• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Thursday, April 16, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Rekonstruksi I Love Bali oleh Slinat

Putu Candra by Putu Candra
24 March 2025
in Budaya, Galeri, Kabar Baru
0
0
Pameran Slinat I Love Bali. Foto oleh: Gede Sumarjaya

Seniman jalanan asal Denpasar, Slinat (Silly In Art), menggelar pameran tunggalnya dengan tajuk utama “I Love Bali”. Pameran dibuka Sabtu, 22 Maret 2025 berlangsung hingga Sabtu, 12 April 2025 di TAT Art Space, Jalan Imam Bonjol, Denpasar. Dalam pameran kali ini, Slinat bermain dengan medium awalnya di tahun 2009 dengan membawa hal yang tidak kunjung selesai dibahas, yaitu wheatpaste dan pariwisata Bali.

Wheatpaste adalah salah satu metode berkarya di tembok jalanan, menempel kertas yang sudah digambar. Metode ini sudah ada berabad-abad lamanya sebagai media pengumuman atau mempromosikan sesuatu. Namun, metode ini akhirnya menjadi cara berekspresi kaum yang dimarjinalkan, yang dilakukan secara gerilya. Di dunia seni jalanan atau street art, karya wheatpaste jarang dipasang di siang hari, lebih sering di malam hari dan menjadi hal yang mengagetkan keesokan harinya.

Berbicara tajuk pameran, bagi Slinat ada gejolak yang terus mengusiknya. Di saat Bali konon dijanjikan akan diselamatkan dari turisme, justru sebaliknya. “Pariwisata berlebihan nir kontrol memunculkan ragam persoalan. Penyerobotan lahan, alih fungsi lahan dan privatisasi pantai kerap terjadi. Pula permasalahan lainnya seperti kemacetan, sampah dan banjir yang tak kunjung terselesaikan,” jelasnya.

Untuk Slinat, rasanya mungkin terlalu repetitif membahas tentang pariwisata Bali yang tidak ada habisnya dibahas, tetapi di saat yang sama terlalu menggelitik untuk tidak disuarakan. Sampai-sampai, slogan cindera mata dari Bali, “I Love Bali”, sudah tidak terdengar manis lagi.

Hal-hal mengenaskan itu membuat Slinat ingin mengeksplorasi simbol “I Love Bali” sebagai propaganda serta memparodikan dengan ciri khasnya. Sebelumnya ia pernah memparodikan “Visit Bali Year” yang penuh dengan imaji penari legong maupun perempuan menggunakan masker asap karena eksploitasi yang berlebihan terjadi di tanah asalnya. Seakan memberi gambaran dampak turisme Bali perlu menjadi bagian dari imaji keseharian semua orang.

Dengan eksplorasi baru ini, Slinat memperkaya visualnya lagi dengan simbolisasi yang telah melekat pada pariwisata Bali yang menyatakan aku sayang Bali. Namun sebenarnya mempertanyakan, apakah benar kita sayang dengan Bali? Sebuah pertanyaan yang humanis kepada yang non-manusia, daratan Pulau Bali dan alamnya, tetapi untuk sesama manusia Bali-nya juga.

Pameran Slinat I Love Bali. Foto oleh: Gede Sumarjaya

Pula dalam karyanya, Slinat menawarkan pembingkaian baru terhadap gambar-gambar Bali lawas dengan caranya, mengenalkan anomali dan mutasi baru, mengelaborasi tema “I Love Bali”. Seperti wajah-wajah yang terdistorsi menjadi banyak muka muncul dari efek negatif industri pariwisata. Wajah berlubang dengan lilin atau elemen lainnya menggambarkan pelaku adat Bali yang sering dijadikan objek daya tarik wisata, namun di sisi lain selalu menjadi korban efek buruknya. Gambar babi berkepala buldoser yang mencerminkan bahwa peliharaan babi yang dulu diternak secara liar merupakan simbol ruang atau lahan yang tanpa dibatas-batasi, namun itu semua hilang saat pariwisata semakin maju dan lahan atau tanah bernilai semakin tinggi.

Yang menarik dari karya Slinat adalah penggunaan gaya realisme. Cenderung didominasi warna hitam putih atau menggunakan warna alam, sehingga memberi kesan mengingatkan keberadaan kita sebagai manusia di bumi ini. Dengan sifat kekaryaan yang wheatpaste dan drawing, membawakan kesan raw atau kasar menggambarkan realita yang semata-mata distopia tetapi juga mengajak kita sebagai manusia berpikir realistis.

Apa yang dihadirkan Slinat merupakan perpanjangan dari gaya realisme sosial, menceritakan dan menjadi suara tentang keberadaan rakyat kecil yang terimbas dari perkembangan sebuah negara. Maka Slinat menghadirkan realita-realita baru dalam parodi terbarunya “I Love Bali”. Setidaknya Slinat menghadirkan hal-hal yang menurutnya realita menggelitik di pulau yang katanya disayangi sepenuh hati.

kampungbet
Tags: pameran i love balipameran senipameran seni di balipariwisata baliseni jalananSlinat
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Putu Candra

Putu Candra

Related Posts

Refleksi Melasti: Tradisi dan Budaya Mengalah atas Nama Pariwisata

Refleksi Melasti: Tradisi dan Budaya Mengalah atas Nama Pariwisata

11 April 2026
matan AI

Mengapa Kaum Terdidik Bungkam (di Bali)?

25 March 2026

Situasi Pariwisata Bali Kini dari Pernyataan Gubernur

27 February 2026
Dealing in Distance: Menjelajahi Diaspora, Migrasi, dan Rasa Kepemilikan

Dealing in Distance: Menjelajahi Diaspora, Migrasi, dan Rasa Kepemilikan

22 January 2026
GERAK Bali dan MTN Seni Budaya Perkuat Regenerasi Seniman

GERAK Bali dan MTN Seni Budaya Perkuat Regenerasi Seniman

27 December 2025
Rencana Aksi Ketahanan Pariwisata Bali

Dua Wajah Bali: Pariwisata Berbasis Budaya dan Budaya Berbasis Pariwisata

30 November 2025
Next Post
Melali ke Kota Bangli: Jejak Toleransi, Tata Ruang, sampai Skena Anak Muda

Melali ke Kota Bangli: Jejak Toleransi, Tata Ruang, sampai Skena Anak Muda

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

15 April 2026
Sabtu Sketsa Merefleksikan Kejujuran Aku Kembali Pulang Dayu Sartika

Sabtu Sketsa Merefleksikan Kejujuran Aku Kembali Pulang Dayu Sartika

14 April 2026
Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Pemerintah Tanpa Modal, Masyarakatnya Dipenjara?

14 April 2026
Kemandirian Energi Nelayan di Tengah Krisis Minyak Global

Kemandirian Energi Nelayan di Tengah Krisis Minyak Global

13 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia