
Desa Tigawasa merupakan salah satu desa tua yang terletak di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, dan termasuk dalam kelompok Desa Bali Aga yang masih mempertahankan adat, budaya, serta tradisi leluhur. Selain memiliki kekayaan budaya, Desa Tigawasa juga dikenal karena masyarakatnya yang masih menjaga kelestarian hutan dan lingkungan alam sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Namun, di balik upaya pelestarian tersebut, Desa Tigawasa masih menghadapi berbagai permasalahan dalam pengelolaan sampah. Di Desa Tigawasa, masyarakat masih mempertahankan tradisi pemakaman yang diwariskan secara turun-temurun. Berbeda dengan sebagian besar masyarakat Hindu di Bali yang melaksanakan upacara kremasi (kuburan), masyarakat Desa Tigawasa tidak membakar jenazah, melainkan menguburkannya di sema (kuburan) desa.
Keunikan lainnya adalah keberadaan setra Desa Tigawasa yang berwujud kawasan hutan alami. Hutan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat pemakaman, tetapi juga memiliki nilai adat, budaya, dan spiritual yang sangat penting bagi masyarakat. Keberadaan hutan sema (kuburan) ini mencerminkan kearifan lokal masyarakat Desa Tigawasa dalam menjaga keseimbangan antara tradisi, penghormatan kepada leluhur, dan pelestarian lingkungan.
Salah satu permasalahan yang paling mengkhawatirkan adalah meningkatnya penggunaan air minum dalam kemasan plastik saat pelaksanaan upacara penguburan di sema (kuburan) Desa Tigawasa. Setelah upacara selesai, banyak kemasan plastik yang ditinggalkan begitu saja sehingga menumpuk menjadi sampah. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih lebih berfokus pada kelancaran pelaksanaan upacara tanpa diimbangi dengan kepedulian terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan.
Penumpukan sampah plastik dapat mencemari lingkungan dan mengurangi kesakralan area sema (kuburan). Ketut Sujana, salah satu masyarakat Desa Tigawasa, menceritakan kondisi sema (kuburan) di Tigawasa sangat memprihatinkan sejak adanya warga desa yang membawa air dalam kemasan plastik saat proses upacara penguburan. Kejadian ini terjadi karena warga percaya bahwa apa yang sudah di bawa ke dalam sema (kuburan) akan membawa petaka seandainya itu di bawa ke rumah. Hal ini menyebabkan di setiap lokasi sema (kuburan) banyak kemasan minuman plastik.
Hingga saat ini, permasalahan sampah yang terdapat di kawasan sema (kuburan) Desa Tigawasa masih belum mendapatkan penanganan atau tindak lanjut yang memadai. Akibatnya, sampah terus menumpuk di beberapa titik dan berpotensi mengganggu kebersihan, kelestarian lingkungan, serta kesakralan kawasan sema yang memiliki nilai adat dan budaya bagi masyarakat Desa Tigawasa.
(Tulisan ini merupakan karya peserta Workshop Menangkal Disinformasi Iklim berkolaborasi dengan IDJN dan IMS)









