• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, November 6, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Cara Regenerasi Petani dan Peralihan ke Organik di Subak Bengkel

Prila Damayanti by Prila Damayanti
3 October 2023
in Kabar Baru, Pertanian
0
0

Subak Bengkel merupakan hamparan sawah yang mempunyai luas sekitar 210 hektare. Sekitar 80% lebih luas daripada pemukiman warga Desa Bengkel.

Subak Bengkel ini merupakan tempat para petani desa untuk mencari sumber kehidupan. Pemandangan Subak Bengkel sangat asri dan terlihat sebagian besar padi sudah mulai menguning, yang tandanya padi sudah bisa untuk dipanen.

Terlihat petani yang sedang menggarap sawahnya. Walaupun matahari terik, tetapi tidak membuat semangat para petani luntur. Salah satunya adalah Ni Made Seti (70), seorang petani perempuan dari Desa Bengkel.

Seti mempunyai sawah dengan luas 50 are. Saat ini Seti sedang melaksanakan upacara Ngerasak, ritual petani di Bali sebelum padi tersebut dipanen. Upacara ini dilakukan dengan mengaturkan banten sata yang berisi itik.

Bhatara yang dipuja adalah Dukuh Sakti dan Dewi Sri untuk memohon kelancaran dan kesejahteraan. Proses ini juga dilakukan pemindahan Dewa Nini (sebuah simbol Dewa kesuburan padi) yang akan dibawa pulang untuk ditempatkan di lumbung padi di atas Jineng.

Pemaparan Seti, usia tanam padi membutuhkan waktu sekitar 3 bulan untuk dipanen. Untuk jenis padi yang ia tanam adalah Padi Serang. Terkadang Seti merasa takut untuk ke depannya sawah yang ia miliki akan berpindah tangan.

Sebab tidak ada generasi penerus untuk mengelola lahan pertaniannya tersebut. Hasil panen gabah tersebut digunakan untuk keperluan keluarga dan sebagian lagi dijual kepada pengepul. Namun, ia masih menggantungkan harapan agar sawah yang dia punya tetap diwariskan dan dilestarikan oleh para generasi penerusnya.

“Semampu tiang sawah harus dipelihara, kalau tahun-tahun ke depan saya tidak bisa ke sawah, terserah anak-anak sawahnya mau ditandu (disewa), care jani sing bani ngorahan ape, sing bani neken (zaman seperti sekarang, tidak berani ngomong apa, tidak berani memaksa),” ujar Ni Made Seti.

Dalam memelihara sawah, Ni Made Seti didampingi oleh suaminya I Nyoman Runtun (83). Mereka sehari-hari melakukan kegiatan ke sawah. I Nyoman Runtun, bertugas mengontrol aliran air di sawah serta mengusir burung yang hinggap di padi mereka.

Untuk sistem pengairannya, Runtun mengatakan tak ada masalah yang serius. Bahkan air akan mengalir dengan sendirinya jika memang sudah musim. Di usianya yang sudah tua, Runtun meminta kemudahan akses untuk membawa hasil panen agar tidak terlalu jauh. Sawah yang mereka miliki merupakan warisan turun-temurun dari leluhurnya.

“Mata uang Eropa sudah miliaran di Bali, orang luar pintar, sedangkan irage (kita) bermodal kalah,” ucap I Nyoman Runtun.

Begitu juga dengan petani lain yaitu I Nengah Santi yang tengah mengelola sawah dengan padi organik. Ia mengatakan bahwa ia sepakat menanam padi organik. Kesepakatan awal, akan dijual kepada pihak desa dengan harga Rp7.000 per kg gabah basah. Namun, kenyataannya sekarang ini harga gabah melonjak. “Sepertinya harus dinaikkan juga untuk harga penjualannya, nanti kan rugi,” katanya.

Permasalahan yang terjadi di lapangan ini ditanggapi langsung oleh Kepala Desa Bengkel I Nyoman Wahya Biantara, S.Kom. Salah satu cara mencegah alih fungsi dengan pembuatan regulasi dan peraturan yang melarang adanya pembangunan di lahan Subak Bengkel.

Ia juga mulai membentuk Kader Petani Milenial yang berjumlah 4 orang untuk meregenerasi dan menggerakkan petani muda di desanya karena beberapa kaum milenial sangat jarang ada yang mau untuk bertani. “Petani adalah istilah yang dibawa oleh Bung Karno, artinya adalah penyangga tatanan negara Indonesia,” ucap Kepala Desa yang juga programmer komputer ini.

Terkait keluhan para petani yang mengusulkan pelebaran jalan tani agar bisa dilalui oleh mobil Pick Up, ia beralasan jalan tani sudah ada ketentuannya selebar 3 meter. Jka dibiarkan ada mobil yang bisa masuk, maka itu akan menjadi ancaman bagi subak karena itu akan membuka akses pembangunan atau alih fungsi.

Begitu juga terkait dengan kesepakatan yang telah dilakukan oleh Pemerintah Desa dengan petani yang menanam padi organik. Hasilnya akan diambil oleh Bumdes dengan harga yang telah disepakati karena biaya pupuk dan biaya pengelolaan lainnya isudah dibiayai oleh pihak desa. Sehingga petani tidak akan mengalami kerugian.

kampungbet
Tags: desa bengkelkelas jurnalisme wargaKJW desa bengkelpertanian organikpetani bali
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Prila Damayanti

Prila Damayanti

Related Posts

Silent Reading Cegah Efek Doom Scrolling

Silent Reading Cegah Efek Doom Scrolling

1 November 2026
Ruang Bakat di Panggung Ekspresi SMAN Bali Mandara

Ruang Bakat di Panggung Ekspresi SMAN Bali Mandara

28 October 2026
Menengok Sekolah Asrama di Bali melalui Kelas Jurnalisme Warga

Menengok Sekolah Asrama di Bali melalui Kelas Jurnalisme Warga

18 October 2026
Dupa Jagadhita Manfaatkan Material Alami sebagai Aroma

Dupa Jagadhita Manfaatkan Material Alami sebagai Aroma

30 September 2026
Sejarah Desa Guliang Kangin, Dulunya Hutan Belantara

Sejarah Desa Guliang Kangin, Dulunya Hutan Belantara

3 September 2026
Kayoan Bunderin, Mata Air Bersejarah yang Dijaga Sekaa Kayoan di Desa Bebandem

Kayoan Bunderin, Mata Air Bersejarah yang Dijaga Sekaa Kayoan di Desa Bebandem

23 August 2026
Next Post
Pekerjaan di Desa Bengkel yang Penuh Filosofi

Pekerjaan di Desa Bengkel yang Penuh Filosofi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Jelajah Desa Awan, Desa Penyuplai Air Perkotaan

Jelajah Desa Awan, Desa Penyuplai Air Perkotaan

4 November 2026
Konservasi Ruang Airtanah Berbasis Ruang Kesakralan kini Terancam karena Air jadi komoditas ekonomi dan Kerapuhan Ekologis

Konservasi Ruang Airtanah Berbasis Ruang Kesakralan kini Terancam karena Air jadi komoditas ekonomi dan Kerapuhan Ekologis

4 November 2026
Di Wanagiri, Merawat Kopi berarti Merawat Sumber Air

Di Wanagiri, Merawat Kopi berarti Merawat Sumber Air

3 November 2026
Energi Bersih dan Masa Depan Pekerja Lokal: Siapa yang Siap Berubah?

Energi Bersih dan Masa Depan Pekerja Lokal: Siapa yang Siap Berubah?

3 November 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia