
Di tengah kemacetan yang semakin parah, kualitas udara yang menurun, serta ruang kota yang semakin sempit, muncul pertanyaan penting, bisakah Denpasar menjadi kota yang ramah bagi pesepeda? Kota di mana anak-anak dan mahasiswa bisa pergi ke sekolah atau universitas dengan sepeda, ibu-ibu ke pasar dengan sepeda, dan pekerja kantoran tidak ragu menggunakan sepeda sebagai moda transportasi utama.
Pertanyaan ini bukan sekadar mimpi. Kota seperti Copenhagen, ibu kota Denmark, telah membuktikan bahwa perubahan menuju kota ramah sepeda adalah mungkin dan bahkan membawa manfaat besar bagi kualitas hidup warganya. Maka pertanyaannya bukan lagi apakah mungkin, melainkan kapan Denpasar sebagai kota memulainya?
Pertanyaan berikutnya mengapa sepeda? Sepeda bukan hanya alat transportasi hemat dan sehat, tapi juga solusi cerdas untuk kota yang penuh kendaraan bermotor seperti Denpasar. Di Copenhagen, lebih dari 60% penduduknya berangkat kerja atau sekolah dengan sepeda setiap hari. Ini bukan karena keterpaksaan warganya, tetapi karena kotanya memang memudahkan mereka untuk bersepeda.
Copenhagen tidak hanya membangun jalur sepeda. Mereka merancang seluruh kotanya agar manusia bukan mobil menjadi pusat perhatian. Trotoar luas, jalur sepeda aman dan nyaman, parkir sepeda melimpah, dan kampanye sosial yang menghapus stigma bahwa sepeda hanya untuk masyarakat kelas bawah.
Kemudian, bagaimana dengan Denpasar? Denpasar sejatinya punya banyak potensi menjadi kota sepeda. Pertama, iklim tropis sepanjang tahun memungkinkan bersepeda tanpa terganggu akan adanya salju atau cuaca ekstrem, berbeda dengan di wilayah yang ada di benua Eropa misalnya. Kedua, jarak tempuh antar destinasi relatif dekat, baik ke sekolah, pasar, kantor, maupun pusat reakreasi. Ketiga, budaya lokal yang kuat bisa menjadi bagian dari narasi bersepeda. Mengingat masyarakat Bali sangat memegang filosofi hidup Tri Hita Karana, salah satunya palemahan hidup selaras dengan alam, bersepeda bisa menjadi bentuk implementasinya.
Ambil saja contoh di kawasan wisata sanur, tepatnya di tempat lari sepanjang bibir Pantai Sanur. Secara infrastruktur jalur untuk pejalan kaki dan sepeda dibuatkan khusus, sehingga banyak orang yang dengan niatan khusus menikmati momen bersepeda di jalur tersebut. Ada yang melakukannya dengan menyewa dan ada juga yang membawa sepeda secara khusus dari rumah. Hal ini menjadi pertanda bahwa ada semacam kerinduan dari masyarakat untuk bersepeda.
Namun masalahnya, saat ini sepeda masih kalah saing dengan kendaraan motor dan mobil. Banyak warga enggan bersepeda karena rasa tidak aman di jalan, tidak adanya jalur khusus sepeda, serta minimnya fasilitas pendukung seperti tempat parkir sepeda dan penerangan jalan. Selain itu, kota kita yang dirancang untuk kendaraan bukan untuk manusia. Hasilnya banyak pohon-pohon yang berperan sebagai kanopi di jalan banyak yang hilang, akhirnya membuat panas matahari di siang hari terasa lebih menyengat dan membuat masyarakat berfikir dua kali untuk menggunakan sepeda ketika berpergian.
Lalu, apa yang bisa dilakukan? Berdasarkan prinsip dari buku Copenhagenize, berikut beberapa langkah konkret yang bisa diadopsi Denpasar:
- Bangun Infrastruktur Dasar
Mulai dari jalur sepeda yang terpisah dari kendaraan bermotor di kawasan sekolah, pasar, dan perkantoran atau membangun jalan yang mempertimbangkan kenyamanan pesepeda dan pejalan kaki dengan memperlebar trotoar dan jalur sepeda, memperbanyak pohon sebagai perindang alami. - Ubah Narasi Sosial
Dorong kampanye yang memposisikan sepeda sebagai pilihan sadar, bukan keterpaksaan. Gunakan figur publik lokal, seniman, aau pemuka adat bahkan pemerintah seperti wali kota untuk mulai menggunakan sepeda sesekali dalam beraktivitas. - Tata Ruang untuk Manusia
Kembalikan jalan-jalan kecil dan pusat kota sebagai ruang publik yang ramah pejalan kaki dan pesepeda. Misalnya, kawasan-kawasan wisata dan ruang publik dibuatkan wilayah khusus pesepeda dan bangun keterhubungan antar tempat yang dapat dijangkau oleh pesepeda. - Mulai bersepeda
Sebagai warga denpasar, kita bisa mulai membiasakan diri untuk bersepeda dalam berpergian. Sepeda bukan menjadi alat transportasi utama, tetapi menjadi alternatif yang sedikit demi sedikit harus terus digunakan. Misalkan bepergian yang jaraknya dekat gunakan sepeda. Membuat hari khusus bersepeda, misalkan Jumat bersepeda atau tantangan 21 hari bersepeda dan lainnya.
Membangun kota ramah sepeda bukan semata soal kendaraan, tapi tentang masa depan kota yang berkelanjutan. Kota yang tidak hanya efisien dalam transportasi, tapi juga sehat, terhubung secara sosial, dan ramah lingkungan. Denpasar tidak harus menunggu menjadi kota seperti Kopenhagen untuk memulai. Justru, Denpasar bisa menciptakan versinya sendiri.
Pertanyaan terakhir, bisakah Denpasar menjadi kota layak sepeda? Jawabannya, ya, sangat bisa. Tapi hanya jika kita memilih untuk memulainya sekarang. Sepeda bukan sekadar alat transportasi, sepeda adalah simbol dari masa depan kota yang manusiawi. Kota yang bersih, sehat dan hangat. Bantu gerakan @denpasarsepeda mewujudkan mimpi ini.
sangkarbet sangkarbet kampungbet








