• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, May 8, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup Travel

“Bapak, wait for me…wait for me..!”

I Nyoman Darma Putra by I Nyoman Darma Putra
22 June 2009
in Travel
0
2

Oleh Darma Putra

Pengunjung bercanda dengan monyet di Monkey Forest, Ubud. Foto oleh Ary Bestari
Pengunjung bercanda dengan monyet di Monkey Forest, Ubud. Foto oleh Ary Bestari

Musim liburan pertengahan tahun 2009 ini, objek wisata Monkey Forest, Padangtegal, Ubud, ramai dikunjungi wisatawan. Ada turis domestik, banyak juga wisatawan mancanegara seperti dari Rusia, India, Jerman, Belanda, Australia, dan Amerika.

Minggu siang 21 Juni, misalnya, ada sekitar 200 pengunjung masuk ke hutan kera itu. Jumlah itu mungkin lebih besar kalau digabungkan dengan kunjungan Minggu pagi dan sore.

Harga tiket masuk adalah Rp 15.000 untuk dewasa dan Rp 7.500 untuk anak-anak.

Karena anak-anak agak takut pada kera, tentu saja jumlah pengunjung Monkey Forest lebih dominan orang dewasa. Anak-anak yang ikut biasanya berdebar-debar atau berani-berani takut.

“Bapak.., Bapak….wait for me, wait for me….,” ujar gadis kecil, memanggil ayahnya yang mendahului berjalan di depan. Panggilan gadis usia sekitar 8 tahun itu cukup terang terdengar di tengah hutan yang tidak begitu riuh.

Si gadis kecil tak bisa menyembunyikan rasa takutnya. Bahasa campuran yang digunakan menunjukkan gadis kecil itu adalah warga asing yang tinggal di Indonesia.

Di dalam hutan kera itu, wisatawan bisa menyaksikan perilaku monyet yang liar, lucu atau bergelantungan di pepohonan yang tinggi. Wisatawan yang membawa pisang bisa menyodorkannya kepada monyet-monyet yang lincah menyabet untuk gesit menjauh.

Setiap hari, sepanjang hari, tentulah hanya pisang yang disantap monyet-monyet itu. Bukan monyet namanya kalau sampai bosan pada pisang.

“Memberikan pisang boleh, tetapi bercanda dan mengelus monyet tidak dibenarkan,” ujar seorang pemandu wisata resmi Monkey Forest.

Monyet-monyet di Monkey Forest umumnya jinak tetapi kalau salah bisa saja berubah perangainya. Foto oleh Ary Bestari
Monyet-monyet di Monkey Forest umumnya jinak tetapi kalau salah bisa saja berubah perangainya. Foto oleh Ary Bestari

Umumnya monyet di sini jinak, tetapi kalau salah elus atau keliru bercanda bisa saja berubah perangainya.

“Tugas kami mengingatkan tamu-tamu agar tidak mencoba bercanda [dengan monyet],” ujar pemandu tadi.

Kalau monyet marah, dan menggaruk atau menggigit, repot akibatnya.

“Pernah ada turis Rusia yang mencoba menggoda monyet, akhirnya dia digaruk sampai luka, lalu dijahit di di depan,” kata pemandu itu lagi, menunjukkan bahwa di depan Monkey Forest ada klinik pengobatan.

Data yang ada menunjukkan populasi Monkey Forest meningkat terus dalam beberapa tahun terakhir. Tahun 1986 terdapat 69 ekor, lalu tahun 2006 bertambah menjadi 200 ekor, tahun 2007 ada 304 ekor, dan tahun 2009 ini diperkirakan 350 ekor.

Peningkatan populasi ini terjadi antara lain karena adanya pemeliharaan dan riset-riset untuk mengkondisikan agar kera-kera di sana bisa hidup dan berbiak dalam kondisi yang baik.

Wilayah Monkey Forest tidak begitu luas tetapi arena itu konon terbagi empat yang dihuni oleh oleh koloni dari empat kelompok. Tiap kelompok, konon, akan tetap kumpul di wilayahnya sendiri alias tidak melintas batas.

Selain menikmati koloni monyet jinak, sedikit jenaka, dan sesekali liar, pengunjung Monkey Forest bisa juga merasakan kesejukan alam dan pesona spiritual beberapa pura termasuk Pura Beji yang ada di sekitar hutan di lembah tepi sungai yang dalam tapi sedikit air.

Di era digital sekarang ini, hampir setiap pengunjung Monkey Forest membawa kamera, dari kamera yang melekat di hand phone sampai digital besar profesional, dan handy came sampai camera TV profesional. Pengunjung itu tak bosan-bosannya memotret sesama dan para kera-kera yang bercanda.

Di era internet ini, bisa dibayangkan banyak foto-foto itu jelas meluncur ke dunia maya, baik lewat flicker dan blog dan ruang-ruang internet lainnya. Dari sini, Monkey Forest Ubud kian mendapat promosi, mengundang calon pengunjung untuk datang.

Kunjungan wisatawan ke tempat ini menjadi sumber pendapatan bagi yayasan pengelola objek wisata itu. Selain untuk membayar pegawai, dana itu juga untuk melestarikan hutan dan kera-kera baik lewat penjagaan dan riset-riset. Dana juga digunakan untuk membiayai ritual-ritual.

Monkey Forest Ubud bisa dipuji sebagai model pengelolaan objek wisata yang berkelanjutan dan pro-rakyat. Pengunjung terus datang menambah in come  buat yayasan desa yang mengelolanya, koloni kera kian bertambah. Lestarilah Monkey Forest! [b]

Foto-foto: Ary Bestari

Tags: PariwisataTravellingUbud
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Nyoman Darma Putra

I Nyoman Darma Putra

Lahir, besar, dan tinggal di Padangsambian, Denpasar. I need 1000 dollars now. Pernah tinggal di Brisbane, Australia (1998-2002; 2007-2009). Saat ini Dosen Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Budaya sekaligus Ketua Program Studi Magister Kajian Pariwisata Universitas Udayana.

Related Posts

Pulau Wisata ini Ditutup Sementara untuk Perbaikan Kualitas Lingkungan  akibat Overtourism

Pulau Wisata ini Ditutup Sementara untuk Perbaikan Kualitas Lingkungan akibat Overtourism

8 April 2026
Kearifan Lokal di Tengah Arus Global di UWRF 2025

Kearifan Lokal di Tengah Arus Global di UWRF 2025

22 October 2025
Kata Warga Ubud tentang Kemacetan dan Fasilitas Publik

Kata Warga Ubud tentang Kemacetan dan Fasilitas Publik

3 October 2025
Ubud yang Tenang Berubah Bising dan Macet

Pengembangan Kawasan Rendah Emisi di Sanur dan Ubud

19 September 2025
Mengharapkan Perubahan Ubud dari Warga dan Pemerintah

Mengharapkan Perubahan Ubud dari Warga dan Pemerintah

15 September 2025
Jelajah Inovasi Desa di Ubud, dari Transportasi Hingga Pedestrian

Jelajah Inovasi Desa di Ubud, dari Transportasi Hingga Pedestrian

10 September 2025
Next Post
Sunatan Massal Mewujudkan Solidaritas Sosial

Sunatan Massal Mewujudkan Solidaritas Sosial

Comments 2

  1. PanDe Baik says:
    17 years ago

    tadinya saya kira si Bani yang tereak kaya’gitu, pas baca judul tulisannya. atw malah berharap ada anak bule yang mengaku-aku Om Anton adalah Bapaknya. He… ya… salah deh.

    Reply
  2. Dewi Damayanthi says:
    17 years ago

    Saya pernah juga soan kesana. Dan memang begitu adanya. Tempatnya asri dan monyetnya lucu lucu banget. Ada Pura dalem dan kuburan lho disekitar kompleks selain pura beji. Menambah sakral dan magisnya monkey forrest.

    Reply

Leave a Reply to Dewi Damayanthi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Nelayan di Danau Batur Kehilangan Pekerjaan Akibat Red Devil

Nelayan di Danau Batur Kehilangan Pekerjaan Akibat Red Devil

8 May 2026
Mahasiswa Pilih Nugas di Cafe, Perpus Sepi

Mahasiswa Pilih Nugas di Cafe, Perpus Sepi

8 May 2026
Diskusi Kolonialisme di Nobar Film Pesta Babi

Diskusi Kolonialisme di Nobar Film Pesta Babi

7 May 2026
Angkat Topi Buat Wanita, Khususnya Wanita Bali

Orang Bali jadi Objek Perencanaan Pariwisata

6 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia