• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, March 13, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Bisakah Denpasar Menjadi Kota Ramah Sepeda?

Komang Doni Kurniawan by Komang Doni Kurniawan
19 June 2025
in Kabar Baru, Opini
0
0

Di tengah kemacetan yang semakin parah, kualitas udara yang menurun, serta ruang kota yang semakin sempit, muncul pertanyaan penting, bisakah Denpasar menjadi kota yang ramah bagi pesepeda? Kota di mana anak-anak dan mahasiswa bisa pergi ke sekolah atau universitas dengan sepeda, ibu-ibu ke pasar dengan sepeda, dan pekerja kantoran tidak ragu menggunakan sepeda sebagai moda transportasi utama.

Pertanyaan ini bukan sekadar mimpi. Kota seperti Copenhagen, ibu kota Denmark, telah membuktikan bahwa perubahan menuju kota ramah sepeda adalah mungkin dan bahkan membawa manfaat besar bagi kualitas hidup warganya. Maka pertanyaannya bukan lagi apakah mungkin, melainkan kapan Denpasar sebagai kota memulainya?

Pertanyaan berikutnya mengapa sepeda? Sepeda bukan hanya alat transportasi hemat dan sehat, tapi juga solusi cerdas untuk kota yang penuh kendaraan bermotor seperti Denpasar. Di Copenhagen, lebih dari 60% penduduknya berangkat kerja atau sekolah dengan sepeda setiap hari. Ini bukan karena keterpaksaan warganya, tetapi karena kotanya memang memudahkan mereka untuk bersepeda.

Copenhagen tidak hanya membangun jalur sepeda. Mereka merancang seluruh kotanya agar manusia bukan mobil menjadi pusat perhatian. Trotoar luas, jalur sepeda aman dan nyaman, parkir sepeda melimpah, dan kampanye sosial yang menghapus stigma bahwa sepeda hanya untuk masyarakat kelas bawah.

Kemudian, bagaimana dengan Denpasar? Denpasar sejatinya punya banyak potensi menjadi kota sepeda. Pertama, iklim tropis sepanjang tahun memungkinkan bersepeda tanpa terganggu akan adanya salju atau cuaca ekstrem, berbeda dengan di wilayah yang ada di benua Eropa misalnya. Kedua, jarak tempuh antar destinasi relatif dekat, baik ke sekolah, pasar, kantor, maupun pusat reakreasi. Ketiga, budaya lokal yang kuat bisa menjadi bagian dari narasi bersepeda. Mengingat masyarakat Bali sangat memegang filosofi hidup Tri Hita Karana, salah satunya palemahan hidup selaras dengan alam, bersepeda bisa menjadi bentuk implementasinya.

Ambil saja contoh di kawasan wisata sanur, tepatnya di tempat lari sepanjang bibir Pantai Sanur. Secara infrastruktur jalur untuk pejalan kaki dan sepeda dibuatkan khusus, sehingga banyak orang yang dengan niatan khusus menikmati momen bersepeda di jalur tersebut. Ada yang melakukannya dengan menyewa dan ada juga yang membawa sepeda secara khusus dari rumah. Hal ini menjadi pertanda bahwa ada semacam kerinduan dari masyarakat untuk bersepeda.

Namun masalahnya, saat ini sepeda masih kalah saing dengan kendaraan motor dan mobil. Banyak warga enggan bersepeda karena rasa tidak aman di jalan, tidak adanya jalur khusus sepeda, serta minimnya fasilitas pendukung seperti tempat parkir sepeda dan penerangan jalan. Selain itu, kota kita yang dirancang untuk kendaraan bukan untuk manusia. Hasilnya banyak pohon-pohon yang berperan sebagai kanopi di jalan banyak yang hilang, akhirnya membuat panas matahari di siang hari terasa lebih menyengat dan membuat masyarakat berfikir dua kali untuk menggunakan sepeda ketika berpergian.

Lalu, apa yang bisa dilakukan? Berdasarkan prinsip dari buku Copenhagenize, berikut beberapa langkah konkret yang bisa diadopsi Denpasar:

  1. Bangun Infrastruktur Dasar
    Mulai dari jalur sepeda yang terpisah dari kendaraan bermotor di kawasan sekolah, pasar, dan perkantoran atau membangun jalan yang mempertimbangkan kenyamanan pesepeda dan pejalan kaki dengan memperlebar trotoar dan jalur sepeda, memperbanyak pohon sebagai perindang alami.
  2. Ubah Narasi Sosial
    Dorong kampanye yang memposisikan sepeda sebagai pilihan sadar, bukan keterpaksaan. Gunakan figur publik lokal, seniman, aau pemuka adat bahkan pemerintah seperti wali kota untuk mulai menggunakan sepeda sesekali dalam beraktivitas. 
  3. Tata Ruang untuk Manusia
    Kembalikan jalan-jalan kecil dan pusat kota sebagai ruang publik yang ramah pejalan kaki dan pesepeda. Misalnya, kawasan-kawasan wisata dan ruang publik dibuatkan wilayah khusus pesepeda dan bangun keterhubungan antar tempat yang dapat dijangkau oleh pesepeda.
  4. Mulai bersepeda

Sebagai warga denpasar, kita bisa mulai membiasakan diri untuk bersepeda dalam berpergian. Sepeda bukan menjadi alat transportasi utama, tetapi menjadi alternatif yang sedikit demi sedikit harus terus digunakan. Misalkan bepergian yang jaraknya dekat gunakan sepeda. Membuat hari khusus bersepeda, misalkan Jumat bersepeda atau tantangan 21 hari bersepeda dan lainnya.

Membangun kota ramah sepeda bukan semata soal kendaraan, tapi tentang masa depan kota yang berkelanjutan. Kota yang tidak hanya efisien dalam transportasi, tapi juga sehat, terhubung secara sosial, dan ramah lingkungan. Denpasar tidak harus menunggu menjadi kota seperti Kopenhagen untuk memulai. Justru, Denpasar bisa menciptakan versinya sendiri.

Pertanyaan terakhir, bisakah Denpasar menjadi kota layak sepeda? Jawabannya, ya, sangat bisa. Tapi hanya jika kita memilih untuk memulainya sekarang. Sepeda bukan sekadar alat transportasi, sepeda adalah simbol dari masa depan kota yang manusiawi. Kota yang bersih, sehat dan hangat. Bantu gerakan @denpasarsepeda mewujudkan mimpi ini.

sangkarbet sangkarbet kampungbet
Tags: jalur sepeda di balikomunitas sepeda balimacet di bali
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Komang Doni Kurniawan

Komang Doni Kurniawan

Related Posts

Overtourism Bali Selatan Akan Merata Lewat Pembangunan Jalan Baru

17 December 2024

Mau ke Mana Bali?

11 July 2024
Lima Kegiatan Asyik Melali di Pantai Sanur

Refleksi Singkat Kemacetan Sanur 2024

10 July 2024

Refleksi Singkat Kemacetan Sanur 2024

10 July 2024
“Koh Ngomong” Macet pun Menggelora-The Elephant in The Room

“Koh Ngomong” Macet pun Menggelora-The Elephant in The Room

9 July 2024
Mengupas Uneg-uneg Macet di Bali Ala Kelas Jurnalisme Warga 

Mengupas Uneg-uneg Macet di Bali Ala Kelas Jurnalisme Warga 

22 June 2024
Next Post
Inilah Tema Terbanyak di BaleBengong 2024: Alih Fungsi Lahan, Sampah, dan Pilkada

Kampanye Krisis Sampah dengan LUKIS: “Let Us Keep It Sustainable” Festival 2025

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Benteng Terakhir Ruang Terbuka Hijau Kota adalah Kuburan

Benteng Terakhir Ruang Terbuka Hijau Kota adalah Kuburan

11 March 2026
Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

10 March 2026
Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

8 March 2026

Dinamika Nyepi di Bali: Imbas Tawur hingga Kesepakatan Nasional

8 March 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia