
Rezim kolonial Belanda dalam usahanya membangun ketertiban dan keteraturan di Pulau Bali menerapkan satu prinsip penting: “menciptakan ancaman” yang akan menyerang Bali. Narasi ancaman tersebut dikembangkan untuk tujuan menjadikan Bali sebagai pulau eksotis yang bisa dikreasi sesuai dengan kepentingan penjajah.
Mengisolasi Bali untuk menjadikannya “museum hidup” dengan mengembangbiakkan adat dan budaya inilah yang sering disebut dengan Baliseering, proses Balinisasi Bali dengan menggali dan melestarikan budaya untuk kepentingan kolonialisme. Pada momen inilah produksi citra manusia dan tanah Bali terbentuk dengan kelindan diantara penjajahan, penggalian warisan budaya, penciptaan ancaman, dan sudah tentu dilumuri oleh hasrat kekuasaan.
Warisan rezim kolonial dengan mereproduksi ancaman untuk menguasai Bali sarat dengan berbagai macam kepentingan, dari mulai konteks global bahkan sangat mikro. Jika pada masa kolonial ancaman yang diciptakan adalah pengaruh dari luar Bali dianggap “buruk” untuk keaslian Bali yang dibayangkan oleh para penjajah. Maka, pada masa kini ancaman tersebut dirumuskan dari berbagai hal, mulai dari para “pendatang”, para migran yang mengadu nasib ke Bali hingga para organisasi masyarakat (ormas) yang berasal dari luar Bali yang dianggap tidak diperlukan perannya untuk menjaga Bali dari berbagai ancaman. Negara menjadi pusat kelahiran dari ancaman ini.
Pengalaman kolonial memberikan pelajaran bahwa kejahatan berupa aksi-aksi kriminalitas yang dilakukan oleh para jagoan dengan negara (pemerintahan) kolonial ternyata saling memperkuat. Warisan rezim kolonial tersebut berlangsung hingga kini. Negara mempunyai formasi dan sistem untuk menggerakkan pemerintahan, tapi seiring sistem dan formasi itu macet, muncullah kelompok-kelompok massa, milisi dan para jagoan ini untuk menawarkan jasa pengamanan “membantu” pemerintah. Negara dan kejahatan berelasi kuat dan menciptakan sebuah jaringan mafia kejahatan. Sungguh sulit membedakan mana kelompok jagoan, para milisi dengan “aparat berwajib” (Nordholt, 2002).
Menggemakan ancaman bahkan kekerasan dan memproduksinya secara terus-menerus dilakukan oleh negara dengan struktur aparatusnya untuk mengendalikan Bali yang bertumbuh semakin kompleks. Guna menjamin rakyat dari ancaman tersebut, bertumbuhlah para jagoan, organisasi masyarakat, dan berbagai elemen masyarakat yang bertekad menjadi pelindung dan nindihin gumi Bali (membela tanah Bali). Hubungannya tidak akan pernah lepas dari kekuasaan sang pencipta ancaman tersebut yaitu negara.
Penciptaan Ancaman
James T. Siegel dalam Penjahat Gaya (Orde) Baru, Eksplorasi Politik dan Kriminalitas(2000) mengungkapkan bahwa bagi negara, ancaman adalah sebuah daya tarik. Inilah kekuatan mematikan yang ingin dipunyai negara. Oleh sebab itulah, kita akan melihat bagaimana salah satu “tugas gelap” dari negara dan lapisan-lapisan pendukungnya adalah menciptakan, mengembangbiakkan, sekaligus juga mereproduksi ancaman secara terus-menerus.
Ancaman menjadi daya tarik untuk mengkonsolidasikan sumber daya dan kekuasaan untuk menghancurkan yang diciptakan sebagai ancaman. Para jagoan dan barisan organisasi masyarakat yang mendaku dirinya melindungi Bali dari berbagai ancaman berada dalam labirin ini. Mereka bertujuan untuk melindungi Bali dari ancaman yang direproduksi oleh dirinya sendiri, lebih tepatnya dari yang menciptakan para jagoan dan organisasi masyarakat ini.
Daya tarik lain dari ancaman ini adalah proses peliyanan (baca: membuat yang lain berbeda dengan dirinya). Ancaman muncul dalam pembedaan antara “kita” dan “mereka”. Pembantaian 1965 di Bali menggambarkan secara gamblang proses peliyanan ini. Para barisan tameng (milisi lokal Bali) yang dilindungi aparat keamanan pada malam-malam pembantaian membuat sasarannya menjadi orang lain. Mereka berusaha menjadikan bagian dari mereka sebagai orang asing agar bisa membunuhnya. Pada akhirnya hanya tinggal mereka yang paling nasionalis atau yang paling otentik dan paling murni nindihin Bali.
Segala bentuk yang berbau ancaman, apakah itu pertanyaan terhadap kebijakan pemerintahan, demontrasi, sampai dengan cara berpikir berusaha dikendalikan oleh kekuasaan. Namun, anomalinya, setiap kekuasaan melakukan aksinya dengan berbagai cara, begitu juga resistensi (perlawanan) akan selalu muncul menyertainya.
Ancaman bisa juga menjadi hantu ilusi saat keamaan dan ketertiban menjadi tujuan dengan mengorbankan berbagai aspirasi di tingkat akar rumput. Semuanya harus seragam dan tenang dalam mewujudkan tujuan itu. Jika ada suara kritis yang menyatakan aspirasi yang berbeda maka dianggap sebagai kerikil yang harus dibersihkan atau “diamankan” (baca: disingkirkan).
Penciptaan ancaman dan strategi “menundukkan” aspirasi kritis dan berbeda rakyat dari kekuasaan ini sudah terjadi sejak masa kolonial. Pemerintah kolonial Belanda mengerahkan segala cara dan kekuatan untuk menenangkan beragam aspirasi dari rakayt yang tidak selalu meyenangkan kekuasaan. Suasana yang didambakan adalah yang sering disebut Rust en Orde (ketenangan dan ketertiban). Siasat ini diikuti oleh rezim Orde Baru untuk menjaga stabilitas politik yang memungkikan negara dan kekuasaannya membabat musuh-musuhnya. Semuanya berada dalam koordinasi dari Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib).
Cara lebih halus dalam penciptaan ketertiban terjadi di Bali dengan slogan-slogan yang diproduksi negara. Salah satunya adalah slogan BALI (Bersih, Aman, Lestari, Indah) yang sudah tentu tujuannya adalah menciptakan ketertiban, namun pada sisi yang lain juga menciptakan ancaman bagi orang-orang dan pemikiran yang tidak sejalan dengannya.
Para Jagoan
Para serdadu penggebuk dari penciptaan ancaman ini adalah adalah para jagoan dan kelompok masyarakat yang menjadi alat kekuasaan. Kehadiran para jagoan di Bali memiliki sejarah yang panjang. Berdiri, berkembang, konflik, dan kepunahan oganisasi masyarakat tidak berdiri di ruang hampa. Pada masa-masa tersebut, berkelindan konteks ekonomi politik dan sosial budaya yang membentuknya.
Jika hari ini perkembangan ormas begitu mengharu-biru di Bali yang diiringi pembentukan dan gugatan, semuanya memiliki konteks masing-masing. Jadi, membatasi pandangan soal (hanya) penolakan terhadap ormas (luar Bali), yang berarti menerima ormas Bali, beresiko besar membatasi pengetahuan dan sudah tentu pemahaman kita yang lebih luas mengenai relasi ormas dan (kepentingan) kekuasaan.
Kehadiran ormas dan barisan milisi-milisi lokal tidak bisa dilepaskan dari angin demokratisasi dan otonomi daerah yang menguatkan kehadiran para jagoan lokal ini dengan alasan “memberdayakan potensi masyarakat”. Kelompok para jagoan dan ormas ini hadir memanfaatkan ketidakstabilan negara dalam mengatur politik keamanan masyarakat. Kehadiran mereka tak jarang menebar terror dan ancaman, namun kerap pula dibutuhkan dan diperebutkan di kalangan pihak tertentu yang berkepentingan (Masaaki dan Rozaki, 2006).
Para jagoan dari kelompok masyarakat ini akan menyebar ketakutan dan beraksi sesuai dengan perintah dan target dari “si dalang”. Sejarah mencatat bahwa peranan jagoan dan kelompok kriminal ini selalu memberi warna yang penting. Para jagoan dan kelompok-kelompok kriminal selalu berada di tepian masyarakat Indonesia namun tak pernah berada di luarnya. Sama sekali bukan orang asing, mudah dijumpai dalam wacana politik Indonesia. Mereka, pada mulanya, adalah para hamba sahaya yang dihidupi oleh para pemegang otoritas politik lokal (Siegel, 2000: 4-5).
Bertebarannya barisan ormas dan para jagoan berelasi kuat dengan imajinasi negara dalam penciptaan ancaman sekaligus ketertiban tersebut. Pertarungan para jagoan kelompok penggebuk ini tidak pernah berada di luar lingkaran kekuasaan negara. Hanya ada dua siasat negara menghadapinya: merangkul atau menyingkirkan.
Nordholt, H.S. (2002). Kriminalitas, Modernitas dan Identitas dalam Sejarah Indonesia, Yogyakarta, Pustaka Pelajar.
Masaaki, O., dan Rozaki, A. (2006). Kelompok kekerasan dan bos lokal di era reformasi. Diterbitkan kerjasama Center for Southeast Asian Studies (CSES), Universitas Kyoto, Jepang [dengan] IRE Press, Yogyakarta.
Siegel, J.T. (2000). Penjahat Gaya (Orde) Baru, Eksplorasi Politik dan Kriminalitas, LKiS, Yogyakarta.
sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet kampungbet
![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)






