
Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Denpasar bersama Badan Pengurus Komisariat Imanuel masa bakti 2025–2026 membuka ruang diskusi dan nobar film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”, dengan mengangkat tema diskusi “Dekonstruksi Serakah: Hegemoni Politik dan Komodifikasi Budaya di Atas Reruntuhan Ekologi”.
Film Pesta Babi adalah film dokumenter investigatif karya jurnalis investigasi Dandhy Laksono bersama antropolog sosial dan aktivis Cypri Dale, yang digarap oleh Ekspedisi Indonesia Baru bersama Greenpeace Indonesia, Watchdoc, dan Jubi Media. Kolaborasi strategis ini menghasilkan sebuah karya yang mengungkap perampasan hak hidup masyarakat adat di Papua Selatan akibat ambisi besar program food estate. Film ini mengangkat isu kolonialisme modern yang berdampak pada kehancuran ekologis yang memicu perlawanan suku Marind, Yei, dan Muyu di Papua Selatan.
Dalam semangat persekutuan dan pembinaan intelektual kader, Badan Pengurus Komisariat Imanuel masa bakti 2025–2026 menginisiasikan pemutaran film Pesta Babi sekaligus membuka ruang diskusi bersama beberapa narasumber yang konsisten menyuarakan isu-isu iklim, hak asasi manusia, dan politik. Kegiatan ini dilaksanakan di Rumah Kebangsaan dan Kebhinekaan SEJ, Penatih, Denpasar Timur, pada (02/05/2026).
Ketua Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Denpasar, Giovany Umbu Rihi, menjelaskan mengenai latar belakang dibuka nobar dan diskusi film Pesta Babi ini sebagai bahan refleksi bersama untuk melihat bagaimana persoalan lingkungan yang terjadi hari ini menjadi perhatian bersama, baik masyarakat maupun pemerintah.
“Melalui nobar dan diskusi kita pada malam hari ini, menjadi sebuah bahan refleksi bersama untuk melihat bagaimana persoalan yang ada dalam film dokumenter ini harus menjadi perhatian bersama, terutama pemerintah,” jelasnya.
Narasumber dalam sesi diskusi, Suriadi Darmoko aktivis lingkungan 350.org Indonesia yang konsisten menyuarakan isu lingkungan dan iklim, menilai film ini dari kacamata transisi energi. Film ini secara utuh menggambarkan bagaimana transisi energi dibajak oleh pemerintah yang dibarengi dengan oligarki menggunakan narasi transisi energi untuk membangun industri food estate. Tetapi hal ini dinilai dapat menciptakan kerusakan baru.
“Idealnya transisi energi dilakukan tanpa menyebabkan kerusakan baru dan tanpa menciptakan ketimpangan baru. Tetapi dalam film ini, jelas dan terang bahwa transisi energinya dibajak yang pada akhirnya menyebabkan ketimpangan dan problem lingkungan yang baru. Sehingga tidak ada transisi energi dalam praktik ekstraktivisme seperti yang ditayangkan di film Pesta Babi tadi,” tegas Moko.
Sementara itu, inisiator kegiatan ini, Kapelbid Akspel Komisariat Imanuel GMKI Cabang Denpasar, Mathew James Come Rihi, membeberkan mengenai latar belakang pemilihan tema “Dekonstruksi Serakah: Hegemoni Politik dan Komodifikasi Budaya di Atas Reruntuhan Ekologi”.
“Alasan kami memilih tema ini karena berangkat dari kerangka pemikiran kritis yang memandang pembangunan bukan sebagai proses yang netral, melainkan sebagai arena yang sarat dengan relasi kuasa antara kepentingan politik dan ekonomi,” bebernya saat dikonfirmasi pada 3 Mei 2026.
Melalui pemutaran film Pesta Babi, kegiatan ini dimaksudkan sebagai ruang refleksi kritis yang memungkinkan peserta untuk melakukan pembacaan yang lebih mendalam terhadap realitas tersebut. “Harapan kami dari kegiatan ini agar terbentuknya kesadaran kritis di kalangan kader Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Cabang Denpasar, baik pada tataran kognitif maupun etis,” tutup James.



