• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, July 17, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Antara Lapar dan Layar: Ketika Makan Tak Sekadar Mengisi Perut

Vivit Arista Dewi by Vivit Arista Dewi
18 June 2026
in Kabar Baru, Opini, Teknologi
0
0

Ilustrasi Foto

Pernah sadar tidak, begitu makanan sudah datang, tangan justru lebih dulu mencari ponsel?

Entah membuka YouTube, menggulir TikTok, atau melanjutkan serial yang belum selesai di Netflix. Rasanya ada yang kurang jika makan dilakukan tanpa layar menyala. Bahkan, bagi sebagian orang, makan sendirian tanpa tontonan terasa lebih membosankan daripada menunggu makanan datang.

Kebiasaan ini semakin akrab dengan kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan generasi yang tumbuh bersama internet. Layar bukan lagi sekadar alat komunikasi atau hiburan. Ia telah menjadi teman makan yang selalu hadir, dari sarapan yang terburu-buru hingga makan malam setelah hari yang melelahkan.

Tanpa disadari, kebiasaan itu perlahan mengubah cara kita menikmati waktu makan.

Dulu, meja makan identik dengan percakapan. Ada cerita tentang pekerjaan, kuliah, sekolah, atau sekadar membahas hal-hal remeh yang terjadi sepanjang hari. Kini, suasana itu sering berganti dengan suara video yang diputar dari gawai masing-masing. Orang-orang tetap duduk berdekatan, tetapi perhatian mereka berada di tempat yang berbeda.

Menariknya, fenomena ini bukan sekadar soal kebiasaan baru. Penelitian Pandu Bintang Sidi dan rekan-rekannya (2024) dalam Jurnal LITERAKOM menunjukkan bahwa kebiasaan menonton konten mukbang dapat membentuk perilaku makan sambil menonton sekaligus meningkatkan ketergantungan terhadap media. Tayangan mukbang menghadirkan semacam ilusi kebersamaan. Penonton merasa seperti sedang makan bersama seseorang, meskipun sebenarnya berada sendirian di depan layar.

Mungkin itu pula yang menjelaskan mengapa banyak orang merasa lebih nyaman makan sambil menonton. Layar menghadirkan suara, ekspresi, bahkan percakapan yang mengisi kesunyian. Dalam situasi tertentu, terutama bagi mereka yang tinggal sendiri atau jauh dari keluarga, kebiasaan ini bisa menjadi cara sederhana untuk mengurangi rasa sepi.

Namun, ada sisi lain yang jarang disadari.

Saat perhatian terbagi antara makanan dan layar, pengalaman makan menjadi kurang utuh. Kita sering tidak benar-benar menikmati rasa makanan atau menyadari kapan tubuh sudah kenyang. Waktu makan berubah menjadi aktivitas yang berjalan otomatis, ditemani video demi video yang terus berganti.

Lebih jauh lagi, perubahan ini juga menyentuh makna sosial dari kegiatan makan.

Jika dulu makan bersama menjadi ruang untuk saling mendengar dan bertukar cerita, kini layar perlahan mengambil sebagian ruang tersebut. Percakapan digantikan notifikasi, tatapan mata berganti tatapan ke layar, sementara keheningan terasa semakin lumrah meski satu meja dipenuhi orang.

Tentu, makan sambil menonton bukan sesuatu yang sepenuhnya salah. Setelah hari yang padat, banyak orang memang membutuhkan hiburan sederhana. Menonton video favorit sambil menikmati makanan bisa menjadi cara melepas penat.

Yang patut dipikirkan bukanlah soal boleh atau tidak, melainkan seberapa besar ruang hidup kita telah diambil alih oleh layar.

Masih adakah waktu makan yang benar-benar kita nikmati tanpa distraksi? Masihkah meja makan menjadi tempat berbagi cerita, atau hanya menjadi tempat mengisi daya tubuh sebelum kembali menatap layar?

Barangkali sesekali kita bisa mencoba mematikan video selama beberapa menit. Mendengar suara sendok yang beradu dengan piring, mengobrol dengan orang di seberang meja, atau sekadar menikmati rasa makanan tanpa ditemani algoritma.

Sebab, di tengah dunia yang semakin digital, mungkin justru momen-momen sederhana seperti itulah yang perlahan menjadi langka.

Referensi

Sidi, P. B., dkk. (2024). Peran Konten Mukbang dalam Membentuk Ketergantungan Makan Sambil Menonton: Perspektif Teori Dependensi Media. LITERAKOM: Jurnal Literasi dan Komunikasi, 2(2).

Tags: AgendaAntara Lapar Dan LayarBudaya DigitalGaya Hidup DigitalMakan Sambil NontonScreen Time
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Vivit Arista Dewi

Vivit Arista Dewi

Menulis untuk yang tak sempat diucap

Related Posts

Ini Kisahmu: Ni Pollok Gadis Bali

Ini Kisahmu: Ni Pollok Gadis Bali

14 July 2023
Cerita Rasa

Cerita Rasa Festival: Rintisan Festival Desa di Jembrana

6 August 2022
In Jazz We Trust, Perayaan Jazz secara Hibrida

In Jazz We Trust, Perayaan Jazz secara Hibrida

29 April 2021
KEMBALI 2020: Lifetime Achievement Award untuk Toeti Heraty

KEMBALI 2020: Lifetime Achievement Award untuk Toeti Heraty

1 November 2020
Kembali 2020: Memulihkan Industri Kreatif dan Masyarakat Bali

Kembali 2020: Memulihkan Industri Kreatif dan Masyarakat Bali

24 August 2020
UWRF 2020 Ditunda Hingga Pemberitahuan Lebih Lanjut

UWRF 2020 Ditunda Hingga Pemberitahuan Lebih Lanjut

27 July 2020
Next Post
Pedih di Balik Galungan: Ekonomi Melemah, Kantong Makin Tipis

Pedih di Balik Galungan: Ekonomi Melemah, Kantong Makin Tipis

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Membaca Series Nature Crime Mongabay: Seberapa Jahat Manusia kepada Alam?

Membaca Series Nature Crime Mongabay: Seberapa Jahat Manusia kepada Alam?

17 July 2026
AMSI Minta Majelis Hakim Nyatakan Gugatan tidak dapat Diterima atas Kasus Perdata 4 Media

AMSI Minta Majelis Hakim Nyatakan Gugatan tidak dapat Diterima atas Kasus Perdata 4 Media

16 July 2026
Kitab yang Ditulis Alam: Membaca The Sacred Text of Padma Karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

Kitab yang Ditulis Alam: Membaca The Sacred Text of Padma Karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

16 July 2026
Konservasi Kawasan Pura dan Budidaya melalui Bambuloka dari Yayasan Bambu Lestari

Konservasi Kawasan Pura dan Budidaya melalui Bambuloka dari Yayasan Bambu Lestari

16 July 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia