
Generasi Z dan generasi alpha, dua generasi yang tumbuh berbarengan dengan perkembangan teknologi. Ketika mencari tahu pengelompokkan generasi, tiap sumber memiliki pengelompokkan yang berbeda-beda. Salah satu lembaga riset, Pew Research Center menggolongkan kelahiran tahun 1997-2012 sebagai generasi Z, sedangkan kelahiran tahun 2013 dan seterusnya merupakan generasi alpha.
Tumbuh berbarengan dengan teknologi, tidak lepas pula dua generasi ini dari teknologi. Smartphone, internet, dan kecerdasan buatan adalah hal yang lumrah bagi generasi Z dan generasi alpha. Jika kamu tergolong dua generasi ini, coba cek screen time di smartphone kamu, berapa rata-ratanya?

Saya mengumpulkan tiga teman saya yang tergolong generasi Z, yaitu Zulfa, Utami, dan Milah. Durasi waktu yang mereka habiskan di smartphone bermacam-macam. Hal ini tentu dipengaruhi oleh keseharian dan pekerjaan mereka.
Zulfa, seorang ilustrator menghabiskan waktu rata-rata 8 jam sehari untuk bermain smartphone. Sisanya ia habiskan untuk menggambar di atas tablet. Menariknya, X menjadi aplikasi yang paling lama Zulfa gunakan. “Karena harus jbjb di akun gambarku biar pas aku post gambar dia algoritmanya muncul,” ujar Zulfa.
Beberapa pembaca mungkin kebingungan, apa itu jbjb dan memangnya seperti apa algoritma X?
Jbjb adalah singkatan dari ‘join bareng join bareng’, singkatan di X yang artinya ikut nimbrung. Kata ini biasanya digunakan ketika ada pengguna yang ingin bergabung di suatu percakapan. Bahkan, di X ada komunitas mutualan yang digunakan pengguna X untuk mencari mutual. Dalam kasus Zulfa, dirinya sering jbjb karena algoritma X dipengaruhi intensitas interaksi antar pengguna.

Selain Zulfa, ada juga Utami yang menghabiskan banyak waktu di aplikasi X. Dalam sehari, Utami menghabiskan setengah harinya di smartphone, yaitu 12.5 jam. Tipikal generasi Z adalah tidak cukup memiliki satu akun, Utami sendiri memiliki tiga akun. “Satu akun buat baca AU, satu akun buat menggulingkan rezim, satu akun buat nge-hype One Direction, walaupun band-nya udah hilang,” kata Utami diikuti seruan sedih dari yang lain karena turut berduka One Direction tidak kunjung kembali.
Bahasa baru muncul lagi. Bagi yang belum tahu, AU merupakan singkatan dari ‘alternate universe’. Di aplikasi X, AU merupakan sebutan untuk fanfiction, cerita yang dibuat penggemar dengan visualisasi idolanya. Ada banyak AU bertebaran di X, beragam pula genrenya. Jika kamu ingin mencoba membaca AU, saya merekomendasikan Shaka Oh Shaka karya adik Joshua Suherman.
Berbeda dengan dua generasi Z di atas, Milah lebih banyak menghabiskan waktu di WhatsApp. Ia sendiri heran kenapa waktunya paling banyak di aplikasi itu, usut punya usut karena banyak menghabiskan waktu berkirim pesan dengan pacarnya.
Lalu bagaimana dengan generasi alpha?
Tata merupakan satu dari sekian juta generasi alpha. Sehari-hari, penggunaan smartphone Tata dibatasi oleh orang tuanya karena ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Saat ujian berlangsung, Tata hanya diberi waktu 3 jam untuk bermain smartphone. Kalau tidak ada ujian, ia punya lebih banyak waktu, yaitu 6 jam.
Aplikasi yang paling sering Tata buka adalah Roblox, games yang sedang tren di kalangan generasi alpha. Roblox merupakan platform game online yang memungkinkan pengguna untuk membuat, berbagi, dan memainkan berbagai jenis permainan. “Banyak map dan banyak juga player lain yang bisa diajak temenan,” ungkap Tata ketika ditanya serunya bermain Roblox. Di aplikasi Roblox, Tata mengaku memiliki teman online dari Amerika yang berusia 18 tahun.

Mencoba memahami Tata, saya mengunduh aplikasi Roblox di smartphone. Tampilannya mirip Minecraft yang pernah tren pada masanya. Pada halaman pertama ada banyak pilihan permainan yang bisa dicoba. Bagi saya, perlu waktu untuk memahami Roblox.
Tiap individu memiliki cara tersendiri dalam menggunakan teknologi. Ini bukan perihal generasi, tapi tergantung masing-masing individu. Misalnya, pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Saat ini, setiap aplikasi memiliki AI, seperti X dengan Grok, perusahaan Meta dengan Meta AI, kemudian ada pula ChatGPT, Perplexity, dan aplikasi AI lainnya.
Dalam penggunaan AI, Zulfa dan Utami memiliki kesamaan, yaitu menggunakan AI untuk menggali ide ketika membuat skripsi. Saat sedang buntu ide, Zulfa diberitahu oleh temannya untuk mencoba ChatGPT. “Kamu coba aja nanya ke ChatGPT buat poin-poinnya. Nanti kan dia ngasih poin-poin. Nah, nanti kamu kan jadi ada ide,” terang Zulfa. Menurutnya, ChatGPT bisa dimanfaatkan untuk menggali ide, bukan untuk disalin sepenuhnya. “Kalau buat ide mah nggak apa-apa gitu, yang penting jangan disalahgunakan aja,” imbuhnya.
Penggunaan AI untuk menggali ide juga dilakukan oleh Utami. Selain menggali ide, Utami juga kerap curhat dengan ChatGPT. “Karena kita tidak bisa menceritakan kepada manusia,” ujarnya yang disahuti anggukan oleh yang lain. “Menurutku bukan ke lebih manusiawi, tapi kadang tuh kita butuh yang one sided aja gitu loh,” imbuhnya.
Hal serupa juga dilakukan oleh Milah. Bedanya, Milah memilih curhat di Grok, AI milik aplikasi X. “Soalnya dia memvalidasi,” ungkap Milah. Ketika curhat atau sekadar cerita dengan teman, terkadang beberapa orang malah membanding-bandingkan, padahal yang dibutuhkan hanya semangat, validasi, dan wadah untuk mendengarkan. “Kamu tinggal cerita aja what you feel gitu, terus dia kayak memberikan semangat, kayak nggak apa-apa kok, tenang aja, gitu-gitu deh,” ungkap Milah.

Generasi alpha pun tidak lepas dari ChatGPT. Ditambah, usia generasi alpha masih duduk di bangku SMP dan SD, sehingga AI dimanfaatkan untuk mencari jawaban dari satu permasalahan atau pertanyaan, seperti yang dilakukan Tata. Salah satu temannya merekomendasikan ChatGPT dibanding Google untuk membantu mengerjakan tugas karena katanya ChatGPT lebih akurat.
“Tapi lebih sering pakai Google sih. Kalau Google-nya nggak bisa jawab, pakai ChatGPT,” ujar Tata. Biasanya, Tata menggunakan ChatGPT ketika jawaban dari pertanyaan tidak ada di buku pelajaran.
Selain memudahkan mencari jawaban, teknologi juga memudahkan transaksi digital. Banyak permainan online yang kini berbayar, seperti pembelian diamond dan lain-lain. Ketika mencoba aplikasi Roblox pun muncul beberapa tawaran membeli Robux, sebutan uang di Roblox. Pilihan tersebut muncul beberapa kali dan sebenarnya membuat saya sedikit jengkel.

Transaksi di games dilakukan oleh Zulfa. Bukan di aplikasi Roblox, melainkan Genshin Impact. Genshin Impact merupakan permainan video di dunia fantasi. “Kayak Genshin, itu kan game gacha. Nah, itu mama aku nggak tau aku suka top up game gacha,” ujar Zulfa. Dalam permainan, gacha merupakan sistem ketika pemain dapat membeli hadiah acak, baik itu karakter atau item, dengan uang sungguhan. Dulu, setiap bulannya Zulfa transaksi sebesar Rp60.000. Saat ini Zulfa sudah tidak bermain Genshin Impact karena membutuhkan penyimpanan yang besar.
Kembali berbicara tentang aplikasi X, aplikasi ini menyimpan sejuta rahasia. Bukan hanya banyak AU biasa, banyak pula AU bergenre BxB. Sebagai informasi, BxB merupakan singkatan Boy by Boy atau Boy’s Love. Mengacu pada hubungan romantis atau intim antara karakter pria. Selain BxB, ada pula GxG atau Girl’s Love yang berarti hubungan romantis atau intim antara karakter perempuan.
Zulfa dan Utami merupakan dua di antara jutaan pengguna X yang menyukai kisah BxB. “Aku sangat into BxB banget. Of course, mama aku nggak tahu yang seperti itu,” ungkap Zulfa sembari terkekeh. Sementara itu, Utami membawa kegemarannya lebih jauh lagi, ia bahkan mengangkat topik skripsi mengenai BxB.
Ketika membaca artikel ini, apakah kamu merasa banyak menemukan kata-kata baru?
Semakin hari semakin banyak slang atau kata gaul yang bermunculan di media sosial. Generasi Z yang sering menghabiskan waktu di X mungkin akrab dengan bahasa willy the kid yang diinisiasi oleh akun X @cursedkidd. Keunikan willy the kid adalah ketikannya yang singkat, padat, dan random, seperti ‘blm ada yg mw sama km?’. Kata-kata lain yang kerap digunakan generasi Z, seperti kalcer, sus, skena, slay, flexing, healing, dan kata gaul lainnya.
Bahasa generasi Z sebenarnya masih bisa dipahami karena banyak diadopsi dari bahasa lain. Lain halnya dengan generasi alpha. Seperti Tata yang di rumahnya kerap mengatakan ‘skibidi’ yang berarti buruk (tergantung konteks). Video dari kreator TikTok di bawah ini mungkin bisa membantu kamu memahami bahasa generasi alpha.
@tiffany.octavia I’m scared of Gen Alpha ? #genalpha#skibidi#sigma#genalphaslang? original sound – Tiffany Octavia
Perasaan susah dalam memahami tiap generasi adalah hal yang wajar. Pasalnya, tiap generasi tumbuh dalam lingkungan yang berbeda. Semoga artikel ini dapat membantumu memahami generasi Z dan generasi alpha.
kampungbet










