
Dalam rangka memperingati Hari Laut Sedunia dan Coral Triangle Day, sebuah platform digital baru resmi diluncurkan pada 9 Juni 2026 untuk memperkuat konektivitas antar individu, pengetahuan, dan peluang kolaborasi dalam upaya melindungi kawasan Coral Triangle.
Platform yang diinisiasi oleh Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Security (CTI-CFF) bersama Coral Triangle Center (CTC), WWF Coral Triangle Programme, dan program Solutions for Marine and Coastal Resilience in the Coral Triangle (SOMACORE) ini diberi nama CTI-CFF Capacity Building Repository. Platform tersebut menghubungkan pemerintah, akademisi, pemimpin masyarakat, serta praktisi konservasi dan pembangunan untuk berbagi pembelajaran dan menemukan solusi yang telah terbukti efektif dalam menghadapi berbagai tantangan di kawasan Coral Triangle.
Mencakup wilayah perairan Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon, dan Timor-Leste, Coral Triangle dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut terbesar di dunia. Kawasan ini menjadi rumah bagi lebih dari 600 spesies karang dan 2.000 spesies ikan karang, mencakup sekitar 76 persen spesies karang dunia yang telah diketahui, serta menopang kehidupan lebih dari 130 juta orang melalui sektor perikanan, pariwisata, ketahanan pangan, perlindungan pesisir, dan mata pencaharian berkelanjutan.
Namun demikian, meningkatnya tekanan terhadap ekosistem laut akibat perubahan iklim, penangkapan ikan berlebih, pencemaran laut, dan pemanfaatan sumber daya yang tidak berkelanjutan menjadikan penguatan kapasitas dan pertukaran pengetahuan semakin penting.
“Meski berbagai upaya konservasi telah dilakukan selama puluhan tahun dan banyak pengetahuan telah dihasilkan di kawasan ini, sebagian besar sumber daya pembelajaran tersebut masih tersebar di berbagai institusi, organisasi, dan negara. CTI-CFF Capacity Building Repository hadir untuk menjawab tantangan tersebut dengan menghimpun pengetahuan penting, peluang pembelajaran, dan jejaring ahli dalam satu platform yang mudah diakses,” ujar Rili Djohani, Direktur Eksekutif Coral Triangle Center, dalam acara peluncuran.
Repositori yang dapat diakses melalui coraltrianglelearning.org ini berfungsi sebagai pusat pengetahuan terbuka yang menyediakan praktik-praktik terbaik, studi kasus, dokumen panduan, materi edukasi, serta berbagai sumber daya lainnya yang mendukung implementasi CTI-CFF Regional Plan of Action (RPOA) 2.0. Lebih dari sekadar perpustakaan digital, platform ini dirancang sebagai ruang pembelajaran, kolaborasi, dan pengembangan keterampilan praktis untuk mendukung konservasi laut dan penghidupan masyarakat pesisir yang berkelanjutan.
“Pengembangan kapasitas merupakan salah satu fondasi utama dalam mencapai tujuan CTI-CFF Regional Plan of Action 2.0. Seiring meningkatnya kompleksitas pengelolaan wilayah pesisir dan laut, kebutuhan akan akses terhadap pengetahuan, perangkat praktis, dan platform pembelajaran kolaboratif menjadi semakin penting,” kata Ir. A. Koswara, Ketua CTI-CFF Council of Senior Officials sekaligus Direktur Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. “Indonesia meyakini bahwa investasi pada sumber daya manusia adalah investasi bagi masa depan keberlanjutan laut. Kami berharap repositori ini dapat memperkuat kolaborasi antara pemerintah, institusi pendidikan, penyedia pelatihan, masyarakat lokal, praktisi, dan mitra pembangunan,” tambahnya.
Senada dengan itu, Dr. Frank Griffin, Direktur Eksekutif Sekretariat Regional CTI-CFF, menyampaikan bahwa repositori ini merupakan langkah penting dalam memperkuat kolaborasi regional dan memastikan para praktisi, masyarakat, serta pengambil kebijakan memiliki akses terhadap pengetahuan dan perangkat yang dibutuhkan untuk mengelola sumber daya laut dan pesisir secara efektif.
Webinar peluncuran juga menghadirkan berbagai organisasi regional dan mitra konservasi yang berkontribusi menyediakan produk pengetahuan dan sumber pembelajaran ke dalam repositori. Para pembicara membagikan pengalaman mengenai pengembangan kapasitas, pengelolaan pengetahuan, serta pendekatan kolaboratif seperti jejaring pembelajaran antar praktisi dalam memperkuat pengelolaan ekosistem pesisir dan laut.
“Pengetahuan hanya dapat hidup dan berkembang ketika dibagikan serta dimanfaatkan oleh banyak orang. Kami mengajak para pembuat kebijakan, pegiat konservasi, dan pemimpin masyarakat untuk berbagi pembelajaran, menerjemahkan pengetahuan menjadi aksi nyata, serta membantu memperluas penerapan solusi yang diperlukan untuk mencapai target konservasi 30×30,” ujar Klaas Jan Teule, Leader WWF Coral Triangle Programme.
Sementara itu, John Erick Avelino, Supervising Ecosystems Management Specialist dari Coastal and Marine Division, Department of Environment and Natural Resources Filipina, memaparkan sejumlah modul pelatihan praktis yang telah dikembangkan Filipina dan dikontribusikan ke dalam repositori. Ia menegaskan pentingnya platform ini sebagai sarana berbagi pengetahuan di antara enam negara anggota Coral Triangle.
Peluncuran repositori ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas yang dilakukan Sekretariat Regional CTI-CFF bersama para mitra untuk memperkuat ketahanan wilayah pesisir dan laut melalui kerja sama regional, pertukaran pengetahuan, dan pengembangan kapasitas. Program SOMACORE didukung oleh Kementerian Federal Lingkungan Hidup, Aksi Iklim, Konservasi Alam, dan Keselamatan Nuklir Jerman (BMUKN) melalui International Climate Initiative (IKI), dan diimplementasikan oleh berbagai organisasi mitra di negara-negara Coral Triangle.
“Repositori ini merupakan wujud nyata kemitraan antara pemerintah dan organisasi non-pemerintah di enam negara Coral Triangle. Platform ini membuat pengetahuan dan pengalaman menjadi lebih mudah diakses serta menghubungkan para praktisi lintas negara,” ujar Dr. Jan Steffen, Direktur Program SOMACORE. Ia menambahkan bahwa repositori ini diharapkan dapat memberdayakan generasi pengelola laut saat ini maupun masa depan, sekaligus mempercepat aksi kolektif untuk melindungi salah satu ekosistem laut paling berharga di dunia.
Dengan memperluas akses terhadap pengetahuan dan memperkuat koneksi antar praktisi lintas negara, CTI-CFF Capacity Building Repository diharapkan mampu melahirkan generasi baru penjaga laut (ocean stewards) dan mempercepat upaya bersama dalam melindungi kekayaan laut Coral Triangle.
Saat ini, repositori telah menghimpun kontribusi pengetahuan dari berbagai organisasi regional dan internasional, termasuk CTC, IUCN, WWF, Department of Environment and Natural Resources–Biodiversity Management Bureau Filipina, Bureau of Fisheries and Aquatic Resources, The Nature Conservancy (TNC), Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Konservasi Indonesia, Coral Reef Alliance, serta berbagai praktisi dan pakar regional CTI-CFF.
Catatan untuk Editor:
Fitur utama dalam CTI-CFF Capacity Building Repository meliputi:
- Resource Library – Kumpulan produk pengetahuan, studi kasus, praktik terbaik, dan materi edukasi yang telah dikurasi bersama CTI-CFF dan para mitra.
- E-Learning Portal – Kursus daring mandiri, video pembelajaran, dan materi yang dapat diunduh melalui komputer maupun perangkat seluler, termasuk dalam berbagai bahasa regional.
- Directory of Expert Practitioners – Database yang menghubungkan para ahli, peneliti, dan spesialis teknis di bidang pengelolaan pesisir dan laut di kawasan Coral Triangle.
- Directory of Capacity Building Providers – Direktori organisasi yang menyediakan pelatihan dan pengembangan kapasitas, termasuk lembaga pemerintah, universitas, dan organisasi non-pemerintah.
- Learning Networks Directory – Akses ke berbagai komunitas praktik regional, termasuk jaringan pengelola kawasan konservasi perairan (MPA Managers Network) dan Women Leaders Forum.
- Learning and Funding Opportunities – Informasi terkini mengenai beasiswa, hibah, fellowship, pelatihan, dan peluang pendanaan lainnya yang tersedia di kawasan Coral Triangle.
Tentang Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Security (CTI-CFF)
Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Security (CTI-CFF) merupakan kemitraan multilateral yang terdiri dari enam negara—Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon, dan Timor-Leste—yang bekerja sama untuk melindungi Coral Triangle, pusat keanekaragaman hayati laut dunia. Kawasan yang sering dijuluki sebagai “Amazon of the Seas” ini menjadi rumah bagi 76 persen spesies karang dunia dan 37 persen spesies ikan karang dunia, serta menopang mata pencaharian dan ketahanan pangan lebih dari 130 juta orang.
Melalui Regional Plan of Action (RPOA) 2.0, CTI-CFF mendorong kolaborasi regional untuk melestarikan terumbu karang, memperluas kawasan konservasi laut, memastikan perikanan yang berkelanjutan, serta meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim. Sekretariat Regional CTI-CFF yang berkedudukan di Manado, Indonesia, mengoordinasikan upaya bersama ini dengan mempertemukan pemerintah, mitra pembangunan, dan masyarakat untuk mewujudkan ekonomi biru yang sehat, tangguh, dan inklusif di kawasan Coral Triangle.









