
Nak mule keto adalah jawaban untuk pertanyaan yang belum sepenuhnya diketahui jawabannya, termasuk “ape to ngayah?” Nak mule keto, begitulah sekilas yang akhirnya membuat ngayah menjadi aksi tanpa substansi yang tentu tidak akan dipahami secara konkret maksud sebenarnya, hanya sekedar melangkah tanpa arah. Lantas, bagaimana memandang esensi daripada ngayah?
Konsep ini melekat, masyarakat mengetahui bahwa ngayah tidak hanya kegiatan berkala dalam lingkup adat, tradisi masyarakat, namun juga warisan kebersamaan yang diwariskan secara turun-temurun untuk saling gisi, mengingatkan-menguatkan. Tradisi ngayah dahulunya mungkin tidak ada gesekan dari realitas memenuhi kebutuhan, juga gaya hidup dengan menjadi pekerja yang terikat dengan “sistem”, karena Bali sudah kaya dengan lahan sawahnya yang bisa saling menghidupi, konsep pariwisata-budaya yang kental, maka secara ekonomi bisa dikatakan cukup, kebutuhan hidup juga terpenuhi.
Dalam aspek sosial bali juga memiliki banjar yang bisa dijadikan tempat untuk anak-anaknya berinteraksi dengan yang lain, bermain, bahkan belajar. Leluhur kita mungkin saja berpikir bahwa dengan privillage itu keturunannya tak mungkin sampai tak tercukupi kebutuhannya untuk hidup.
Lantas, bagaimana realita saat ini? Tingkat demografi masyarakat yang bertumbuh menyebabkan supply-demand meningkat dari tahun-tahun sebelumnya terkait kebutuhan primer, sekunder maupun tersier, sehingga meningkat juga kenikmatan duniawi yang membalikkan bagaimana seharusnya warisan itu dikelola. Lahan sawah bukan menghidupi keluarga, tetapi menghidupi ”para mafia”, konsep pariwisata-budaya beralih menjadi budaya pariwisata? Banjar dominan hidup (ramai) ketika ada piodalan, hut STT (mungkin), juga kampanye pemilu, mungkin masih ada yang nampak aktif, kreatif, produktif sesuai dengan esensi dari di bangunnya banjar adat, namun tak banyak.
Akibatnya kita harus bekerja lebih keras untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup, terlebih masyarakat yang sama sekali tidak ditinggali warisan lahan, bak kata Ida Pedanda Made Sidemen ”tong ngelah karang sawah, karang awake tandurin”, kalau tidak mempunyai lahan sawah, maka tanami diri dengan kebaikan. Sangat jelas kalimat itu diungkapkan bahwa sejak lama kita sudah diingatkan memahami pengetahuan yang luas (investasi leher keatas sudah menjadi keharusan untuk kita semua).
Berangkat dari kewajiban untuk memenuhi kebutuhan hidup itulah masyarakat disibukkan nine to five bekerja, sehingga waktu untuk ngayah hampir nihil. Mulai saat ini kita harus bisa memahami bahwa ngayah bukanlah ngalih gae sing mebayah, ruet, sibuk, tetapi bentuk kebersamaan (gotong-royong) berbasis masyarakat adat untuk saling membantu sesama, juga wujud dari Tri Hita Karana itu sendiri yang juga landasan dari terciptanya pyramid of happiness oleh PBB pada tahun 2017.
Bagaimana menguatkan budaya tersebut? Mulai kritis akan sesuatu, jangan asal ucap nak mule keto, tingkatkan rasa penasaran akan sesuatu, jangan hanya sekedar menjalankan tanpa memahami esensi (makna) di dalamnya dan yang penting juga untuk tidak kaku, fanatik, mengingat arus perkembangan zaman, maka fleksibel tanpa meninggalkan makna adalah jalan keluar. Sabda Naya Genggong pernah berkata, ”ketika modernisasi dan tradisi dapat dipahami secara baik dan benar, maka disaat itu kita akan menemukan lango, kelangen atau keharmonisan,” ucap dr. Komang Indra Wirawan pada kanal Youtubenya.
sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet kampungbet










