• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, May 26, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Perempuan Tabanan Bertengkuluk dan Klepon Khasnya

Luh De Suriyani by Luh De Suriyani
7 August 2010
in Kabar Baru, Kuliner
0
1

Teks dan Foto LUH DE SURIYANI

Puluhan perempuan Desa Beraban, Tabanan mengenakan tengkuluk (penutup kepala dari handuk) berwarna warni pada Senin pekan lalu. Tengkuluk itu menjadi penanda khas karena tak biasa seorang perempuan dengan kebaya dan kain di Bali menggunakan kain tebal yang dibebat menutupi rambut mereka.

Masing-masing banjar di Desa Beraban diwakili empat perempuan yang siaga di depan meja panjang  penuh berisi klepon, jajan tradisional yang biasanya terbuat dari tepung beras ini. Di sedikitnya 18 meja wadah-wadah cantik berisi klepon dihias dengan sangat indah.

Misalnya di meja perwakilan Banjar Batan Buah, empat perempuan dengan tengkuluk cokelat senada warna bajunya menata empat loyang besar berisi aneka klepon tiga warna. Pertama klepon berwarna hijau yang dibuat dengan zat alami daun, lalu klepon warna ungu dari ketela ungu, dan klepon dari ketan hitam.

Klepon, biasa dijajakan oleh sejumlah perempuan di sekitar areal obyek wisata Tanah Lot. Inilah kawasan wisata yang masih menyisakan jejak kuliner tradisonal Bali. Yang dijual biasanya berbentuk oval berisi gula merah.

Namun, kali ini dalam Festival Klepon yang dihelat dalam rangkaian Tanah Lot Art Festival 26 Juli – 1 Agustus, para pembuat klepon tradisional dan warga sekitar Tanah Lot menciptakan aneka varian klepon. Tak hanya berbahan baku tepung tapi juga singkong dan lainnya. Isiannya juga tak hanya gula merah cair, tapi sangat variatif. Misalnya isian keju, durian, nangka, nanas, dan lainnya.

“Kami sudah sebulan menyiapkan klepon-klepon gaya baru ini. Kami juga penasaran dengan kreasi peserta lain,” ujar Ni Ketut Kasni riang. Selama ini menurutnya penjual klepon tidak mendapat dukungan untuk berkreasi menciptakan klepon-klepon jenis baru.

Menurut Kasni, para pedagang makanan tradisional Bali perlu mendapat dorongan untuk terus berusaha dan peningkatan wawasan bidang kebersihan. “Tengkuluk ini selain dipakai sebagai alas menjunjung meja tempat jualan klepon juga untuk menjaga rambut tertutup sehingga kelihatan bersih,” ujar Kasni yang baru paham soal ini.

Di tangan-tangan para perempuan Beraban, desa lokasi Tanah Lot ini, klepon tampil menarik secara estetis dan rasa. Masing-masing peserta festival menyajikan kleponnya di wadah yang berbeda. Misalnya ada yang memakai tempurung kelapa, potongan kelapa utuh, sampai rangkaian janur.

Ratusan warga yang datang mengapresiasi aneka klepon dan gaya penyajiannya ini pun terlihat senang karena bisa mencicipi satu persatu dengan gratis. Panitia membagikan piring-piring khas dari janur untuk pengunjung termasuk turis.

Di kawasan areal Tanah Lot, klepon dijual sederhana di pinggiran jalan. Dijual secara eceran per bungkusnya. Biasanya para pedagang membawa wadah besar tempat menata klepon dan menyiapkan kelapa parutan yang menjadi topping di atasnya.

Di Kota Gianyar, sekitar 50 kilometer dari Tabanan, ada beberapa pedagang setempat yang berhasil menjual klepon dalam jumlah besar. Salah satunya Desak Ketut Rai yang bertahan sejak 1975. Ia bertahan berjualan di rumahnya karena kebanyakan melayani pesanan. Sedikitnya 2000 butir klepon dibuatnya per hari.

Jajanan tradisional Bali memang tidak mendapat upaya revitalisasi sederajat seperti halnya  sarana fisik pariwisata. Bahkan sejumlah pedagang di pasar-pasar tradisional di Denpasar saja harus berjualan secara nomaden karena tak mendapat tempat di dalam pasar. Mereka terserak berjualan di emperan namun tetap dipungut biaya harian oleh petugas keamanan.

Menurut I Made Sujana, pengelola obyek wisata Tanah Lot, para pedagang klepon di kawasannya akan terus dilestarikan karena khas. Salah satunya dengan memberikan tempat berjualan di areal wisata.

 

 

Tags: Balikleponkuliner balikuliner khas balimakanan khas balitanah lot art festival
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Luh De Suriyani

Luh De Suriyani

Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Menulis lepas untuk Mongabay.

Related Posts

Rekapitulasi Dampak Banjir 24 Februari 2026 di 76 Titik Kejadian

Kota Denpasar Memiliki Banyak Air Hujan tapi Kehilangan Kemampuan Menyimpan

21 May 2026
Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

18 May 2026
Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

9 May 2026
Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

3 May 2026
Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

1 May 2026
IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

29 April 2026
Next Post

Dari Bahan Kaku Beralih ke Bambu

Comments 1

  1. Agus Tina says:
    15 years ago

    Aku Suka Makan Klepon di Desa Beraban

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Pemberdayaan Lalai, Kekayaan Bahari Serangan pun Terkulai

Reklamasi Serangan: Elit Parpol Pecah, Media Terbelah, Masyarakat Tetap Susah

25 May 2026
Memahami Zona Risiko Bencana dengan Data Spasial

Memahami Zona Risiko Bencana dengan Data Spasial

25 May 2026
Ubud Food Festival 2026, Petani dan Nelayan sebagai Penjaga Warisan Pangan

Ubud Food Festival 2026, Petani dan Nelayan sebagai Penjaga Warisan Pangan

24 May 2026
Melampaui Orgy Posmodernisme di Bali: Pembacaan Buku Tri Hita Bencana

Melampaui Orgy Posmodernisme di Bali: Pembacaan Buku Tri Hita Bencana

23 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia