• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, December 13, 2025
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup Agenda

Sinema Eropa Timur di Bentara Budaya

Anton Muhajir by Anton Muhajir
13 May 2011
in Agenda, Kabar Baru
0 0
0

Mari menikmati film dari Eropa Timur di Bentara Budaya Bali bulan ini.

Adakah keterkaitan antara pengalaman sutradara berikut latar sejarah bangsanya dengan karya-karyanya? Bagaimana pula peranan film dalam merefleksikan perjalanan historis sebuah masyarakat? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan hadir dalam benak pemirsa ketika menyaksikan Sinema Bentara di Bentara Budaya Bali (BBB) bulan ini. Bentara Budaya secara khusus akan mengetengahkan film-film karya Krzyszkof Kieslowsky, sutradara mumpuni dari belahan Eropa Timur.

Camera Buff (1979), Blind Chance(1981), A Short Film About Killing (1988), Blue (1993), White (1994) dan Red (1994) merupakan film karya sineas yang dikenal sangat produktif mencipta karya ini. Krzyszkof Kieslowsky berulang kali meraih beragan penghargaan bergengsi, di antaranya Jury Prize di Festival Film Canes. Dia juga pernah memperoleh nominasi Cesar (yang sekelas Piala Oscar di Perancis), Golden Globe Awards dan Academy Awards untuk kategori Penyutradaraan Terbaik.

Akan tetapi, yang menarik dari setiap film yang dihasilkannya ialah pertautan karyanya dengan sejarah bangsa kelam Polandia, terutama sewaktu pendudukan Nazi Jerman di negeri kelahirannya itu.

Krzyszkof Kieslowsky, lahir pada 24 Juni 1941, mampu menggambarkan suasana dan kondisi sosial di Eropa Timur pada tahun 70-an hingga 80-an dengan amat menyentuh. “Sebagai seorang yang mengalami pahit getirnya masa invasi Nazi, melalui karya-karya filmnya, Kieslowsky tidak hanya mengungkapkan kepedihan warga Polandia, namun juga seolah berupaya untuk menyembuhkan luka sejarah bangsanya,” ujar Putu Aryastawa, pekerja budaya BBB.

Pandangan serta gambaran peristiwa masa-masa genting di negara-negara Eropa Timur tersebut dapat disimak melalui karya-karya masterpiece Krzyszkof Kieslowsky seperti Blind Chance (1981), A Short Film About Killing(1988) serta trilogy Blue (1993), White (1994) dan Red (1994).

Di samping itu, ditayangkan pula Camera Buff, film produksi 1979 ini berkisah tentang seorang buruh pabrik sederhana yang menemukan minatnya menjadi sineas. Film ini menyorot bagaimana eksploitasi yang tidak terekspose di Komunis Polandia dan bagaimana represi terhadap ekspresi individu terjadi di negeri tersebut.

Selanjutnya Blind Chance sendiri secara terang-terangan mengkritik pemerintahan komunis sehingga sempat ditahan peredarannya oleh pemerintah Polandia, dan rilisnya baru dikeluarkan kemudian pada tahun 1987.

A Short Film About Killing, merupakan film besutan Kieslowsky yang meriah penghargaan Jury Prize di Festival Film Cannes tahun 1988 serta memperoleh hadiah The Best Film di ajang European Film Awards. Film ini coba membandingkan hukuman mati dengan pembunuhan individu. Kilas-kilas pembunuhan disorot oleh Kieslowsky dengan mengambil tiga karakter utama yaitu seorang supir taksi, pemuda gelandangan dan pengacara muda yang idealis.

Karya monumental Kieslowsky yang lain adalah film trilogy Blue, White dan Red. Blue yang diproduksi tahun 1993 adalah film pertama dari trilogy warna yang melambangkan bendera Perancis ini. Blue berkisah tentang seorang wanita bernama Julie yang kehilangan anak dan suaminya yang seorang composer dalam sebuah kecelakaan. Sejak saat itu Julie mencoba memisahkan diri dari kehidupan sosialnya.

Sementara itu, White trilogy kedua Kieslowsky ini serupa dengan serial yang pernah diproduksi Kieslowsky sebelumnya, yang cenderung mengedepankan sisi-sisi para tokoh yang ambigu dan ironis. Menurut Kieslowsky sendiri film trilogy ini dilatari oleh kebebasan emosional, bukan semata perihal sosial atau politik. Dan dalam Red, Kieslowsky bercerita dengan lebih dramatis melalui narasi-narasi visual yang mengesankan.

Selain menyajikan film-film berkualitas dari Eropa Timur, Sinema Bentara kali ini juga akan turut dimaknai dengan penampilan musikalisasi puisi serta diskusi kreatif yang menghadirkan pemerhati film mumpuni Bali.

Setelah Andrei Tarkovsky (Rusia) dan Roman Polanski (Polandia), Kieslowsky merupakan salah satu sineas yang tersohor di Eropa Timur. Latar kehidupan sutradara Kieslowsky sebagai lulusan Sekolah Film Lods (sebuah institusi yang juga melahirkan sutradara-sutradara mumpuni, sebut saja Roman Polanski dan Andrzej Wajda), sangat kentara dalam film-film besutannya. Dan melalui diskusi film kali ini diharapkan mampu memperkaya pengalaman penonton ketika memaknai nilai-nilai yang disajikan dalam sebuah film termasuk pula proses kreatif dalam film itu sendiri.

“Dengan demikian, film yang dihadirkan tidak semata menjadi tayangan kisah sejarah, namun dapat mendorong lahirnya sineas-sineas muda yang cerdas,” kata Juwita Katrina, pekerja budaya di BBB.

Pemutaran film Krzsyskof Kieslowsky akan digelar pada Jumat-Sabtu, 13-14 Mei 2011 pukul 17.00 WITA di Bentara Budaya Bali, Jl. Prof. Ida Bagus Mantra 88A, By Pass Ketewel-Gianyar. Sementara diskusi film akan berlangsung pada Sabtu, 14 Mei 2011.

Jumat, 13 Mei 2011
Pukul 17.00     Camera Buff
Pukul 19.00     Blind Chance
Pukul 21.00     A Short Film About Killing

Sabtu, 14 Mei 2011
Pukul 16.00     Blue
Pukul 18.00     Diskusi Film
Pukul 19.00     White
Pukul 21.00     Red

Tags: AgendaFilmGianyar
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Gianyar dan Kekosongan Ruang Kolaborasi Kreatif

Kota Seni Gianyar dan Minimnya Ruang Kolaborasi Kreatif

5 June 2025
Mamak dan Kecemasan akan Kesendirian dalam Film Lahn Mah

Mamak dan Kecemasan akan Kesendirian dalam Film Lahn Mah

8 June 2024
Ini Kisahmu: Ni Pollok Gadis Bali

Ini Kisahmu: Ni Pollok Gadis Bali

14 July 2023
Film Sekeping Kenangan, Merajut Ingatan Para Eks Tapol 65 di Bali

Film Sekeping Kenangan, Merajut Ingatan Para Eks Tapol 65 di Bali

3 October 2022
Cerita Rasa

Cerita Rasa Festival: Rintisan Festival Desa di Jembrana

6 August 2022
Perempuan yang Melawan dalam Film Tanah Ibu Kami

Proyeksi Industri Film di Bali

2 September 2021
Next Post
Gerebeg Aksara, Momentum Kebangkitan Pancasila

Gerebeg Aksara, Momentum Kebangkitan Pancasila

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Konsep Lascarya dan Nasmita Memudar di Tren Berbusana Adat ke Pura

13 December 2025
Suara Perempuan di Festival Film Kemanusiaan 2025

Suara Perempuan di Festival Film Kemanusiaan 2025

12 December 2025
Aksi Protes Pemilik Sawah di Jatiluwih Pasang Seng dan Plastik

Pemetaan Lokasi Sidak Pansus TRAP

12 December 2025
Sumatra Calling: Seruan Darurat Melalui Panggung Amal dari Bali

Sumatra Calling: Seruan Darurat Melalui Panggung Amal dari Bali

11 December 2025
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia