
Oleh: Desak Nyoman Sri Suyasning Putri, S.Pd.,M.Pd
Bali dikenal dengan Pulau Dewata (Island Of The Gods) karena keindahan alamnya yang memukau dan nilai religius yang kental serta kekayaan kultural yang tinggi, banyak juga menyebutnya “Pulau Seribu Pura” karena banyaknya Pura tersebar di Bali. Orang-orangnya yang dikenal keramahannya sekarang ini sedang menghadapi fenomena serius berupa tingginya angka kasus bunuh diri di Bali. Era modern yang serba cepat ini dengan dukungan teknologi yang canggih ironinya rentan mengalami krisis batin berupa kecemasan, depresi, kehilangan makna hidup, keterasingan dari diri sendiri hingga timbul keinginan mengakhiri hidup. Fenomena bunuh diri dalam kehidupan masyarakat modern semakin sering muncul sebagai gejala krisis batin yang tidak tertangani.
Krisis batin yang dialami manusia modern bukan kelemahannya melainkan sinyal bahwa ada kebutuhan mendasar yang belum terpenuhi. Banyak orang merasa hidupnya kosong meskipun terlihat baik-baik saja. Era yang melek dengan digital salah satu menjadikan turunnya tingkat interaksi komunikasi antar keluarga atau orang terdekat dan rentan mengalami tekanan sosial.
Di tengah kondisi tersebut tradisi spritual seperti Siwaratri menjadi relevan untuk kembali dimaknai. Siwaratri berasal dari dua kata yakni Siwa dan Ratri. Kata Siwa berarti yang memberikan keberuntungan, yang baik, ramah, suka memaafkan, menyenangkan, memberi banyak harapan, yang tenang membahagiakan dan sejenisnya (Monier, dalam Titib,2000:239). Sang Siwa dalam menggerakkan hukum kemahakuasaan-Nya didukung oleh sakti-Nya yaitu Durga atau Parvati. Sedangkan Ratri berarti malam. Secara harfiah Siwaratri dipahami sebagai “Malam Siwa” atau malam perenungan kegelapan batin untuk menuju terang. Malam ini merupakan kesempatan untuk intropeksi diri, meditasi, dan desiplin diri.
Siwaratri memberikan ruang kontemplasi yang sangat diperlukan bagi manusia modern yang tengah menghadapi berbagai tantangan batin, seperti refleksi diri, desiplin spritual, makna hidup dan konsolidasi nilai. dalam refleksi diri perayaan ini mendorong individu merenungkan tindakan dan sikapnya dalam kehidupan. Hal ini mengarah kesadaran diri dan intropeksi diri. Desiplin spritual bisa mempraktikkan meditasi atau pengendalian diri, pikiran maupun indria, dan berjaga semalam suntuk. Siwararti juga mengajak individu melihat kembali pada nilai-nilai luhur seperti kasih, pengampunan, dan tanggung jawab moral, yang menjadi landasan hidup bermakna.
Tekanan batin yang dihadapi sampai munculnya keinginan bunuh diri menunjukkan terjadinya kebingungan makna ketika kematian dipandang sebagai satu-satunya jalan keluar. Siwararti menghadirkan makna alternatif yang perlunya dimatikan bukanlah kehidupan, melainkan ego, ketidaksadaran dan kelekatan batin yang menyakitkan. Siwaratri juga dapat dimaknai sebagai kritik spritual terhadap masyarakat yang gagal menyediakan ruang empati dan krisis batin seharusnya dirawat secara kolektif bukan dipendam secara individual.
kawijitu kawijitu kawijitu kawijitu










