
“Ya, satu arah macet. Biar pun dua arah lebih macet lagi,” ujar Ketut, pemilik tempat massage di Jalan Sugriwa.
Ketika ditemui, Ketut tengah duduk di depan rukonya, menunggu pelanggan datang sembari menawarkan jasa massage kepada wisatawan yang berjalan kaki. Ketut merupakan warga Desa Padangtegal yang sudah bertahun-bertahun tinggal di sana.
Rukonya berlokasi tepat di pinggir jalan. Baru-baru ini, Jalan Sugriwa yang berada di Desa Padangtegal mengalami sejumlah perubahan. Jalan yang sebelumnya dua arah menjadi satu arah. Pedestrian diperlebar, sehingga ruas jalan menyempit. Di tepi trotoar juga ditanami beberapa tanaman agar jalan lebih sejuk.

Perubahan yang dirasakan Ketut adalah menyempitnya ruas jalan. Ada sisi positif ruas jalan menyempit, yaitu tidak ada lagi parkir liar di badan jalan. Meski begitu, Ketut mengatakan tingkat kemacetan sama saja dengan ada atau tidaknya trotoar.
Namun, perubahan yang paling terlihat adalah semakin ramai wisatawan berlalu-lalang di Jalan Sugriwa. Kenyamanan berjalan di trotoar tidak hanya dirasakan wisatawan, tetapi juga warga lokal. Ketut bercerita mobilisasi menjadi lebih mudah dengan adanya trotoar. “Kalau waktu trotoarnya baru, ibu sering malam-malam keliling menikmati. Enak jadinya jalan,” ujar Ketut.
Ketut pun merasakan material trotoar di Jalan Sugriwa sangat berbeda dengan trotoar lain di Ubud. Trotoar di jalan lain biasanya menggunakan bata merah yang cepat rusak ketika terkena hujan, sedangkan material trotoar di Jalan Sugriwa tampak kokoh. “Itu ada bioporinya, airnya bisa masuk ke biopori,” ujar Ketut sembari menunjuk lubang kecil di bawah trotoar.
Desa Padangtegal merupakan desa di Kecamatan Ubud yang sebagian besar penghasilannya berasal dari pengelolaan Monkey Forest. Dari penghasilan tersebut sejumlah inovasi dilakukan, baik untuk tujuan fasilitas publik maupun untuk pariwisata.
Di Monkey Forest terdapat pusat parkir yang dikelola oleh Desa Padangtegal. Pusat parkir ini tidak hanya digunakan oleh wisatawan, tetapi juga oleh masyarakat Padangtegal. Pasalnya, rumah-rumah di Padangtegal sangat jarang memiliki garasi mobil. Kebanyakan, lahan di rumahnya digunakan untuk ruko, sehingga tidak ada lagi ruang untuk lahan parkir. Harga khusus masyarakat Padangtegal yang parkir di Monkey Forest berkisar di angka Rp300.000 per bulan.
Tak jauh dari Desa Padangtegal, ada juga Desa Peliatan. Desa ini memiliki charging station di Alun-alun Desa Peliatan yang sudah beroperasi satu tahun. Ketika berkunjung ke lokasi charging station, tampak dua pengemudi ojek online tengah mengganti baterai motornya sembari menunggu pesanan.

Nyoman, seorang pengemudi Grab sudah satu tahun mengendarai motor listrik. Motor listrik tersebut disediakan oleh perusahaannya bekerja dengan sistem penyewaan. Penghasilan rata-rata per bulan Rp300.000 dipotong Rp75.000 untuk membayar sewa motor listrik. Biaya tersebut sudah termasuk biaya servis sewaktu-waktu.
Nyoman setiap hari mengambil pesanan di seluruh wilayah. Namun, ia mengaku kerap mengisi baterai di Alun-alun Desa Peliatan. Selama setahun bolak-balik charging station tersebut, Nyoman hanya mengharapkan penambahan kanopi di depan charging station. “Maksudnya nanti pas hujan-hujan kan nggak basah (motornya),” ujar Nyoman.
Sementara itu, pengemudi ojek online lain, Andre, mengharapkan lebih banyak charging station. Pasalnya, pekerjaannya menuntut berkeliling ke beberapa tempat. Sementara, charging station di Bali untuk jenis baterai swap masih terbatas.
Dari Desa Peliatan, kami menuju Lapangan Astina. Sore tengah berganti menjadi malam, tapi Lapangan Astina masih ramai. Beberapa anak bermain sepak bola. Ada pula seorang bapak yang menemani anaknya bermain layangan.
Wayan merupakan warga Ubud Kelod. Sepulang ia kerja, anaknya merengek minta bermain layangan. Lapangan Astina menjadi satu-satunya tempat bermain layangan di Ubud. Tidak ada tempat lain selain lapangan tersebut.
Lapangan di Ubud yang satu-satunya tersisa itu pun dialihfungsikan sebagian menjadi lahan parkir. “Apa boleh buat, demi kebaikan,” kata Wayan. Demi kebaikan tersebut dalam artian alih fungsi Lapangan Astina ditujukan untuk mengurangi kemacetan Ubud. “Makanya ya jalan satu-satunya lapangan,” imbuhnya.
Di depan Lapangan Astina Ubud telah dipasang poster larangan parkir di badan jalan. Namun, masih ada saja kendaraan yang parkir di badan jalan. Wayan menduga-duga pelaku parkir liar tersebut adalah pendatang, yaitu orang dari luar Ubud yang bekerja di Ubud. “Kalau orang Ubud itu mobilnya di garasi ditaruh, nyewa garasi gitu loh,” ujar Wayan.
Hal lain yang membuat Wayan geram adalah taksi dan ojek online yang tidak menaati aturan. Ia kerap menemukan pengendara yang melawan arah dan berjalan pelan karena tidak ada penumpang. Saking geramnya, Wayan pernah mengambil video seorang ojek online yang melawan arah jalan. Video itu pun viral dan menuai pro kontra.
Wayan sangat berharap ada penindakan untuk pengendara yang tidak menaati aturan, terutama taksi dan ojek online. Ubud telah menyediakan pangkalan taksi online di beberapa titik. Namun, kebanyakan taksi online mencari penumpang dengan berkendara pelan di jalan. Hal itu pun menimbulkan kemacetan.
“Cintailah tempat Anda mencari kerja. Jangan sebagai penikmat saja. Kalau cinta kan aturan dipatuhi,” pesan Wayan kepada para pekerja di Ubud. Ubud menyediakan banyak lapangan pekerjaan. Lapangan pekerjaan tersebut tak hanya digandrungi masyarakat Ubud, tetapi juga masyarakat luar Ubud. Akhirnya, banyak kendaraan yang keluar masuk Ubud di jam tertentu dan menimbulkan kemacetan. Menurut Wayan, mengatasi kemacetan di Ubud bukan hanya tugas warga Ubud, tetapi juga orang-orang yang datang ke Ubud.










