
Dua setra (kuburan) mengapit SMP Muhammadiyah 1 Denpasar. Tepat di depannya terdapat Setra Gandamayu. Adanya setra membuat udara di depan sekolah menjadi sejuk. Sebagaimana setra-setra di Bali pada umumnya, Setra Gandamayu dikelilingi oleh pepohonan besar dan rindang. Di belakang SMP Muhammadiyah 1 Denpasar juga mengalir aliran sungai Tukad Badung menuju Taman Pancing.

Dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Indonesia pada 10 Januari 2026, siswa-siswi SMP Muhammadiyah 1 Denpasar turun ke sungai dan selokan di sekitar area sekolah. Mereka mengenakan baju olahraga sembari menenteng karung dan alat untuk bersih-bersih. Sampah organik dimasukkan ke karung untuk dikompos di teba modern sekolah, sedangkan sampah plastik dikumpulkan untuk dipilah kembali.
Kegiatan tersebut sudah menjadi kegiatan rutin SMP Muhammadiyah 1 Denpasar sejak tahun 2022. Sejak pertama kali ditugaskan menjadi kepala sekolah, Mely Noor Rohmah mencoba mengidentifikasi potensi internal dan eksternal sekolah.
Dari segi eksternal sekolah, Mely menyadari bahwa lingkungan sekitar sekolah sangat hijau dengan adanya setra di kanan dan kiri sekolah. Berbanding terbalik, sekolah justru memancarkan suasana panas akibat cat temboknya yang jingga dan kuning.
Selain masalah warna dan suasana, Mely juga menyoroti banyaknya tempat sampah di dalam sekolah. Namun, jumlah tempat sampah yang banyak tidak diiringi dengan tingginya kesadaran membuang sampah pada tempatnya. Sampah justru meluber hingga ke luar tempat sampah.
Langkah awal menanamkan kebiasaan
Tahun 2022, Mely mencoba mencanangkan visi untuk membuat SMP Muhammadiyah 1 Denpasar menjadi lebih hijau dan bersih. Mely memulainya dengan menghilangkan semua tempat sampah yang ada di sekolah. Satu-satunya tempat pembuangan sampah berada di tempat pemilahan sampah yang ada di belakang bangunan sekolah.
Menghilangkan tempat sampah akan sia-sia apabila ekosistem di sekolah masih menggunakan kemasan plastik. Mely pun berupaya mengurangi penggunaan sampah plastik di sekolah dengan mendorong siswa-siswinya untuk menggunakan botol minum dan tempat makan yang dapat digunakan ulang.
Kantin yang tadinya menjual makanan berkemasan plastik diganti dengan kemasan daun yang lebih ramah lingkungan. Minuman berkemasan pun tak lagi dijual. Gantinya, sekolah menyediakan dispenser air minum isi ulang agar siswa-siswi tidak perlu membeli minuman lagi.
Di awal program ini berjalan, tempat pemilahan sampah masih menggunakan tong bekas cat. Pemilahan dibagi menjadi delapan jenis sampah, yaitu organik, bahan berbahaya dan beracun (B3), polystyrene (PS), polypropylene (PP), high density polyethylene (HDPE), vinyl (V), low density polyethylene (LDPE), dan polyethylene terephthalate (PETE). Istilah-istilah tersebut merupakan kode resin plastik yang digunakan untuk menandai bahan dasar plastik. Pemilahan seperti ini digunakan untuk memudahkan proses daur ulang.
Jalan yang tak selalu mulus
Program menciptakan SMP Muhammadiyah yang bersih dan hijau ini dinamakan Mely sebagai MUTU BISA (Muhammadiyah Satu: Bersih, Indah, Sehat, dan Asri). Keberjalanan MUTU Bisa tidak selalu berlangsung mulus. Program ini melalui perjalanan panjang dari tahun 2022 hingga bisa konsisten seperti saat ini. Hal yang paling sulit dilakukan adalah menanamkan kebiasaan kepada siswa-siswi untuk membawa botol minum dan kotak makan.
Selain itu, lingkungan SMP Muhammadiyah 1 Denpasar menjadi satu dengan SMA Muhammadiyah 1 Denpasar dan SMK Muhammadiyah Denpasar. Kedua sekolah ini tidak sejalan dengan kebiasaan SMP Muhammadiyah 1 Denpasar. Siswa-siswi SMA dan SMK masih diperkenankan belanja di luar kantin sekolah, sehingga sering kali sampah kemasan dari luar terbawa ke lingkungan sekolah.
Namun, perlahan-lahan, kebiasaan SMP Muhammadiyah 1 Denpasar memberikan imbas baik kepada SMK Muhammadiyah Denpasar. Mely pun mengakui pembiasaan ini masih menjadi kendala untuknya dan sekolah. “Ini juga terus kami perjuangkan karena pembiasaan ini tidak hanya menjadi pembiasaan untuk anak SMP, tetapi juga untuk kakak-kakaknya (SMA Muhammadiyah 1 Denpasar dan SMK Muhammadiyah Denpasar),” jelas Mely ketika ditemui di SMP Muhammadiyah 1 Denpasar pada Rabu, 28 Januari 2026.
Perlahan, tapi berkelanjutan


Selain terkait sampah, Mely juga menginisiasi program penghijauan melalui ekstrakurikuler Agro School. Ekstrakurikuler ini memfasilitasi siswa-siswi yang tertarik pada tanaman dengan mengajarkan cara menanam hingga merawat tanaman. Setiap tahunnya, SMP Muhammadiyah 1 Denpasar membagikan 1.000 bibit tanaman gratis untuk siswa-siswi. Bibit tanaman tersebut dibagikan untuk dirawat di rumah. Kemudian, bibit tanaman yang telah tumbuh akan dipamerkan melalui olimpiade tahunan.
Pada akhir tahun 2025, Mely memantapkan program pemilahan sampah dengan mendirikan fasilitas yang lebih permanen, seperti tempat sampah berbahan dasar beton dan teba modern. Dua fasilitas ini masing-masing berada di area kanan dan kiri sekolah.
Di belakang ruang laboratorium terdapat tujuh tempat sampah yang terbuat dari beton. Tempat sampah itu berdiri berjejeran. Jika dimasukkan, sampah akan turun ke bawah dan bisa diambil lagi melalui jeruji.
Hari itu, kategori sampah yang paling banyak terisi adalah sampah botol minuman kemasan. Sampah itu pun kerap diambil oleh siswa-siswi untuk kebutuhan mata pelajaran. Salah satunya seperti kerajinan mobil-mobilan yang terdapat di dalam lemari laboratorium.
Adanya teba modern membuat tempat sampah jenis organik tidak lagi digunakan. Teba modern merupakan inovasi pengelolaan sampah organik berbasis rumah tangga di Bali. Dalam Bahasa Bali, teba berarti halaman belakang. Sebagaimana halaman belakang, teba dijadikan tempat menanam tanaman dan difungsikan pula sebagai tempat pembuangan sampah organik.
Istilah teba modern saat ini berkembang menjadi tempat pengelolaan sampah organik. Bentuknya menyerupai sumur dengan penutup lubang. Sampah organik dibuang ke dalam lubang tersebut. Pengomposan alami pun terjadi di dalam tanah bersama mikroorganisme dan larva. Namun, teknik pengomposan teba modern harus selalu dipantau agar tidak meledak sewaktu-waktu karena kandungan metana yang dihasilkan oleh sampah organik.
Di SMP Muhammadiyah 1 Denpasar, teba modern diaduk dan disiram sesekali dengan air untuk mempercepat proses pembusukan. Setelah menjadi kompos, hasil dari teba modern digunakan sebagai kompos media tanam.
Atensi dari berbagai pihak
Program MUTU Bisa yang dilaksanakan oleh SMP Muhammadiyah 1 Denpasar mendapatkan perhatian dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). SMP Muhammadiyah 1 Denpasar dan beberapa sekolah lainnya di Indonesia yang memiliki inovasi di bidang lingkungan mendapatkan pelatihan kurikulum perubahan iklim.
“Kami mengkombinasikan antara pembiasaan yang dilakukan mata pelajarannya dengan yang berhubungan dengan lingkungan,” kata Mely tentang kurikulum perubahan iklim. Salah satunya adalah pembuatan kerajinan dari barang-barang bekas dalam mata pelajaran seni budaya.
Atensi juga datang dari warga sekitar. Masyarakat sekitar menjadi lebih mengenal SMP Muhammadiyah 1 Denpasar. Dalam beberapa kesempatan pun Mely dan siswa-siswinya dilibatkan dalam acara kebersihan oleh warga lingkungan Dauh Puri Klod, Kecamatan Denpasar Barat.
Sehabis upacara keagamaan di pura yang berlokasi di depan sekolah, SMP Muhammadiyah 1 Denpasar kerap membantu acara bersih-bersih. Pasalnya, jumlah sampah yang dihasilkan dari upacara keagamaan Hindu sangat banyak, terutama sampah organik.
Inisiatif yang dilakukan oleh SMP Muhammadiyah 1 Denpasar dapat menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lainnya di Bali, terutama di kawasan Kabupaten Badung dan Kota Denpasar. Hal ini berkaitan dengan penutupan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung yang menjadi tempat penampungan sampah wilayah Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan (Sarbagita).
Wacana penutupan TPA Suwung muncul sejak Agustus 2025 dan mengalami penundaan hingga November 2026. Detik-detik penutupan sudah terasa dengan semakin jarangnya sampah diangkut. Imbasnya, sampah pun menumpuk di beberapa titik.
Dari data lengkap terakhir di Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2024, Kota Denpasar menjadi penghasil sampah tertinggi. Timbulan sampah harian di Kota Denpasar pada tahun 2024 mencapai lebih dari 1.000 ton per hari.
Pada tahun 2024, lebih dari setengah timbulan sampah di Bali merupakan sampah organik, yaitu sisa makanan dan kayu/ranting. Maka dari itu, pengelolaan sampah tidak hanya dibutuhkan untuk sampah plastik, tetapi juga untuk sampah organik.
Inisiatif Mely membuat SMP Muhammadiyah 1 Denpasar menjadi salah satu Sekolah Pembaharu Ashoka yang diinisiasi oleh Ashoka Indonesia, organisasi kewirausahaan sosial global. Mely merupakan satu di antara sekian guru, siswa, atau sekolah yang bergerak mengubah dunia dari ruang kelas.









