Pada November 2022, Bali seolah menarik napas lebih lega. Langit terasa lebih bersih, udara sedikit lebih ringan, dan lalu lintas tidak sepadat biasanya. Banyak orang mengaitkannya dengan penyelenggaraan KTT G20 sebuah perhelatan global yang membawa janji transisi energi dan kota rendah emisi. Namun pertanyaan pentingnya adalah: apakah kebijakan ramah lingkungan saat G20 benar-benar memperbaiki kualitas udara Bali, atau hanya memberi jeda sesaat?

Photo Pemerintah Bali membatasi kegiatan di sejumlah daerah sepanjang 12-17 November atau selama Presidensi G20 berlangsung (ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF)
Melalui riset yang memanfaatkan citra satelit Sentinel-5P dan dianalisis menggunakan pemrosesan penginderaan jauh dari Google Earth Engine, perubahan konsentrasi karbon monoksida (CO) di atmosfer Bali dipantau secara spasial dan waktu tertentu dari Juli 2022 hingga Maret 2023. CO dipilih karena ia adalah salah satu polutan utama dari aktivitas transportasi, tak berwarna, tak berbau, namun berbahaya dalam konsentrasi tinggi. Ia juga menjadi indikator yang baik untuk membaca denyut aktivitas manusia di suatu wilayah terutama berkaitan dengan aktivitas transportasi.
Hasilnya menarik, sekaligus menyentil. Selama puncak pelaksanaan G20 pada pertengahan November 2022, konsentrasi CO di Bali memang menurun. Kebijakan seperti pembatasan kendaraan, pengaturan lalu lintas, penerapan work from home, pengurangan penerbangan, hingga penggunaan kendaraan listrik terbukti menekan emisi ya setidaknya di area sekitar Denpasar dan Nusa Dua. Ini menunjukkan satu hal penting: mobilitas manusia punya dampak langsung terhadap kualitas udara.
Namun cerita tidak berhenti di sana. Penurunan emisi tersebut ternyata tidak sepenuhnya dikendalikan oleh kebijakan, melainkan sangat dipengaruhi oleh faktor alam khususnya curah hujan. November hingga Desember adalah awal musim hujan di Bali, dan hujan berperan besar dalam “membersihkan” polutan dari atmosfer melalui proses wet deposition. Air hujan mempercepat reaksi kimia di atmosfer yang mengoksidasi CO, sehingga konsentrasinya menurun secara alami. Dengan kata lain, langit Bali menjadi lebih bersih bukan hanya karena kebijakan, tetapi juga didorong oleh kondisi musim.

Grafik kombinasi antara Kepadatan CO (grafik batang berwarna biru) vs Curah Hujan (Grafik garis berwarna oranye) selama periode 2018-2023 di Pulau Bali.
Fakta ini menjadi cermin penting. Setelah G20 usai dan kebijakan mobilitas dihentikan, konsentrasi CO perlahan naik kembali, mendekati pola normal. Aktivitas pariwisata dan ekonomi kembali bergerak, kendaraan kembali memenuhi jalan, dan langit Bali kembali menanggung beban emisi. Ini menegaskan bahwa kebijakan berbasis event hanya menghasilkan dampak sementara, tidak cukup kuat untuk menjaga kualitas udara dalam jangka panjang.
Analisis spasial juga memperlihatkan ketimpangan yang konsisten. Wilayah selatan Bali—Denpasar, Badung, Gianyar—selalu mencatat konsentrasi CO lebih tinggi dibandingkan Bali tengah dan utara. Alasannya sederhana namun krusial: kepadatan penduduk, pariwisata, dan aktivitas ekonomi terkonsentrasi di selatan. Di sisi lain, wilayah dengan tutupan vegetasi lebih luas dan aktivitas manusia lebih rendah menunjukkan kualitas udara yang lebih baik. Peta emisi ini sesungguhnya adalah peta aktivitas manusia.

Peta Kepadatan CO (Karbon Monoksida) di Wilayah Bali Juli 2022 – Maret 2023. Biru kehijauan menunjukan kondisi kepadatanan rendah dan oranye kemerahan menunjukan kondisi kepadatan tinggi.
Ada pelajaran penting dari sini. Jika Bali benar-benar ingin menjaga udara bersih, maka solusinya tidak bisa bersifat seremonial. Transisi ke transportasi rendah emisi, penguatan angkutan publik, pengaturan kendaraan berbasis zona dan waktu, serta perencanaan kota yang lebih hijau harus menjadi kebijakan permanen, bukan sekadar protokol tamu negara.
Riset yang kami lakukan berjudul “Evaluating the Impact of the G20 Presidency on CO Emission Concentration in Bali: A Spatiotemporal Analysis Using Google Earth Engine” menunjukkan bahwa kita sudah tahu apa yang bekerja—tinggal keberanian untuk menjadikannya kebiasaan dan mendorong ini menjadi kebijakan jangka panjang. Selain itu Google Earth Engine dalam riset ini membuktikan dirinya sebagai alat yang sangat efektif untuk membaca perubahan lingkungan secara cepat dan luas. Ia memungkinkan kita melihat keterkaitan antara kebijakan, aktivitas manusia, dan faktor alam dalam satu bingkai. Namun data, seakurat apa pun, tidak akan berarti jika tidak diterjemahkan menjadi keputusan jangka panjang.
Pada akhirnya, G20 memberi Bali sebuah eksperimen singkat tentang masa depan udara yang lebih bersih. Eksperimen itu berhasil—namun hanya sesaat. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah kita bisa, melainkan apakah kita mau menjadikan udara bersih sebagai standar hidup di Bali, bukan sekadar etalase diplomasi.
Referensi
Agastya, I. B. O., Abida, M., Diwyastra, P. D., & Ariana, D. (2025). Evaluating the Impact of the G20 Presidency on CO Emission Concentration in Bali: A Spatiotemporal Analysis Using Google Earth Engine. Jurnal Geografi Gea, 25(2).
Seinfeld, J. H., & Pandis, S. N. (2016). Atmospheric Chemistry and Physics. Wiley.
Santamajati & Suharyadi. (2024). Analisis hubungan CO dan variabel lingkungan berbasis GEE.
kampungbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet hk pools slot 200









![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)
