
Penulis: Kadek Suriyastika dan Kadek Tamtam Renaldi Gaotama
Dari sekian banyak Desa Bali Aga yang ada di Bali, ada satu desa yang paling unik, yaitu Desa Pedawa yang berada di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali. Desa Pedawa memiliki banyak keunikan, mulai dari arsitektur bagungan dan tradisi adat.
Hal yang paling mencolok dan mencirikan masyarakat Pedawa adalah sanggah kemulan atau sanggah tiing yang hanya ada di Desa Pedawa. Sanggah kemulan berbahan dasar bambu, bentuknya juga sangat unik, tersusun rapi dengan susunan bambu yang berjejer ke samping dan memiliki sekat-sekat.
Menurut Kaki Sad, salah satu warga Desa Pedawa, alasan disebut sanggah nganten karena sanggah ini harus dimiliki oleh setiap pasangan rumah tangga yang baru menikah, selambat-lambatnya 1 tahun atau ketika sudah memiliki anak pertama. Saat itu, seorang istri akan mebawa sungsungan jajaran sanggah dari rumah bajangnya atau rumah asalnya, contohnya kemulan, pengandel, alas kualon, dan lainnya sesuai tata lungguh Desa Pedawa.
Bahan yang digunakan harus bambu Bali, tidak boleh bambu yang lain. Sanggah nganten ini umumnya berjumlah 7 dan ada yang berjumlah 9 sesuai jajaran sanggah yang didapat. Biasanya yang berjumlah 9 merupakan turunan dari orang tua dan jajaran sanggah yang dibawa oleh istri.
Bahan dasar bambu membuat sanggah ini rentan rusak. Apabila sudah ada kerusakan, akan diganti dengan yang baru. Jadi, sifat sanggah nganten hanya sementara karena tidak diwariskan kepada anak- anaknya. Jika anak dari pasangan suamu istri sudah menikah, mereka akan membuat sanggah sendiri.
Persembahyangan biasanya dilakukan pada hari-hari yang dipercaya paling baik, yaitu pada saat Purnama Kapat dan Purnama Kedasa. Istilah dari persembahyangan ini adalah mesaudan.
Menurut penuturan Dadong Sad, banten atau sarana yang digunakan adalah banten sesaudah yang terdiri dari, isin pasih, isin danu, kulit kijang, dan urab-uraban, seperti undis, kelapa daun labu yang disusun sedemikian rupa. Semua bahan yang digunakan mewakiki seluruh isi alam.
Uniknya lagi, banten ini tidak boleh menggunakan wadah, hanya beralaskan daun (mepeleg) dan langsung dihaturkan di masing-masing rong sanggah. Sanggah ini bentuknya dua tingkat, yang di atas disebut Bali dan yang dibawah disebut Taksu. Jika diartikan, Bali adalah dewanya dan Taksu adalah saktinya.
(Salah satu karya Kelas Jurnalisme Warga Desa Pedawa)
kampungbet kampungbet










