
Banyak berseliweran rekomendasi kuliner di Bali dari beberapa content creator di laman For You Page TikTok saya. Mulai dari kata-kata hook seperti legend, hidden gem, dan sebagainya, terkadang diselipkan informasi promo tertentu, hingga penyajian atau tampilan makanan mencolok yang menurut saya pribadi lebih cocok masuk galeri seni daripada piring makan.
Sebagai pecinta kuliner, tentu video-video tersebut menarik perhatian saya dan menambah daftar panjang tempat makan yang ingin dicoba. Sontak memencet tombol share sebagai ajakan kepada teman untuk mencoba bersama. Yuk, mari kita coba.
“Kami datang ke sini karena rekomendasi TikTok.”
“Menu ini katanya recommended.”
Begitulah kira-kira komentar yang sering terdengar ketika saya mencoba spot makan baru.
Rekomendasi dari TikTok atau Instagram membawa saya bersama teman menjelajah rasa. Kadang hasilnya sebanding dengan ekspektasi, bahkan melebihi. Tapi tidak jarang juga rasa kecewa muncul; rasanya biasa saja, tapi tempatnya cukup estetik dan hype. Fenomena lapar mata, lebih tertarik pada tampilannya dibanding rasa sebenarnya.
Industri kuliner khususnya di Bali mengalami banyak perubahan. Dulu, warung makan lokal dan pasar tradisional masih mendominasi. Mulai dari kuliner khas daerah tertentu hingga rekomendasi kuliner yang masih dituturkan dari mulut ke mulut dari generasi kakek nenek saya. Menu makanan yang wariskan selama puluhan tahun, menjadi sebuah definisi kuliner legend yang sesungguhnya. Kini, banyak tempat makan bermunculan dengan konsep yang tidak hanya soal rasa, tapi juga estetika vibes dan branding.
Perubahan ini tidak bisa dilepaskan dari gaya hidup generasi muda. “My camera eats first,” atau “kameraku makan duluan,” menjadi sebuah jokes tersendiri saat mencoba makanan baru. Saya dan teman punya pemikiran yang sama soal ini; dokumentasi makanan menjadi kepuasan tersendiri. Selain menyenangkan untuk dilihat kembali, juga jadi cara untuk tracking makanan apa saja yang sudah dicoba, Terkadang sekaligus menulis ulasan singkatnya. Ulasan yang siapa tahu bisa bermanfaat bagi orang lain juga.
Gentrifikasi Kuliner?
Di balik tren mencoba makanan baru, ada dinamika lain yang menarik yaitu gentrifikasi kuliner. Dalam artikelnya, Anjali Prasertong menyebut bahwa food gentrification adalah perubahan pola makanan yang awalnya akrab dan mudah dijangkau oleh komunitas lokal, lalu berubah menjadi sesuatu yang tidak dikenali dan kerap tidak lagi terjangkau. Makanan yang dulunya sederhana kini dikemas dengan bahasa-bahasa keren seperti fusion, deconstructed, atau elevated. Padahal, esensinya sama.
Alih-alih memperkenalkan suatu budaya makanan yang utuh, perubahan ini justru menjadikan kuliner sebagai komoditas visual—yang penting aesthetic dan bisa jadi bahan konten media sosial. Dampaknya, warung tradisional yang menjual makanan otentik perlahan-lahan tergeser oleh tempat-tempat makan dengan konsep yang trending dan lebih disukai algoritma.
Contoh nyata dari gentrifikasi kuliner ini bisa kita lihat di kawasan Canggu. Maraknya kafe dan restoran baru yang menyajikan makanan ‘baru’ dengan konsep modern namun harganya cenderung dipatok untuk segmen wisatawan asing. Sebagai contoh lainnya, salah satu riset berjudul “Perspectives Generation Z On The FOMO Trend In Kintamani, Bali” melihat tren FOMO (Fear of Missing Out) pada Generasi Z, di mana mereka yang sangat aktif di media sosial terdorong mengunjungi tempat-tempat viral demi “tidak ketinggalan momen.” Mereka mengakui bahwa keputusan untuk berkunjung ke spot makan populer banyak dipengaruhi oleh unggahan teman dan influencer.
Ketika satu tempat makan viral karena satu video TikTok, dalam sekejap tempat tersebut penuh dan muncullah beberapa tempat serupa dengan konsep dan menu hampir identik. Banyak pelaku usaha merasa harus ikut-ikutan agar tidak ketinggalan momentum.
Tren kuliner cepat berganti. Hari ini sushi viral, besok cokelat Dubai, lusa dessert yang belum bisa kita bayangkan. Perpaduan rasa, tekstur, dan cara masak yang unik menjadi daya tarik utamanya. Tapi sayangnya, tren jarang sustain. Banyak tempat makan hanya hadir karena viral bukan kualitas.
Jadi, lain kali sebelum mencoba makanan dari rekomendasi TikTok, mungkin ada baiknya bertanya: apakah kita benar-benar lapar—atau hanya lapar mata? Apakah kamu mengenali bahan yang disuguhkan di piring dan perutmu?
kampungbet kampungbet






