harus memiliki beragam ide-ide untuk membuat anak-anak di selah ini betah berlama-lama berada di sekolah. Sekolah kan bukan hanya tempat belajar saja tetapi juga bermain. Bermain sambil belajar.”

Kesadaran para guru di SD ini memang teruji, karena guru-guru di SD ini sadar betul, banyak anak-anak yang ikut bekerja membantu orangtua mereka. Karena banyak orangtua di sekolah ini bekerja di sektor informal.

Dengan ekonomi yang serba terbatas itu, para guru juga tidak bisa mengharapkan sumbangan dana yang agak lebih untuk fasilitas sekolah. Boro-boro mau jadi donatur, untuk hidup sehari-hari saja mereka harus lintang pukang memiikirkan beragam cara untuk menghidupi keluarga mereka.

Kelelahan, fasilitas yang minim kondisi seperti ini ada di sekolah-sekolah yang berada di kota besar. Sekolah-sekolah yang jarang dilirik, jarang dibidik. Karena memang sekolah dasar seperti ini tidak memiliki “dana” untuk ongkos para “pengunjung” yang datang.

Yang membuat Men Coblong takjub, ada saja ide-ide cemerlang para guru.

“Di SD ini jarang anak memiliki gawai. Bisa dihitung dengan jari,” papar seorang guru. Makanya para guru pun harus ikhlas dipinjam gawainya untuk menelpon orangtua jika anak-anak belum dijemput, atau ada insiden yang tidak diinginkan seperti, anak sakit.

Pengalaman mengunjungi sebuah SD di pinggir kali Badung itu membuat Men Coblong berpikir dan mendapat ide. “Bagaimana kalau pemerintah memasukkan pelajaran IT di sekolah-sekolah.” Men Coblong berkata pada sahabatnya.

“Dulu juga sekolah menengah di pusat kota Denpasar ada laboratorium komputer. Hasilnya? Tidak efektif juga, wong kurikulum selalu berubah, selalu menyesatkan. Ada-ada saja aturan-aturan baru,” Sahut sahabat Men Coblong gemas.

Ya, Men Coblong ingat dulu di sekolah menengah di pusat kota Denpasar ada ekstrakulikuler komputer. Begitu anak Men Coblong masuk sekolah menengah top ini, beragam ekskul raib. Masalahnya bukan pada guru — karena di sekolah ini para orangtua mau menyumbangkan uang berapa saja asal fasilitas mumpuni. Yang menghajar beragam kebijakan yang telah dibuat sekolah ini jadi berantakan adalah usulan-usulan “maha cerdas” — kurikulum selalu diotak-atik. Padahal sederhana saja, masukkan pelajaran informasi teknologi dalam kurikulum — dijamin anak-anak di tingkat dasar dan menengah akan paham dan khatam.

“Itu ‘kan maumu? Memangnya kamu menterinya?” suara sahabat Men Coblong terdengar sinis. [b]

Tags: esaiMen CoblongPendidikanTeknologi
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Men Coblong

Men Coblong

Men Coblong — Mantan buruh pers koran lokal. Ibu seorang anak lelaki.

Related Posts

Herbalova, Pendokumentasian Tanaman Obat dari Imaji Anak-anak

Mengapa Laki-Laki Lebih Mudah Menangis karena Sepakbola daripada Cinta?

4 January 2026
Aku Sawah: Ruang Hidup yang Diperebutkan

Aku Sawah: Ruang Hidup yang Diperebutkan

8 December 2025
Serbuan Konten AI: Ketika Membedakan Asli dan Palsu itu Melelahkan

Kontroversi Jasa Joki Tugas Kuliah

26 November 2025
Apa yang Orang Tua tidak Paham dari Aktivitas Online Generasi Z dan Generasi Alpha

Apa yang Orang Tua tidak Paham dari Aktivitas Online Generasi Z dan Generasi Alpha

30 May 2025
Hibah itu Dana Publik, Digunakan sebagai Modal Pilgub?

Hibah itu Dana Publik, Digunakan sebagai Modal Pilgub?

13 August 2024

Produktif Berkarya selama Magang di BaleBengong

15 May 2021
Next Post
Satukan Kekuatan Lingga Yoni Demi Tolak Reklamasi

Satukan Kekuatan Lingga Yoni Demi Tolak Reklamasi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Ratusan Titik di Bali Alami Bencana

Menghitung Konversi Tutupan Lahan Bali Menjadi Lahan Terbangun

21 January 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Finansialisasi Desa-desa di Bali

20 January 2026
Mosi Tidak Percaya adalah Pemuda yang Bersuara

Aksi Agustus: Dewan Pers Menugaskan Ahli Pers Memantau Kasus Kekerasan pada Jurnalis di Bali

20 January 2026
Permasalahan Petani Hutan di Bali

Permasalahan Petani Hutan di Bali

19 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia