
Ilustrasi Foto
Pernah sadar tidak, begitu makanan sudah datang, tangan justru lebih dulu mencari ponsel?
Entah membuka YouTube, menggulir TikTok, atau melanjutkan serial yang belum selesai di Netflix. Rasanya ada yang kurang jika makan dilakukan tanpa layar menyala. Bahkan, bagi sebagian orang, makan sendirian tanpa tontonan terasa lebih membosankan daripada menunggu makanan datang.
Kebiasaan ini semakin akrab dengan kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan generasi yang tumbuh bersama internet. Layar bukan lagi sekadar alat komunikasi atau hiburan. Ia telah menjadi teman makan yang selalu hadir, dari sarapan yang terburu-buru hingga makan malam setelah hari yang melelahkan.
Tanpa disadari, kebiasaan itu perlahan mengubah cara kita menikmati waktu makan.
Dulu, meja makan identik dengan percakapan. Ada cerita tentang pekerjaan, kuliah, sekolah, atau sekadar membahas hal-hal remeh yang terjadi sepanjang hari. Kini, suasana itu sering berganti dengan suara video yang diputar dari gawai masing-masing. Orang-orang tetap duduk berdekatan, tetapi perhatian mereka berada di tempat yang berbeda.
Menariknya, fenomena ini bukan sekadar soal kebiasaan baru. Penelitian Pandu Bintang Sidi dan rekan-rekannya (2024) dalam Jurnal LITERAKOM menunjukkan bahwa kebiasaan menonton konten mukbang dapat membentuk perilaku makan sambil menonton sekaligus meningkatkan ketergantungan terhadap media. Tayangan mukbang menghadirkan semacam ilusi kebersamaan. Penonton merasa seperti sedang makan bersama seseorang, meskipun sebenarnya berada sendirian di depan layar.
Mungkin itu pula yang menjelaskan mengapa banyak orang merasa lebih nyaman makan sambil menonton. Layar menghadirkan suara, ekspresi, bahkan percakapan yang mengisi kesunyian. Dalam situasi tertentu, terutama bagi mereka yang tinggal sendiri atau jauh dari keluarga, kebiasaan ini bisa menjadi cara sederhana untuk mengurangi rasa sepi.
Namun, ada sisi lain yang jarang disadari.
Saat perhatian terbagi antara makanan dan layar, pengalaman makan menjadi kurang utuh. Kita sering tidak benar-benar menikmati rasa makanan atau menyadari kapan tubuh sudah kenyang. Waktu makan berubah menjadi aktivitas yang berjalan otomatis, ditemani video demi video yang terus berganti.
Lebih jauh lagi, perubahan ini juga menyentuh makna sosial dari kegiatan makan.
Jika dulu makan bersama menjadi ruang untuk saling mendengar dan bertukar cerita, kini layar perlahan mengambil sebagian ruang tersebut. Percakapan digantikan notifikasi, tatapan mata berganti tatapan ke layar, sementara keheningan terasa semakin lumrah meski satu meja dipenuhi orang.
Tentu, makan sambil menonton bukan sesuatu yang sepenuhnya salah. Setelah hari yang padat, banyak orang memang membutuhkan hiburan sederhana. Menonton video favorit sambil menikmati makanan bisa menjadi cara melepas penat.
Yang patut dipikirkan bukanlah soal boleh atau tidak, melainkan seberapa besar ruang hidup kita telah diambil alih oleh layar.
Masih adakah waktu makan yang benar-benar kita nikmati tanpa distraksi? Masihkah meja makan menjadi tempat berbagi cerita, atau hanya menjadi tempat mengisi daya tubuh sebelum kembali menatap layar?
Barangkali sesekali kita bisa mencoba mematikan video selama beberapa menit. Mendengar suara sendok yang beradu dengan piring, mengobrol dengan orang di seberang meja, atau sekadar menikmati rasa makanan tanpa ditemani algoritma.
Sebab, di tengah dunia yang semakin digital, mungkin justru momen-momen sederhana seperti itulah yang perlahan menjadi langka.
Referensi
Sidi, P. B., dkk. (2024). Peran Konten Mukbang dalam Membentuk Ketergantungan Makan Sambil Menonton: Perspektif Teori Dependensi Media. LITERAKOM: Jurnal Literasi dan Komunikasi, 2(2).










