• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, May 13, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Oka Agastya by Oka Agastya
15 January 2026
in Kabar Baru, Lingkungan, Opini, Teknologi
0
0

Di Bali, istilah tebe bukan hal baru. Secara tradisional, tebe merujuk pada area di belakang rumah yang digunakan untuk mengelola sisa dapur dan limbah organik secara alami. Selama puluhan tahun, sistem ini bekerja sederhana: sisa makanan dikubur, terurai, dan kembali menjadi bagian dari tanah. Namun seiring urbanisasi, keterbatasan lahan, dan meningkatnya produksi sampah, praktik tebe konvensional mulai ditinggalkan. Dari sinilah lahir tebe modern sebuah inovasi yang memadukan pengelolaan sampah organik, sanitasi lingkungan, dan kini berpotensi besar sebagai sumur resapan air hujan.

Gambar proses pembuatan Tebe Modern (Sumber Bali Post)

Tebe modern umumnya dirancang menyerupai sumur gali vertikal, berbentuk silinder dengan diameter sekitar 80–120 cm dan kedalaman 1,5–3 meter, tergantung kondisi tanah dan muka air tanah setempat. Dindingnya dapat diperkuat dengan buis beton berlubang atau bata tanpa plester penuh, sehingga air masih bisa meresap ke tanah di sekitarnya. Bagian dasar dibiarkan terbuka atau diberi lapisan kerikil kasar untuk meningkatkan infiltrasi. Di bagian atas, tebe modern dilengkapi penutup sederhana agar aman dan tidak menjadi sumber bau. Sampah organik rumah tangga seperti sisa sayur, buah, dan daun dimasukkan secara bertahap dan terurai secara an-aerobik maupun semi-aerobik (Putra & Suryawan, 2021).

Inovasi ini awalnya banyak dibicarakan dalam konteks pengurangan sampah organik rumah tangga di Bali, yang jumlahnya mencapai lebih dari 60% dari total timbulan sampah (KLHK, 2022). Namun jika dilihat lebih jauh, tebe modern menyimpan fungsi lain yang sangat relevan dengan kondisi Bali hari ini mengatasi banjir dari skala rumah tangga. Dalam beberapa tahun terakhir, banjir di Denpasar, Badung, dan sekitarnya semakin sering terjadi, bahkan pada hujan berdurasi singkat. Banyak kajian menunjukkan bahwa penyebab utamanya bukan semata curah hujan ekstrem, tetapi hilangnya ruang resapan akibat alih fungsi lahan dan dominasi permukaan kedap air seperti beton dan aspal (Wiryawan et al., 2020).

Di sinilah tebe modern dapat berperan sebagai sumur resapan multifungsi. Ketika hujan turun, air dari atap atau halaman dapat dialirkan ke tebe modern. Air tersebut kemudian meresap perlahan ke dalam tanah, membantu mengisi akuifer (lapisan batuan pembawa airtanah) dangkal untuk mengatasi defisit airtanah dan mengurangi limpasan permukaan yang membebani saluran drainase kota. Studi tentang sumur resapan menunjukkan bahwa satu unit sumur resapan rumah tangga dapat mengurangi limpasan hingga 30–40% pada skala tapak, tergantung jenis tanah dan intensitas hujan (Suripin, 2014).

Gambar ilustrasi Tebe Modern sebagai sumur resapan (Sumber Gemini AI)

Agar fungsi resapan ini optimal, ada beberapa syarat teknis minimal yang perlu diperhatikan. Pertama, tanah atau batuan di lokasi harus cukup permeabel, seperti pasir, pasir lempungan, atau endapan vulkanik muda yang umum dijumpai di Bali. Tanah liat yang sangat kedap perlu dihindari atau memerlukan modifikasi tambahan seperti lapisan kerikil tebal. Kedua, tebe modern harus dibangun berjarak aman dari septic tank, minimal 10 meter, untuk mencegah kontaminasi air tanah (SNI 8456:2017). Ketiga, lokasi tebe tidak berada di area rawan longsor atau dengan muka air tanah yang terlalu dangkal.

Tantangan utama penerapan tebe modern sebagai sumur resapan di kawasan perkotaan seperti Denpasar adalah keterbatasan ruang. Banyak rumah dibangun hampir menutup seluruh lahan, menyisakan sedikit atau bahkan tanpa halaman. Namun keterbatasan ini bukan alasan untuk berhenti berinovasi. Tebe modern dapat dibuat dengan ukuran lebih kecil dan lebih dalam, atau dikombinasikan dengan teknologi lain seperti lubang resapan biopori. Biopori, meski berukuran kecil, terbukti efektif meningkatkan infiltrasi air dan memperbaiki struktur tanah jika dibuat dalam jumlah cukup (Brata & Nelistya, 2008). Kombinasi tebe modern dan biopori dapat menciptakan jaringan resapan mikro yang signifikan di lingkungan padat.

Pendekatan ini sejalan dengan konsep adaptasi berbasis masyarakat. Ketika penanganan banjir sering terjebak pada solusi besar normalisasi sungai, pompa raksasa, atau betonisasi saluran—masyarakat sebenarnya dapat berkontribusi langsung dari rumah masing-masing. Penelitian tentang pengelolaan banjir perkotaan menunjukkan bahwa solusi desentralisasi berbasis tapak jauh lebih berkelanjutan dibandingkan mengandalkan infrastruktur tunggal berskala besar (Fletcher et al., 2015).

Lebih dari sekadar teknis, tebe modern menghidupkan kembali nilai lokal Bali mengelola sisa, mengembalikan ke tanah, dan menjaga keseimbangan air. Ia menjawab dua masalah sekaligus sampah organik dan banjir dengan satu solusi sederhana dan kontekstual. Dalam jangka panjang, jika diterapkan secara masif, tebe modern dapat membantu menurunkan beban TPA, meningkatkan cadangan air tanah, dan mengurangi genangan di permukiman.

Di tengah perubahan iklim dan urbanisasi cepat, kita tidak bisa hanya menunggu solusi dari atas. Banjir adalah persoalan kolektif, dan solusinya pun harus kolektif. Membangun satu tebe modern mungkin terasa kecil, tetapi ribuan tebe di ribuan rumah akan membentuk infrastruktur hijau kota yang nyata. Kini saatnya melihat halaman belakang bukan sebagai sisa ruang, tetapi sebagai garis depan adaptasi banjir. Mari atasi banjir dari rumah sendiri dengan inovasi mandiri yang sederhana, masuk akal, dan berpijak pada kearifan lokal Bali.


Referensi

  • Brata, K. R., & Nelistya, A. (2008). Lubang Resapan Biopori. Penebar Swadaya.
  • Fletcher, T. D., et al. (2015). SUDS, LID, BMPs, WSUD and more – The evolution and application of terminology surrounding urban drainage. Urban Water Journal.
  • KLHK. (2022). Laporan Timbulan Sampah Nasional.
  • Putra, I. D. G. A. D., & Suryawan, I. W. K. (2021). Pengelolaan sampah organik berbasis sumber di Bali. Jurnal Lingkungan.
  • Suripin. (2014). Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan. Andi.
  • Wiryawan, I. W., et al. (2020). Perubahan tutupan lahan dan peningkatan risiko banjir di wilayah perkotaan Bali. Jurnal Wilayah dan Lingkungan.
  • SNI 8456:2017. Sumur dan Parit Resapan Air Hujan.
  • https://mongabay.co.id/2022/09/24/teba-modern-cara-desa-celuk-bali-bebas-sampah-organik/ di akses 9 Januari 2026
  • https://balebengong.id/krisis-sampah-di-bali-contoh-baik-di-desa-ada-kenapa-pemerintah-pilih-bakar-sampah/?fbclid=PAZXh0bgNhZW0CMTEAc3J0YwZhcHBfaWQMMjU2MjgxMDQwNTU4AAGn8qk0FSNKQEFrXfosJoFKi9dfcP8M1sK5Z8BJOnG0b1DnzdmD1S68OXJrBig_aem_n0ABJE5-rhji_GriHwAsXQ di akses 9 Januari 2026
  • https://www.balipost.com/news/2025/06/04/462433/Pemdes-Diminta-Geliatkan-Program-Tebe di akses 9 Januari 2026

kawijitu kawijitu kawijitu kawijitu
Tags: BaliLingkunganmencegah banjirOpinisumur resapanTebe Modern
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Oka Agastya

Oka Agastya

Seorang pencerita bumi dan praktisi manajemen bencana

Related Posts

Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

9 May 2026
Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

3 May 2026
Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

1 May 2026
IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

29 April 2026
Kuningan: Sajian Nasi Kuning dan Kebiasaan Identik Lainnya

Keadilan bagi Guru dan Wajib Belajar 13 Tahun

27 April 2026
“Slaves of Objects” Candu Kebendaan dari WD

Pikiran yang Didisiplinkan

25 April 2026
Next Post
AJI dan AMSI Bali Kecam Intimidasi dan Kekerasan Aparat pada Dua Wartawan Peliput Aksi

Aksi Agustus: Fakta Persidangan Menunjukan Para Terdakwa Tidak Terbukti Melakukan Tindak Pidana

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Kerusakan Alam karena Food Estate di Film Pesta Babi

Kerusakan Alam karena Food Estate di Film Pesta Babi

12 May 2026
Aksi Kamisan Bali ke-66: Reaktivasi Berjuang tak Gentar

Aksi Kamisan Bali ke-66: Reaktivasi Berjuang tak Gentar

11 May 2026
Film Pendek Menapak di Sesi Cinéma de Demain, Festival de Cannes 2026

Film Pendek Menapak di Sesi Cinéma de Demain, Festival de Cannes 2026

10 May 2026
Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

9 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia