• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, December 10, 2025
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Siat Sampian untuk Merayakan Keberagaman

Luh De Suriyani by Luh De Suriyani
28 April 2011
in Berita Utama, Budaya, Kabar Baru
0 0
0
Gerakan tari menyisir sisa amarah dan menyejukkan pikiran. Foto: Luh De Suriyani

Puluhan perempuan tua menari nonstop selama dua jam.

Mereka mengelilingi pura besar yang menjadi sejarah resolusi konflik sectarian di Pulau Dewata. Mereka menyebarkan vibrasi kebersamaan karena tiap gerakan dilakukan secara perlahan dan langkah kaki yang seragam.

Aura mereka menyebar di Pura Samuantiga yang ramai dengan ribuan warga dan turis pekan lalu. Ritual Siat Sampian dan Nampyog menjadi tari wali yang ditunggu-tunggu di pura yang berlokasi di Bedulu, Gianyar, ini.

Sekitar 40 orang perempuan bekebaya putih, kain hitam dan selendang putih jadi salah satu pusat perhatian. Mereka memulai ritual penyucian dengan puja di pagi hari bersama sejumlah pemangku pria. Persembahyangan dilakukan di enam titik. Mulai dari Pura Beji, Pura Anyar, Pura Duwur Delod (Ratu Agung Sakti), Pura Agung Panji, Paruman Agung, dan Pura Batan Manggis.

Beberapa saat kemudian, penari yang berusia rata-rata di atas 50 tahun disebut Permas ini menari mengitari areal pura. Proses mengitari pura ini sebanyak 18 kali. Semua dibagi menjadi lima babak dengan gerakan berbeda.

Pertama enam kali berkeliling menari dengan gerakan tangan dan kaki atraktif. Selanjutnya tiga kali berkeliling bersama dengan pra pemangku sambil membunyikan gentanya. Tak berhenti di sana, Premas ini dilanjutkan tiga kali berkeliling dengan saling memegang selendang.

Pada babak berikutnya, baru sekitar 200 pria tua muda bergabung membuat tarian seperti ombak.

Mereka berpegangan tangan satu sama lain sehingga seluruh areal pura dikelilingi bariasan ombak. Dia seperti gelombang yang akan menyisir sisa amarah dan kemudian menyejukkan pikiran. Tiap tugu pura harus tersentuh ombak ini. Caranya dengan menyentuhkan kaki dari seluruh penari.

Setelah itu dua kelompok Premas dan Parekan (penari lelaki) memisahkan diri dan bersembahyang di sejumlah tempat untuk memulai Siat Sampian. Giliran pertama adalah siat sampian untuk premas. Mereka mengambil sampian, rangkaian janur yang dipakai sebelumnya dalam sesajen bungsil untuk upacara di pura ini, lalu berteriak dengan histeris sambil mengangkat sampian. Terlihat seperti saling memukulkan sampian (siat) namun tak ada yang marah. Hanya keriangan.

Demikian juga ketika giliran kelompok penari lelaki atau Parekan melakukan siat sampian. Kelompok parekan menarikan dengan suara gemuruh karena jumlahnya jauh lebih banyak dibanding Premas.

“Siat sampian adalah gambaran dari resolusi konflik warga. Masalah terus muncul tapi harus dicari solusinya dengan rasa kebersamaan. Itu yang diwarisi Samuantiga,” ujar I Wayan Patera, ketua panitia upakara ini.

Penari Premas dan Parekan ini tak akan berkurang jumlahnya walau tak ada penunjukkan. Penari lama akan meneruskan ke anak, cucu, dan kerabat lain. Begitu seterusnya.

“Menari di Samuantiga adalah kebanggaan dan kewajiban buat saya secara turun temurun. Kakek saya sembuh setelah kami minta kesembuhan di sini,” ujar Mendra, salah satu parekan. [b]

Tulisan ini juga dimuat The Jakarta Post.

Tags: AgamaBudayaGianyar
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Luh De Suriyani

Luh De Suriyani

Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Menulis lepas untuk Mongabay.

Related Posts

Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Sanggah Kemulan Bermakna Unik dari Susunan Bambu di Desa Pedawa

Sanggah Kemulan Bermakna Unik dari Susunan Bambu di Desa Pedawa

25 July 2025
Budaya Ngayah Makin Langah

Budaya Ngayah Makin Langah

13 June 2025
Gianyar dan Kekosongan Ruang Kolaborasi Kreatif

Kota Seni Gianyar dan Minimnya Ruang Kolaborasi Kreatif

5 June 2025

Bali Hampir Habis, Semenjana dan Tergantikan

4 January 2025
Lebih dari Sekadar Wastra, Ragam Ekspresi di Roman Muka

Lebih dari Sekadar Wastra, Ragam Ekspresi di Roman Muka

22 July 2024
Next Post
Sampah

Peliknya Urusan Sampah di Pulau Neraka

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

MDPI Galang Dana Lewat Cerita Nelayan Kecil

MDPI Galang Dana Lewat Cerita Nelayan Kecil

10 December 2025
Aksi Protes Pemilik Sawah di Jatiluwih Pasang Seng dan Plastik

Konflik Pertanahan di Bali: Ketimpangan Petani Gurem dan Properti

10 December 2025
Aksi Protes Pemilik Sawah di Jatiluwih Pasang Seng dan Plastik

Aksi Protes Pemilik Sawah di Jatiluwih Pasang Seng dan Plastik

9 December 2025
Tujuh Langkah Mitigasi Jika Gunung Agung Erupsi

Media Sosial yang Berisik, Kita yang Beraksi

9 December 2025
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia