• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, August 29, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Sanggah Kemulan Bermakna Unik dari Susunan Bambu di Desa Pedawa

Kadek Suriyastika by Kadek Suriyastika
25 July 2025
in Budaya, Kabar Baru, Travel
0
0
Sanggah nganten di Desa Pedawa

Penulis: Kadek Suriyastika dan Kadek Tamtam Renaldi Gaotama

Dari  sekian banyak Desa Bali Aga yang ada di Bali, ada satu desa yang paling unik, yaitu Desa Pedawa yang berada di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali. Desa Pedawa memiliki banyak keunikan, mulai dari arsitektur bagungan dan tradisi adat.

Hal yang paling mencolok dan mencirikan masyarakat Pedawa adalah sanggah kemulan atau sanggah tiing yang hanya ada di Desa Pedawa. Sanggah kemulan berbahan dasar bambu, bentuknya juga sangat unik, tersusun rapi dengan susunan bambu yang berjejer ke samping dan memiliki sekat-sekat.

Menurut Kaki Sad, salah satu warga Desa Pedawa, alasan disebut sanggah nganten karena sanggah ini harus dimiliki oleh setiap pasangan rumah tangga yang baru menikah, selambat-lambatnya 1 tahun atau ketika sudah memiliki anak pertama. Saat itu, seorang istri akan mebawa sungsungan jajaran sanggah dari rumah bajangnya atau rumah asalnya, contohnya kemulan, pengandel, alas kualon, dan lainnya sesuai tata lungguh Desa Pedawa.

Bahan yang digunakan harus bambu Bali, tidak boleh bambu yang lain. Sanggah nganten ini umumnya berjumlah 7 dan ada yang berjumlah 9 sesuai jajaran sanggah yang didapat. Biasanya yang berjumlah 9 merupakan turunan dari orang tua dan jajaran sanggah yang dibawa oleh istri.

Bahan dasar bambu membuat sanggah ini rentan rusak. Apabila sudah ada kerusakan, akan diganti dengan yang baru. Jadi, sifat sanggah nganten hanya sementara karena tidak diwariskan kepada anak- anaknya. Jika anak dari pasangan suamu istri sudah menikah, mereka akan membuat sanggah sendiri.

Persembahyangan biasanya dilakukan pada hari-hari yang dipercaya paling baik, yaitu pada saat Purnama Kapat dan Purnama Kedasa. Istilah dari persembahyangan ini adalah mesaudan.

Menurut penuturan Dadong Sad, banten atau sarana yang digunakan adalah banten sesaudah yang terdiri dari, isin pasih, isin danu, kulit kijang, dan urab-uraban, seperti undis, kelapa daun labu yang disusun sedemikian rupa. Semua bahan yang digunakan mewakiki seluruh isi alam.

Uniknya lagi, banten ini tidak boleh menggunakan wadah, hanya beralaskan daun (mepeleg) dan langsung dihaturkan di masing-masing rong sanggah. Sanggah ini bentuknya dua tingkat, yang di atas disebut Bali dan yang dibawah disebut Taksu. Jika diartikan,  Bali adalah dewanya dan Taksu adalah saktinya. 

(Salah satu karya Kelas Jurnalisme Warga Desa Pedawa)

kampungbet kampungbet
Tags: AdatBudayadesa pedawakelas jurnalisme wargaKJW Pedawasanggah kemulansanggah ngantenTradisi
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Kadek Suriyastika

Kadek Suriyastika

Related Posts

Kayoan Bunderin, Mata Air Bersejarah yang Dijaga Sekaa Kayoan di Desa Bebandem

Kayoan Bunderin, Mata Air Bersejarah yang Dijaga Sekaa Kayoan di Desa Bebandem

23 August 2026
Penurunan Debit Air Sumber Mata Air di Desa Pedawa akibat Berkurangnya Pohon Penyimpan Air

Penurunan Debit Air Sumber Mata Air di Desa Pedawa akibat Berkurangnya Pohon Penyimpan Air

21 August 2026
KJW Desa Adat Guliang Kangin, Desa Penuh Sejarah

KJW Desa Adat Guliang Kangin, Desa Penuh Sejarah

20 August 2026
Harmoni Alam dan Budaya di Kastala Trekking Karangasem

Harmoni Alam dan Budaya di Kastala Trekking Karangasem

15 August 2026

Gula Pedawa: Warisan Manis yang Berjuang Bertahan

13 August 2026
Pupuk Organik Cair Desa Kastala untuk Pertanian Berkelanjutan

Pupuk Organik Cair Desa Kastala untuk Pertanian Berkelanjutan

11 August 2026
Next Post
Menguatkan Kelembagaan Tradisi Bendega di Karangasem

Menguatkan Kelembagaan Tradisi Bendega di Karangasem

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Mau ke Mana Pemulung, Tukang Pilah tak Bergaji di TPA Suwung

Langit Terlihat Biru, tapi Polusi Udara Memburuk

28 August 2026
Setelah 15.000 Mangrove Ditanam, Apakah bisa Hidup dan Mengganti yang Mati?

Setelah 15.000 Mangrove Ditanam, Apakah bisa Hidup dan Mengganti yang Mati?

28 August 2026
Warisan Budaya Kolonial Dulu dan Kini

Warisan Budaya Kolonial Dulu dan Kini

27 August 2026
Kembali ke Akar di Gema Kemerdekaan Legian Kelod 2026

Kembali ke Akar di Gema Kemerdekaan Legian Kelod 2026

27 August 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia