
Sinema yang berlokasi di lantai paling atas ICON Bali Mall menjadi tujuan para pegiat film lokal hingga internasional. Tanggal 1 Juni hingga 7 Juni 2025, Bali International Film Festival (Balinale) diselenggarakan untuk ke-18 kalinya. Sejumlah film dari dalam dan luar negeri diputar selama seminggu. Ada film berdurasi panjang, ada pula film berdurasi pendek.
Sore itu (02/06) saya menuju sinema berbekal jadwal pemutaran film pukul 16.45 WITA. Kursi bioskop tidak terisi penuh, masih banyak yang kosong. Ternyata ruang bioskop yang saya masuki hari itu memutar lima film pendek selama satu jam lebih. Ada tiga film pendek di antara lima film tersebut yang menarik perhatian saya. Tiga film tersebut saya ulas secara singkat dalam tulisan ini.
Inspired By Lip Balm
Film Taiwan ini berdurasi 15 menit disutradarai oleh Li-Ying CHIEN. Menit-menit awal menampilkan seorang penulis komik yang tengah rapat. Penulis tersebut diundang oleh perusahaan produksi film untuk mengadaptasi komiknya ke layar, sehingga ia harus menulis ulang komiknya menjadi naskah film berdurasi satu jam.
Demi mendapatkan inspirasi, penulis memesan sebuah hotel murah yang akan menjadi latar belakang cerita. Adegan film pun berubah, beralih ke imajinasi si penulis seolah-olah membayangkan cerita yang hendak ditulisnya. Adegan imajinasi penulis diawali pertemuan seorang perempuan dan laki-laki di hotel. Itu adalah pertemuan pertama mereka setelah berkenalan di aplikasi kencan.
Laki-laki dalam imajinasi penulis tampak kecewa dengan perempuan tersebut. Kekecewaan tersebut muncul karena tubuh perempuan yang tampak gemuk. Laki-laki itu pun ingin pergi dengan alasan belum menggunakan pelembab bibir. Adegan imajinasi penulis terus berganti-ganti menampilkan wajah penulis dan imajinasinya seolah-olah tampak merevisi beberapa adegan yang tengah penulis bayangkan.
Imajinasi penulis terhenti ketika dirinya tidak bisa membayangkan bagaimana pemeran laki-laki akan bereaksi pada keinginan kuat perempuan gemuk tersebut. Ia pun meninggalkan hotel dan terpaksa kembali di hari berikutnya karena tuntutan studio yang meminta naskah cerita diselesaikan segera.
Pada hari kedua, penulis mencoba mencari inspirasi dengan menguping suara-suara yang berasal dari kamar sebelah. Awalnya hanya menguping kamar sebelah, hingga berakhir di lorong hotel, menguping dari balik pintu. Tiba-tiba salah satu kamar terbuka, menampilkan sepasang kekasih yang persis seperti karakter di tulisannya.
Pertemuan tak terduga itu mengubah perspektif penulis. Awalnya ia mengira seseorang harus mengikuti standar kecantikan masyarakat demi mendapatkan cintanya. Namun, nyatanya tidak semua begitu, karena cinta tidak peduli bagaimana bentuk fisik seseorang.
Dalam beberapa adegan, film pendek ini menampilkan lelucon-lelucon satire atau sindiran, baik untuk standar kecantikan masyarakat maupun sineas. Sindiran dilontarkan kepada para sineas yang kerap mengubah karakter perempuan gemuk menjadi kurus, sehingga berdampak langsung pada bagaimana masyarakat memandang perempuan gemuk.
Marini
Ketika menonton pertandingan bola di televisi, pemainnya hanya laki-laki, tidak ada pemain perempuan. Kenapa pemain bola hanya laki-laki? Mungkin karena mereka dianggap lebih kuat dibandingkan perempuan. Pertandingan bola yang hanya diisi laki-laki membuat stereotipe berkembang di masyarakat bahwa hanya laki-laki yang boleh bermain bola, sedangkan perempuan hanya bermain masak-masakan di rumah.
Fenomena sosial ini yang diangkat dalam film Marini asal Cech ADREA dari Malaysia. Karakter utamanya adalah Marini, seorang pelajar perempuan yang gemar bermain bola. Adegan awal menampilkan Marini yang membeli bola di warung. Ia berlatih sepak bola di teras rumahnya, sedangkan ibunya memanggilnya untuk makan. Marini yang tampak asyik bermain bola tidak menghiraukan panggilan ibunya. Menjelang ashar, barulah Marini masuk dan makan. Ia sempat ditegur oleh ibunya karena gaya duduknya yang tidak sopan ketika makan.
Dalam film tersebut Marini dibuat pendiam, tetapi karakternya dapat terbaca dari setiap tindakannya. Ibu Marini merupakan ibu rumah tangga yang penurut, sedangkan ayahnya merupakan seorang guru di sekolah Marini. Di rumah, peran ayahnya sangat mendominasi, setiap perilaku dan perkataannya tidak boleh ditentang.
Ayah Marini selayaknya ayah dalam masyarakat yang menginginkan anak perempuannya bersikap feminim. Ketika menemukan ada bola di rumahnya, ayah Marini mengambil pisau dan mengempeskan bola tersebut di hadapan anaknya. Marini yang melihat kejadian tersebut merasa tidak adil, teringat sebelumnya sekelompok laki-laki tengah bermain bola di dekat rumahnya.
Jika menggambarkan isi hati Marini, mungkin ini yang terlintas di benaknya saat itu, “Kenapa laki-laki boleh bermain bola, sedangkan perempuan tidak boleh?”. Hatinya semakin tersakiti ketika melihat poster bola yang ditempel di kamarnya ternyata dibakar oleh ayahnya, seolah mimpinya juga ikut dibakar.
Dalam waktu yang singkat, film ini dapat menampilkan ketegangan di akhir, terutama ketika Marini berjalan mengambil pisau ke dapur. Meski tidak banyak dialog, amarah Marini terlihat dari tatapan matanya.
Stereotipe yang diterima Marini tidak hanya terjadi di film-film, tapi juga kehidupan nyata. Masyarakat memandang bahwa perempuan memang seharusnya memainkan peran-peran domestik dan bersikap feminim, sedangkan laki-laki harus maskulin. Padahal, siapa saja berhak bermimpi menjadi apa pun, terlepas dari gender dan jenis kelaminnya.
Jangka Kala
Dibandingkan dua film pendek di atas, film ini memiliki durasi yang lebih panjang, yaitu 25 menit. Jangka Kala disutradarai oleh Destian Rendra Pratama dengan mengambil latar cerita pesisir pantai selatan di Kabupaten Malang.
Film ini mengisahkan seorang nelayan, Jatiadi yang menantikan kelahiran anak pertamanya setelah sekian lama. Istrinya, Sasmita yang tengah mengandung sedang menginginkan telur penyu, sebagaimana kepercayaan masyarakat lokal bahwa telur penyu dapat menjaga kehamilan.
Jatiadi tidak bisa memenuhi keinginan istrinya karena penyu merupakan hewan yang dilindungi dan mengambil telur penyu adalah tindakan ilegal. Adegan awal pun menunjukkan sebuah yayasan konservasi penyu yang menemukan penyu mati ketika sedang patroli. Penyu tersebut diduga telah teracuni bahan kimia dan banyak mengonsumsi plastik di lautan.
Setidaknya dalam tiga adegan menampilkan Sasmita yang merengek dan mengeluh karena suaminya tidak kunjung membawakannya telur penyu. Ketika tiba hari melaut, Jatiadi mencoba mengajak temannya ke kawasan konservasi penyu, tetapi temannya menolak karena tidak berani. Namun, bayang-bayang penyu dan anaknya melintas ketika dirinya sedang melaut.
Jatiadi pun memutuskan untuk pergi mencari telur penyu keesokan harinya. Beroleskan oli di tubuhnya, Jatiadi mengendap ke kawasan konservasi penyu. Di sana ia menemukan telur penyu yang selama ini dicari-cari. Hati nuraninya sempat tersentuh ketika bayang-bayang ibu dari telur penyu tersebut terlintas. Namun, apa boleh buat, itu demi istri dan anak-anaknya.
Malam itu Sasmita merasa bahagia karena Jatiadi bisa mengabulkan keinginannya. Saking bahagianya, ia memakan semua telur penyu itu sekaligus, sekitar empat hingga lima telur. Naasnya, telur penyu tersebut merenggut nyawa Sasmita.
Secara eksplisit, Jangka Kala mengkritik mitos yang dipercayai masyarakat lokal bahwa telur penyu dapat menjaga kehamilan ibu. Selain karena dilindungi, telur penyu dapat mengandung bahan kimia yang berbahaya bagi janin dan berdampak pada kesehatan ibu hamil.
Film ini juga menunjukkan limbah yang dihasilkan manusia terbawa ke laut, sehingga berdampak buruk pada ekosistem laut. Limbah tersebut bukan hanya berbentuk sampah, tapi juga limbah pabrik yang dibuang sembarangan. Limbah di laut dikonsumsi oleh makhluk hidup di sana karena dianggap makanan. Fenomena yang tampak miris dan sedang terjadi saat ini.
Tiket film yang ditayangkan Balinale dapat dibeli di sini.
sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet kampungbet








![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)

