:Oleh Gita Andari & Maya Ayu Revalina

Hidup adalah seni merangkul perubahan dan menari di atas gelombangnya.
Preferensi Wisata Zaman Now
Preferensi itu ibarat selera makan, apa yang dulu mengenyangkan, kini belum tentu memuaskan lagi. Bali dengan lintasan panjang sejarahnya merekam jejak waktu yang membentuk kiprah pariwisata. Cikal bakal pariwisata Bali sudah dimulai sejak awal 1900-an, saat kapal-kapal dagang para saudagar, hingga seniman Eropa mulai singgah dan menulis tentang keindahan alam serta budaya Bali.
Alam dan budaya, itulah dua elemen yang diikat dengan lakon hangat keramahtamahan sehingga menjadi mantra yang mengorbitkan Bali dalam ragam cinta yang diterima kemudian. Memasuki masa kejayaan pariwisata pasca-1969, sejumlah destinasi mulai tampil sebagai pelopor yang menyiarkan jejak historis. Sanur dikenal sebagai pintu awal wisata pantai sejak 1960-an, Kuta lantas berkembang pesat pada 1970-an dari desa nelayan menjadi magnet wisatawan mancanegara, sementara Ubud menguat sebagai pusat seni dan spiritualitas sejak dekade 1970 hingga 1980-an.
Pulau Dewata, itulah Bali, namanya kian bergema. Lambat laun, Bali kerap menjadi destinasi utama untuk liburan di kala masyarakat tengah jenuh dengan hiruk pikuk suasana perkotaan. Wisatawan lokal maupun mancanegara ramai-ramai memilih Bali sebagai obat pelipur lara yang lantas menjadikannya ikon pariwisata Indonesia.
Namun, arah angin pariwisata tak pernah benar-benar berputar di satu tempat. Wisata pantai dan klub malam memang tetap hidup sebagai denyut Bali Selatan, sementara itu di saat yang sama, angin baru perlahan merubah arah kompas, membawa preferensi wisata yang bergerak menjauh dari sekadar keramaian menuju pengalaman autentik. Wisatawan kini mulai memburu jejak-jejak tersembunyi itu.
Maka kemudian munculah istilah ‘hidden gem’ yang diartikan sebagai gambaran terhadap suatu tempat, objek seni, produk, atau individu yang memiliki kualitas maupun keunikan yang belum banyak diketahui. Wisata hidden gem mulai viral seiring maraknya penggunaan media sosial (Instagram/TikTok) dalam dekade terakhir, khususnya pasca-pandemi Covid-19.
Seiring berjalannya waktu, minat wisata di Bali pun silih berganti. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh BaleBengong melalui jajak pendapat (polling) di aplikasi X pada Desember 2025, sekitar 44% warga internet lebih memilih untuk berkunjung ke wisata hidden gem, sementara 53% memilih untuk mencari opsi selain Bali, dan 3% sisanya berminat ke tempat wisata yang sedang tren.
Data tersebut kemudian didukung dengan jajak preferensi dari pertanyaan ‘apakah Bali butuh banyak tempat wisata lagi?’ Survei menunjukkan 30% voter mengganggap destinasi di Bali sudah kebanyakan, sekitar 35% warga internet lebih menyukai wisata alam.
Tak heran jika beberapa wisatawan lebih menaruh minat untuk mengunjungi destinasi alam yang biasanya terletak jauh dan sulit dijangkau. Terlebih lagi, maraknya kehadiran destinasi tersembunyi seperti pantai, air terjun tersembunyi, hingga kafe-kafe di pinggir sawah. Meski terletak di daerah terpencil, tempat seperti itu justru diminati oleh banyak wisatawan.
Pertumbuhan wisata hidden gem di Bali yang meningkat signifikan, juga didorong oleh tren wisata pengalaman (experimential travel) ke area seperti Bali Utara dan Timur sejak 2023. Data pusatstatistikwisatabali.co.id menunjukkan pergeseran fokus wisatawan ke alam dan budaya tersembunyi menunjukkan adanya ‘diversifikasi destinasi’ (pengembangan pariwisata yang bertujuan menyebarkan arus wisatawan dan mengurangi ketergantungan pada satu lokasi populer).
Pergeseran Kompas Wisata
Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan Nyoman Subrata, Sekretaris ASITA (Association of Indonesian Tours and Travel Agencies), pada 8 Januari 2026, segmentasi pasar dibedakan menjadi dua, yaitu market/pasar (negara asal wisatawan), dan jenis kunjungan (pertama datang/repeater). Namun, secara umum baik wisatawan domestik maupun mancanegara destinasi wisata yang masih menjadi pilihan adalah seperti Tanah Lot, Uluwatu, Kuta, Penglipuran, Tampaksiring, Jatiluwih, Alas Arum Tegalalang, Ubud, dan Nusa Penida. “Kalau yang baru pertama datang mau asing ataupun domestik akan tetap menikmati kunjungan di destinasi yang saat ini menjadi branding terkuat di Bali,” tutur Subrata.
Lebih lanjut Subrata menjelaskan bahwa tipe pasar wisatawan memiliki karakteristiknya tersendiri. Sebagai contoh, untuk wisatawan asal China biasanya lebih tertarik melakukan wisata action (bergerak) seperti aktivitas rafting (arum jeram), dolphin tour (atraksi lumba-lumba), ataupun ATV Ride. Sedangkan wisatawan dari Australia bisa jadi lebih banyak stay di hotel, dikarenakan wisatawan Australia dikenal merupakan repeater (alias sudah sering mengunjungi Bali berulang kali). Sementara itu, untuk wisatawan domestik, selain pantai, Desa Penglipuran masih menjadi favorit.
Jika melihat data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali dan ASITA, kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali pada 2025 mencatatkan rekor tertinggi. Jumlah kunjungan mencapai sekitar 7,05 juta wisatawan, melampaui capaian tahun 2024 yang berada di kisaran 6,3 juta kunjungan. Angka ini juga melampaui target pemerintah daerah Bali pada 2025 yang sebelumnya dipatok sebesar 6,5 juta wisatawan. “Nah, jadi kalau melihat dari data ini Bali enggak sepi. Nah, kenapa kenapa itu sampai viral, Bali sepi dan segala macam karena penyebaran wisatawan asing yang di tahun 2025 itu makin merata,” terang Subrata mengenai narasi ‘Pariwisata Bali Sepi’ yang sempat viral di akhir tahun.
Mengenai masalah padatnya Bali Selatan hingga momok kemacetan, Subrata menilai kondisi tersebut yang tidak teratasi semakin membuat destinasi di Seminyak, hingga Kuta perlahan ditinggalkan. Bagi wisatawan yang mencari ketenangan, kondisi seperti ini tentu bukan yang diharapkan apalagi dengan waktu kunjungan yang singkat. “Ada beberapa yang tidak diminati bukan karena daya tariknya tidak bagus, tapi karena situasinya yang bagi wisatawan yang mempunyai waktu yang sedikit, (misalnya) berliburnya tiga hari atau cuman empat hari itu kan mereka menghindari daerah-daerah yang padat dengan kemacetan,” terang Subrata.
Di Bali beberapa destinasi wisata baru lahir bersamaan dengan meluasnya kawasan wisata yang menjamur di berbagai kawasan. Hal ini tentunya memberikan angin segar serta nuansa baru bagi rasa bosan akan rutinitas lama.
Bagaimana Dampak Hadirnya Tempat Usaha dan Wisata Alam?
Namun, di balik geliat tersebut, muncul pula pertanyaan tentang dampak kehadiran tempat usaha dan wisata alam baru terhadap lingkungan dan masyarakat lokal. Di satu sisi, pariwisata hidden gem dinilai mampu membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan ekonomi desa, serta mengurangi ketimpangan pembangunan yang selama ini terpusat di Bali Selatan. Di sisi lain, tanpa regulasi yang ketat, ekspansi pariwisata berisiko memicu alih fungsi lahan, tekanan terhadap sumber daya alam, hingga konflik ruang antara warga dan pelaku usaha.
Kondisi ini bukan tanpa preseden. Publik masih mengingat bagaimana masifnya alih fungsi lahan di sejumlah kawasan wisata, termasuk Jatiluwih, yang berstatus Warisan Budaya Dunia (WBD) UNESCO. Kawasan yang semestinya dilindungi sebagai lanskap pertanian berbasis sistem subak tersebut sempat menghadapi tekanan pembangunan fasilitas wisata, mulai dari akomodasi hingga infrastruktur penunjang pariwisata. Situasi ini memicu perdebatan antara kepentingan ekonomi dan upaya pelestarian lingkungan serta budaya lokal.
Kasus serupa juga mulai mengemuka di wilayah-wilayah yang kini dipromosikan sebagai destinasi alternatif atau hidden gem. Peningkatan jumlah kafe, vila, dan tempat wisata alam di kawasan pedesaan kerap berjalan lebih cepat dibandingkan kesiapan tata ruang dan daya dukung lingkungan. Jika tidak dikendalikan, geliat ini berpotensi mengulang pola lama.
Ke depan, tantangan terbesar pariwisata Bali bukan sekadar menciptakan destinasi baru, melainkan memastikan arah pengembangannya tetap berkelanjutan. Implementasi kebijakan ini menjadi krusial agar tren wisata hidden gem tidak sekadar menjadi fenomena sesaat, melainkan benar-benar membawa manfaat jangka panjang bagi Bali dan masyarakatnya.
kawijitu kawijitu kawijitu sangkarbet




