• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Thursday, April 30, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup Agenda

Ribuan Layangan Hiasi Langit Bali

Chris Budhi by Chris Budhi
31 July 2011
in Agenda, Berita Utama, Budaya, Kabar Baru
0
5
Layangan janggan melambangkan naga yang menjaga keseimbangan jagat semesta. Foto Ari Budiadnyana.

Selama tiga hari, 1.145 layang-layang menghiasi langit Padanggalak, Denpasar.

Ribuan layang-layang itu beradu sekaligus berbagi kegembiraan selama Festival Layang-Layang Bali 2011 pada Jumat sampai Minggu lalu. Tahun ini, Festival yang sudah berlangsung sejak 1978 ini, memasuki tahun ke-33. Lokasi penyelenggaraannya pun masih sama, di sisi barat Pantai Padanggalak, di sisi timur pantai Denpasar. Kegiatan ini diadakan oleh Persatuan Layang-Layang Indonesia (Pelangi) Bali.

Festival kali ini sama dengan tahun sebelumnya, tanpa peserta dari internasional. Mereka tidak bisa mengikuti karena keterbatasan biaya karena di setiap festival, panitia harus menanggung akomodasi pelayang dari luar negeri.

Menurut Si Nyoman Adnyana, Ketua II Bidang Perlombaan, tahun ini Pelangi Bali akan memberikan sebuah penghargaan bagi beberapa undangi, sebutan bagi tukang layangan, yang dianggap sebagai pionir dan tetap konsisten menurunkan serta melestarikan tradisi serta berbagi ilmu dalam teknik membuat dan menerbangan layangan.

Si Nyoman Adnyana juga menambahkan Layangan Bali Tahun 2010 mendapat penghargaan The Best Tradisional Kites di festival layang internasional di Perancis. Secara turun temurun, layangan memang jadi bagian dari kehidupan masyarakat Bali. Tiap layangan juga punya filosofi tersendiri.

Layangan Bali dikenal dengan 3 jenis tradisional. Pertama, bebean, yaitu layangan yang menyimbulkan ikan sebagai sumber kemakmuran. Kedua, pecukan. Layangan ini dikenal unik karena hanya 2 sisi. Perlu keahlian khusus dalam membuat dan menerbangkannya. Layangan jenis juga melambangkan sisi  baik dan buruk ataupun siang dan malam yang dikenal dalam konsep Rwa Bhineda.

Jenis ketiga adalah janggan. Dia melambangkan naga yang panjang ekornya mencapai 200 meter bahkan lebih. Jenis ini merupakan simbol Naga Basuki dan Bedawang Nala yang menjaga keseimbangan jagat semesta.

Di samping layangan tradisional tersebut, Bali juga mempunyai layangan kreasi. Layangan ini merupakan bentuk kreasi dan kreativitas dari para rare angon, sebutan pelayang, dan undanginya menciptakan kreasi. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat Bali akan terus berkreasi dengan filosofi budaya dan agamanya.

Festival Layangan Tradisional Bali tahun ini juga tidak melombakan Sunari dan Pinjekan (baling-baling). Hal ini karena sudah mulai berkurangnya jumlah peserta lomba.

Sebagi catatan, berikut jumlah total peserta layangan yang akan turut dalam festival layangan tahun ini. Untuk kategori anak-anak pada 29 Juli 2011 adalah Bebean 18, Janggan 6, Pecukan 2. Total 26. Pada 30 Juli 2011 Bebean 21, Janggan 8, Pecukan 18. Total 47. Pada 31 Juli 2011    Bebean 61, Janggan 26, Pecukan 21. Total 108.

Adapun untuk Kategori Dewasa pada 29 Juli 2011 Bebean 199, Janggan 16, Pecukan 84, Kreasi 7. Total 306. Pada 30 Juli 2011 Bebean 170, Janggan 22, Pecukan 90, Kreasi 17. Total 299. Dan, pada 31 Juli 2011 Bebean 205, Janggan 41, Pecukan 88, Kreasi 49. Total 359. Jadi, total seluruh layangan yang dipertandingkan selama tiga hari tersebut adalah 1.145.

Bongkar pasang
Seperti tahun-tahun sebelumnya, Festival Layang-layang adalah tempat di mana para undagi, rare angon, penonton, dan siapa pun untuk berbagi kegembiraan. Ini tak hanya soal perlombaan tapi juga bersenang-senang.

Satu kelompok (sekeha) layangan akan penuh antusias membawa layangan dari banjarnya menuju Padanggalak. Mereka menaikkan layangan ke truk atau pick up dengan puluhan motor mengiringinya sepanjang jalan. Sebagian besar membawa layangan ini dengan terbit dan tidak berlebihan. Namun, ada pula peserta yang bagi sebagian orang malah mengganggu keterbitan di jalan.

Menyinggung adanya beberapa keluhan masyarakat tentang beberapa peserta yang terkesan arogan dalam membawa layangan ke arena pertandingan, Nyoman Adnyana mengatakan panitia sudah sering mengimbau kepada seluruh peserta untuk tetap tertib demi kepentingan bersama. Namu, kembali lagi, sikap arogan itulah hanya oknum tanpa bermaksud untuk menyinggung perasaan pengguna jalan lainnya.

Sebagai antisipasi agar tidak mengganggu pengguna jalan lain, sebagian undagi mulai membuat layangan dengan sistem knock down (bongkar pasang). Jadi lebih efisisen dan tidak begitu membuat jalan macet. Ya, kalo main layangan dan bawa layangan bikin macet sama aja kalau suporter bola toh juga bikin macet juga.

Mari kembali ke diri sendiri. Kita harus instropeksi diri untuk semangat menyama braya. [b]

Tulisan diolah dari blog Chris Budhi.

Tags: AgendaBudayaDenpasarTradisi
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Chris Budhi

Chris Budhi

travel consultant

Related Posts

Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

22 April 2026
Bencana Sunyi: Penurunan Muka Tanah Akibat Eksploitasi Airtanah di Bali

Bencana Sunyi: Penurunan Muka Tanah Akibat Eksploitasi Airtanah di Bali

20 April 2026
Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

7 April 2026
Sidang Perdana Aktivis karena Konten Medsos

Sidang Perdana Aktivis karena Konten Medsos

26 March 2026
Ruang Healing di Pesisir yang Berubah

Mendamaikan Nyepi dan Takbiran di Bali 2026

16 March 2026

Patologi Atensi: Kenapa Otak Dangkal dan Malas Kontemplasi

6 March 2026
Next Post
Menikmati Iga Rasa Empal Warung Leko

Menikmati Iga Rasa Empal Warung Leko

Comments 5

  1. PanDe Baik says:
    15 years ago

    melihat foto”nya di halaman FB, keren banget layang”nya. saya malah gag sempat main ke lokasi secara langsung. Tapi ngomong”arogansi para rare angon yang melintas di jalan raya, tak hanya yang di Dewi Sartika saja, dua rombongan yang melintas di jalan Gatot Subroto Barat hari Minggu pagi juga masih sama kelakuannya. tapi yah, cuma bisa memaklumi saja. Wong pas waktu muda, tabiat saya juga sama kok. 🙂

    Reply
  2. chris budhi says:
    15 years ago

    Betul bli pande.. darah muda yang cenderung begitu, tapi kalo sudah undagi, pengelingsir hadir mengawal mereka pasti itu bisa di mimalkan.

    Reply
  3. Anton Muhajir says:
    15 years ago

    karena tiga hari kemarin tak bisa ke sana, maka tulisan ini bisa mengobati meski tetap lebih baik lagi kalo bisa menikmati langsung di padang galak. btw, tulisannya ciamik. mantab.

    nah, soal perilaku anak2 yg arogan itu, beberapa kali aku ketemu hal serupa. untungnya kemarin pas ke blahbatuh malah ketemu sekeha layangan yg sopan banget pas di jalan. tak ada trek2an. tidak juga buru2. santai sekali. jadi senang melihatnya. menurutku harusnya begitu semua sekeha layangan.

    Reply
  4. .gungws says:
    15 years ago

    layang2nya sih bagus2..tapi klo yg bawa arogan2 gtu, jadi males…
    kmren smpat liat sekehe layangan bawa layangan knockdown di seputaran hayam wuruk, tapi tabiatnya masih greenggrengtintintin.. -____-

    Reply
  5. I Gusti Made Darmaweda says:
    13 years ago

    Sudah 33 kali diadakan festival layang-layang, semenjak tahun 1978, atas prakarsa mantan Gubernur Bali dan sekaligus seorang Budayawan, yaitu Bapak I.B Mantra. Seorang Gubernur, yang sangat memahami tradisi dan Budaya Bali.
    33 tahun sudah umur festival ini, namun animo dan antusiasme masyarakat Bali, tidak pernah surut untuk meramaikan festival ini. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Bali, sangat mencitai dan menghormati tradisi dan budaya yang bernafaskan agama Hindu, yang diwarisi oleh para leluhur. Tradisi dan budaya ini akan tetap ada, selama masyarakat Bali tetap/masih beragama Hindu.
    Bermain layang-layang, berarti belajar sambil bermain, diantaranya: berlajar bekerja dalam tim untuk mencapai tujuan, belajar beradaptasi, belajar mengendalikan emosi, menghilangkan sifat egoisme, mengasah kreativitas.
    Memang, pada saat-saat tertentu, para pengguna jalan raya, merasa terganggu oleh ulah rombongan yang membawa layangannya ke arena, apakah untuk dicoba/dijajal, dilombakan.
    Beberapa oknum dalam rombongan tersebut, sering memperlihatkan arogansinya, seperti menggeber knalpot motor keras-keras, mengacung-acungkan bendera, melanggar lalu lintas, berlaku tidak sopan di jalan raya. Oknum ini, sejatinya adalah orang-orang yang bukan pencinta layangan, tidak bisa membuat layangan, bahkan tidak pernah menaikan layangan. Mereka hanya memanfaatkan momen tersebut untuk acting, ugal-ugalan, seakan-akan mereka orang paling berani dalam rombongan itu. Oknum inilah yang sangat merugikan dan merusak image para pencita layangan.
    Jika anda memang pecinta layangan, berlakulah sopan, simpatik saat membawa layangan ke arena, sehingga akan memunculkan rasa hormat, dan simpati dari masyarakat.

    Reply

Leave a Reply to PanDe Baik Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

29 April 2026
Alasan Koster soal Regulasi Sampah tidak Optimal

Alasan Koster soal Regulasi Sampah tidak Optimal

29 April 2026
Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

28 April 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Menjinakkan Suara Kritis Kampus

28 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia