
Dikit-dikit Gen Z, dikit-dikit Gen Z. Pemikiran itu tiba-tiba terlintas kala For Your Page (FYP) TikTok saya dipenuhi tingkah Gen Z di tempat kerja. Salah satu konten mengatakan Gen Z memiliki mental lemah, nggak becus kerja, dan harus diajari dari awal. Konten lain mengatakan Gen Z banyak mau, minim pengalaman kerja, tapi meminta gaji yang besar, dan lebih mementingkan work life balance.
Pew Research Center membagi generasi dalam lima kategori berdasarkan tahun kelahiran. Generasi Z merupakan orang yang lahir dari tahun 1997-2012, generasi milenial lahir tahun 1981-1996, generasi X lahir tahun 1965-1980, boomers lahir tahun 1946-1964, dan silent lahir tahun 1928-1945. Pembagian ini didasarkan pada perbedaan faktor politik, ekonomi, dan sosial dari tahun ke tahun.
Pada tahun 2025, Gen Z adalah orang-orang yang berusia 13-28 tahun. Artinya, para pencari kerja dan pekerja saat ini didominasi oleh Gen Z. Generasi ini adalah orang-orang yang lahir berbarengan dengan perkembangan teknologi, kesehariannya tidak lepas dari teknologi. Maka dari itu, kerap disebut digital centric.
Gen Z kerap kali dipandang lemah oleh generasi sebelumnya. Biasanya kalau ada tingkah di luar nurul (nalar), mereka akan menuding Gen Z. Namun, sebuah percakapan di grup kecil dalam pertemanan saya membuat saya menyadari bahwa sebenarnya pola ini berulang dari generasi ke generasi.
“Mereka, superioritas boomer, milenial, dan kawan-kawan merasa paling oke. Tapi aku juga sebagai Gen Z nggak paham sama jokes-nya gen alpha. Mungkin beberapa tahun lagi kitalah boomer yang menyebalkan itu,” kata Lia. Lia menambahkan bahwa setiap generasi akan merasa superior pada masanya. Gen alpha merupakan generasi yang lahir setelah Gen Z, yang juga disebut sebagai generasi digital karena tumbuh di tengah kemajuan teknologi yang pesat.
Menengok generasi lain yang memandang lemah Gen Z, seorang teman yang lain menimpali bahwa ini adalah faktor kecemburuan dari generasi sebelumnya. “Karena Gen Z tumbuh di era yang serba gampang. Di saat boomer, milenial harus susah payah dengan segala kondisi mereka, ngelihat Gen Z yang hidupnya kelihatan instan, nggak perlu susah-susah, makanya mereka nyebut Gen Z itu lemah, nggak tahan banting,” tutur Atika.
Atika juga menyebutkan bahwa tingkah Gen Z yang digeneralisir berasal dari pengalaman bersama, bahasa kerennya sharing experience. Sebenarnya hal ini juga terjadi pada generasi sebelumnya. Contoh gampangnya mungkin kalian pernah mendengar orang tua berkata bahwa mereka harus berjalan kaki melewati hutan atau sawah untuk mencapai sekolah. Mungkin dalam beberapa tahun ke depan kita juga akan mengatakan hal serupa kepada generasi alpha, misalnya ‘kamu enak sekarang, dulu ibu nggak bisa sekolah dua tahun gara-gara Covid’.
Kalau kata salah satu teman saya yang lain, fenomena ini disebutnya sebagai suhu mentality. Sekadar informasi, suhu dalam bahasa gaulnya dimaknai sebagai guru atau senior yang berpengalaman di suatu bidang. “Kayak merasa paling tua, paling benar, yang lain kurang pengalaman, nggak sebanyak kita,” ujar Milah.
Suatu saat, suhu mentality ini mungkin juga akan terjadi pada Gen Z atau mungkin sudah terjadi. Coba ingat kembali percakapan kalian dengan orang sekitar ketika melihat anak SD atau SMP saat ini. Apakah pernah terucap anak zaman sekarang begini, anak zaman sekarang begitu, kemudian membandingkannya dengan masa kalian?
uc3mun.anudi.org sangkarbet sangkarbet kampungbet







