
Seni, budaya, dan ketenangan berpadu menjadi satu di Ubud. Desa yang berlokasi di tengah-tengah Pulau Bali ini dikenal dengan keindahan alam berupa sawah dan tebing. Namun, apakah keindahan alam, seni, budaya, dan ketenangan itu masih bisa ditemukan di Ubud?
Perjalanan saya dimulai dari Denpasar Utara. Estimasi tiba di Ubud dari Google Maps 40 menit, tetapi nyatanya waktu yang saya habiskan di jalan mencapai satu jam lebih. Bahkan, dari Tebongkang ke Lapangan Astina Ubud memakan waktu 30 menit.

Saat itu pukul tiga sore, tapi macet jalanan Ubud sudah seperti jam pulang kerja. Macet di mana-mana. Motor menyalip mobil-mobil yang tak bisa bergerak, mengambil jalur kendaraan lain, dan menimbulkan kemacetan baru.
Pengendara motor juga tidak ragu naik ke trotoar. Bahkan, beberapa orang yang sedang berjalan kaki di trotoar terpaksa minggir. Saya menyaksikan pejalan kaki berdebat dengan pengendara motor. “Ini trotoar pak,” ujar pejalan kaki dengan kesal. “Ya, saya tahu,” jawab pengendara motor sambil membunyikan klakson. Pejalan kaki itu terpaksa mengalah.

Tiba di Ubud, saya memarkirkan motor di Lapangan Astina Ubud. Ada empat kantong parkir yang tersedia di Ubud, yaitu Lapangan Astina Ubud, Central Parkir Batukaru, Basement Pasar Tematik Ubud, dan Central Parkir Monkey Forest. Beberapa poster larangan parkir di badan jalan pun terlihat di mana-mana.
Menyempitnya Ruang Terbuka Hijau


Sejak tahun 2023, Lapangan Astina Ubud dialihfungsikan menjadi lahan parkir. Dari penelusuran Google Street View, pada September 2022, Lapangan Astina Ubud sepenuhnya adalah lapangan. Pada Juli 2023, tampak mobil dan motor mulai parkir di lapangan tersebut. Kemudian, Juni 2024, Lapangan Astina Ubud terbagi menjadi dua, setengah untuk lahan parkir dan setengahnya lagi untuk lapangan.
Ketika saya berkunjung, sedang dilaksanakan pertandingan sepak bola di Lapangan Astina Ubud. Jaring tinggi terpasang untuk menghalau bola keluar dari lapangan. Tak seperti pertandingan bola yang menggunakan lapangan luas, para pemain hanya bisa menggunakan setengah lapangan sepak bola.

Lapangan Astina Ubud memiliki luas 6.324 m². Apabila setengahnya dialihfungsikan sebagai lahan parkir, lahan yang tersisa untuk lapangan sepak bola hanya 3.162 m². Angka itu jauh lebih kecil dari standar lapangan sepak bola biasa. Luas minimum standar FIFA adalah 6.400 m², sedangkan lapangan sepak bola di Lapangan Astina Ubud hanya setengah dari standar minimum FIFA.
Sentral Parkir Lapangan Astina dan SD 1 Ubud terdaftar dalam proyek potensial Pusat Investasi Kerthi Bali Sadhana. Status investasinya masih tersedia dengan perkiraan nilai investasi lebih dari Rp350 miliar.
Dalam usulan investasi tersebut akan dibangun Gedung Parkir Lapangan Astina Ubud dengan dua lantai. Dari gambar tampak lantai paling atas difungsikan sebagai RTH dilengkapi taman dan jogging track. Wacana ini sudah ada sejak tahun 2022 dan ditargetkan rampung pada tahun 2024. Namun, hingga saat ini proyek tersebut tak kunjung berjalan.
Kualitas Udara Hampir Setara Kota-kota Besar
Berjalan kaki di Ubud seolah sedang bermain Temple Run. Hambatan ada di mana-mana, trotoar sempit, rusak, dan takut diserempet. Ketika berjalan kaki di seputaran Ubud, saya kerap kali harus berhenti, memberikan jalan untuk orang lewat dari arah berlawanan. Pasalnya, trotoar di Ubud terlalu sempit untuk dilalui dua orang.
Trotoar yang rusak pun menjadi masalah. Seorang wisatawan di depan saya berjalan sembari mendorong troli bayi. Beberapa kali ia berhenti karena roda troli terjebak di paving trotoar yang rusak.

Di beberapa sisi jalan, trotoar digunakan untuk menjajakan barang dagangan. Bahkan, toko-toko di pinggir jalan menutupi guiding blocks yang pemasangannya digunakan untuk memudahkan disabilitas netra.
Trotoar di Ubud nyatanya sangat multifungsi, sebagai tempat berjualan, dijadikan tempat meletakkan bahan bangunan, hingga menjadi tempat parkir. Berjalan di trotoar tak lagi mudah, berjalan di badan jalan juga menjadi tantangan karena takut diserempet.

Jalan kaki tak aman, macet pun di mana-mana. Sepanjang jalan Ubud tak lepas dari kemacetan. Terlebih di Pasar Seni Ubud yang kini berubah menjadi bangunan megah. Pasar Seni Ubud menjadi tempat naik turun wisatawan ke kendaraan. Para driver dan guide mengantre sepanjang jalan dan menimbulkan kemacetan.
Pejalan kaki di Ubud sebagian besar adalah wisatawan asing. Ketika saya berkunjung, jarag masyarakat lokal yang saya lihat berjalan kaki. Masyarakat lokal yang berjalan kaki biasanya para pegawai sekitar yang tengah menuju tempat makan atau pegawai yang menuju tempat parkir.
Pada tahun 2023, Ubud sempat menyentuh kualitas udara terburuk kelima di situs IQAir.com, yaitu pada angka 155 air quality index (AQI). Saya mencoba memeriksa kembali kualitas udara di Ubud melalui aplikasi IQAir. Pada 20 Agustus 2025, kualitas udara Ubud menyentuh angka 147 AQI pada pukul 09.00-10.00 WITA. Angka tersebut hampir setara dengan kualitas udara di kota besar, seperti Jakarta dan Batam.
Akademisi Universitas Warmadewa, Nyoman Gede Mahaputra atau yang kerap disapa Mangde, menjelaskan bahwa masyarakat lokal Ubud lebih memilih mobilisasi menggunakan kendaraan bermotor dibandingkan jalan kaki. Ketika merancang kawasan rendah emisi di Ubud ia menemukan dua alasan terjadinya fenomena tersebut.
Pertama, perkembangan wilayah Ubud menyebar ke area paling dalam, seperti cafe, hotel, dan resort di tengah sawah. “Jadi semuanya menyebar semakin menjauhi pusat kota, sehingga tidak lagi terjangkau kalau kita berjalan kaki,” ujar Mangde. Alasan kedua adalah kurangnya fasilitas pejalan kaki, sehingga orang enggan berjalan kaki.
Keengganan masyarakat berjalan kaki berimplikasi pada kemacetan. Ketika macet terjadi, kendaraan akan diam dan tetap hidup. Saat itulah emisi diproduksi oleh kendaraan. “Sehingga muncullah itu Ubud yang udaranya tidak sehat,” ujar Mangde.
Ubud sudah beberapa kali melakukan upaya untuk mengatasi kemacetan dan mengurangi emisi kendaraan. Seperti Desa Pakraman Padang Tegal Ubud yang mengelola pusat parkir di areal Monkey Forest Ubud. Areal parkir tersebut diklaim dapat menampung 1.500 unit mobil. Kantong-kantong parkir juga disediakan di beberapa titik untuk mendorong orang-orang berjalan kaki dan mengatasi parkir liar. Sayangnya, kantong parkir seperti di Lapangan Astina justru mempersempit RTH. Selain itu, masih banyak motor yang parkir di badan jalan dan trotoar.
Ada pula upaya lain dari Desa Peliatan yang memiliki charging station kendaraan listrik yang berlokasi di Alun-alun Desa Peliatan. Tujuannya agar lebih banyak masyarakat yang menggunakan kendaraan listrik atau kendaraan rendah emisi.

Beberapa gang kecil di Ubud juga dikhususkan untuk pejalan kaki, seperti Jalan Goutama. Jalan tersebut penuh pejalan kaki dan sempat viral di media sosial karena cafe-cafe sekitar yang ciamik. Meski begitu jalan ini tetap bisa dilalui motor, hanya mobil yang tidak bisa masuk.
Sayangnya, jalan panjang masih harus dilalui Ubud untuk menuju kawasan rendah emisi. Rendah emisi bukan semata-mata menghentikan seluruh aktivitas kendaraan di Ubud, tetapi juga perlu ada upaya-upaya pemenuhan ruang publik, seperti fasilitas pejalan kaki dan kendaraan umum.
https://www.english.focaravajuce.org/ kampungbet legianbet legianbet legianbet







![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-350x250.jpg)


