
Karena aku sawah.
Dan selama aku ada, kehidupan masih mungkin tumbuh.
Aku ingin memperkenalkan diri, meski manusia jarang benar-benar mendengarkan tanah yang diinjaknya. Namaku tidak pernah jauh dari lumpur, air, dan sesuatu yang kalian sebut “padi”. Kalian memanggilku sawah. Ruang yang basah, hijau, lengang, dan tampak sederhana. Kini aku sering dianggap latar belakang foto, tempat singgah sesaat.
Aku bukan ruang kosong.
Aku adalah tubuh yang tidak pernah berhenti bekerja.
Hari ini, sebelum aku benar-benar hilang dari peta dan ingatan, aku ingin bercerita dari sudutku. Sudut di mana aku selalu menanggung akibat pilihan manusia.
Inilah aku: sawah, ruang hidup yang sedang diperebutkan.
Betapa seringnya aku mendengar manusia menyebutku “Indah. Estetik. Instagramable.”
Aku tersenyum getir.
Ketika kalian hanya datang untuk memotretku, apakah kalian benar-benar mencintaiku, atau hanya sedang mengoleksi kemasan dari sebuah keindahan yang tidak kalian rawat?
Orang-orang sering bilang aku diperebutkan oleh petani, pengembang, pejabat, atau investor.
Satu melihat tanah sebagai tubuh yang memberi makan.
Satu melihat tanah sebagai aset yang bisa dipindah-tangankan.
Satu menanam benih untuk masa depan.
Satu menanam beton untuk keuntungan hari ini.
Dalam peperangan dua cara pandang itu, aku menjadi korban. Setiap kali beton menutup permukaanku, siklus hidup terhenti: air tak lagi meresap, tanah tak lagi bernapas, akar tak lagi tumbuh, suhu mengeras, burung dan capung pergi.
Kehidupan mundur selangkah demi selangkah. Dan dengan setiap langkah itu, aku kehilangan diriku sendiri.
Manusia membutuhkan air, tetapi menutup sumber air.
Manusia membutuhkan udara sejuk, tetapi menebang penjaga kesegaran itu.
Manusia membutuhkan pangan, tetapi menghancurkan tempat lahirnya.
Ada prinsip sederhana yang kutemukan dari perjalanan panjangku, bahwa segala yang hidup membutuhkan ruang.
Padi membutuhkan ruang untuk mengakar.
Air membutuhkan ruang untuk mengalir.
Burung dan hewan-hewan membutuhkan ruang untuk mencari makan.
Petani membutuhkan ruang untuk bekerja.
Tetapi ruang, bagi manusia, justru menjadi medan perang.
Semakin kalian menginginkannya, semakin kalian saling salip.
Aku tidak merasa memiliki siapa pun. Aku hanya ingin memberi ruang kepada semua yang kecil, yang rapuh, yang lelah, yang mencari rumah, yang mencari makan, juga yang mencari ketenangan.
Tetapi ruang yang kuberi makin lama makin dipersempit.
Aku tidak ingin dipuja.
Aku tidak peduli dijadikan ikon.
Aku tidak ingin dijadikan destinasi yang dipercantik hanya untuk mata yang rakus.
Aku hanya ingin dibiarkan hidup sebagai tanah.
Sebagai sawah.
Sebagai ruang yang bisa bekerja tanpa harus membuktikan keindahannya setiap detik.
Biarkan aku tumbuh.
Biarkan akar-akar kecil merayap di tubuhku.
Biarkan air menyelinap ke sela-selaku.
Biarkan burung-burung, capung, kaki petani, kembali setiap pagi.
Tubuhku adalah Buku yang Bisa Kalian Baca.
Jika kalian ingin memaknai dunia, mulailah dari tanah yang kalian injak.
Jika kalian ingin memahami proses, ingatlah bahwa hidup dimulai dari benih.
Karena aku sawah.
Dan selama aku ada, kehidupan masih mungkin tumbuh.
Pada akhirnya jika aku buku yang tidak lagi dibaca. Maka aku akan menghilang. Begitu pula benih dan tanah.










