
Mendengar kata Sanur, kebanyakan orang mungkin langsung membayangkan pantainya. Padahal, Sanur menyimpan lanskap lain yaitu hamparan sawah yang masih bertahan di tengah masifnya pembangunan. Salah satunya adalah Subak Intaran yang di dalamnya terdapat Jogging Track Prapat Beris.
Ketika terakhir saya mengunjungi kawasan ini pada April lalu, suasana sawah terasa lebih lapang. Lima bulan berselang, perbedaan cukup terasa. Beberapa bangunan baru semakin rapat.
Kali ini saya ditemani Sri, seorang pekerja di area Penyaringan yang cukup mengenal jalur Prapat Beris. Sambil berjalan, ia menunjuk beberapa sudut yang kini ramai perumahan dan vila. Jogging track yang sejatinya dirancang untuk olahraga berubah fungsi menjadi jalan pintas atau shortcut kendaraan bermotor. “Biasanya di bale dekat jogging track ada yang kumpul, ojek online neduh, ada juga yang dagang sate babi dan bakso,” ujarnya.
Saya kemudian kembali bertemu Wayan Danu, Sekretaris Subak Intaran. Saat ini Subak Intaran memiliki luas 90 hektar, dengan pembagian 80 hektar di bagian barat dan 10 hektar di bagian timur. Kawasan Prapat Beris termasuk pada bagian timur. Menurutnya, saat ini Subak Intaran masih bisa bertahan karena penghasilan petani cukup menjanjikan, dengan pendapatan bersih per bulannya di kisaran Rp7 juta.

Danu menekankan pentingnya rembug atau musyawarah. Menjaga subak berarti juga menjaga aliran air, sehingga setiap rencana pembangunan harus didiskusikan bersama petani. “Kalau ada yang mau membangun, selain urus izin desa, harus diskusi langsung dengan petani. Karena menyangkut irigasi, batas lahan, jangan sampai mengganggu pengairan,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan inovasi berupa pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk pompa air dan lampu penerangan. “Sejak ada PLTS, layangan besar dilarang karena bisa nyangkut. Kalau rusak perawatannya ribet,” ungkapnya sambil tertawa kecil. Tantangan lainnya adalah PLTS harus dimatikan secara manual ketika penerangan jalan tidak digunakan, khususnya saat Nyepi. PLTS memiliki daya simpan daya 3×24 jam yang cukup menampung daya secara otomatis ketika mendung.
Soal masa depan, ia optimis subak bisa bertahan selama aturan dipatuhi, pendataan petani diperbarui, dan dukungan terus ada dari berbagai pihak.

Di saat bersamaan, sekelompok siswa SMP tampak bercengkrama di bale timbangan Subak Intaran sambil membuat video TikTok. Kami mengobrol singkat dengan Gusde dan Cantika, siswa kelas 9 yang baru pulang dari ekstrakurikuler bulutangkis dan memilih singgah di sini.
“Adem, tenang, bisa lihat hijau-hijau,” kata Gusde. Namun, mereka berharap ada fasilitas tambahan agar subak nyaman jadi tempat nongkrong, seperti area parkir dan warung. Bagi mereka, opsi nongkrong lainnya adalah pantai, karena lebih luas juga bisa main layangan.

Tak jauh dari situ, kami bertemu sepasang turis asal Australia, Al & Deb, pemilik kanal YouTube Al & Deb. Mereka duduk santai di pinggir jogging track, meneduh sembari membuat vlog. Pasangan ini pertama kali datang ke Bali pada 1990-an dan kini merasakan perubahan besar. “We think it’s lovely and we think that the building should stop. Everyone that we know is upset that it’s getting smaller and smaller. The green area is getting smaller because of the buildings,” ungkap mereka.
Mereka menganggap bahwa Bali tentu tidak bisa terhindar dari pembangunan dan pariwisata. “I think Bali’s doing the best. They can protect it, but there are too many buildings. And Bali is very reliant on tourism. So you don’t really have that choice to stop it. It’s a good and a bad thing,” tambahnya.

Di sisi lain, perubahan lahan juga melahirkan inisiatif baru. Salah satunya Di Sanur Arthub, kafe sekaligus galeri seni milik seniman lokal Apel Hendrawan. Terletak dekat Jogging Track Prapat Beris, Di Sanur Arthub berdiri di tanah warisan keluarganya yang sudah tidak digarap lagi sebagai sawah.
“Salah satu cita-cita saya mau mengangkat seni legend zaman dulu, kan Sanur itu dikenal dengan pelukis-pelukis senior seperti Le Mayeur, Donald Friend,” ungkapnya. Sebelumnya, ruang serupa hanya ada di area hotel seperti Puri Santrian dan Artotel. Di sini, seniman lokal maupun mahasiswa bisa memamerkan karya mereka.
Meski berubah fungsi, lahannya tetap mengikuti aturan subak. Jalur irigasi tetap dipertahankan, area resapan dibiarkan terbuka, dan pembangunan tidak menutup semua lahan. Ke depannya, penataannya akan berkoodinasi dengan BUPDA Intaran terkait bagian dari pengelolaan fasilitas pendukung wisata subak. “Mungkin nanti ada edukasinya, harus ada toilet, tempat istirahat,” tambahnya.

Subak Intaran kini menghadirkan berbagai fungsi. Bagi petani, subak tetap sumber penghidupan. Bagi remaja, tempat bersosialisasi. Bagi turis, lanskap hijau yang semakin langka. Bagi seniman, ruang untuk melahirkan karya.
Perubahan memang tak terelakkan. Apakah keseimbangan ini akan mampu bertahan di tengah derasnya arus pembangunan di Sanur?
kampungbet










