• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Sunday, February 15, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup Agenda

[Pameran] Erawan vs Perupa Cahaya Sejati

Redaksi BaleBengong by Redaksi BaleBengong
9 May 2014
in Agenda, Budaya, Kabar Baru
0
0

Exorcize, Digital painting on canvas, 110x110 cm, 2014_Ida Bagus Darmasuta

Perupa Nyoman Erawan kembali melibatkan para seniman fotografi terpilih dalam sebuah pameran.

Kali ini bertajuk “Erawan vs Perupa Cahaya Sejati: Beyond A Light”. Pembukaan akan berlangsung pada Sabtu, 10 Mei 2014 di Bentara Budaya Bali (BBB).

Pameran ini akan menghadirkan karya-karya foto dokumentasi maupun art sebagai bentuk representasi “baru” atas peristiwa yang mengawalinya.

Sebelumnya, pada 2012 lalu Erawan meluncurkan buku Salvation of The Soul di Tony Raka Gallery. Pada 15 Maret 2014, Erawan berkolaborasi dengan para penyair Bali terpilih antara lain lain Mas Ruscitadewi, Cok Sawitri, Oka Rusmini, Tan Lioe Ie, Warih. Wisatsana dan Wayan Jengki Sunarta. Mereka berkolaborasi dalam Erawan vs. Penyair Sejati, dengan tajuk “Salvation of The Soul, Ritus Bunyi Kata Rupa” di Antida Denpasar.

Momen-momen tak terulang dari peristiwa pertunjukkan seni tersebut diabadikan oleh para fotografer serta kemudian dihadirkan dan direspon kembali oleh Nyoman Erawan dalam bentuk pameran seni rupa bersama ini.

Nyoman Erawan kembali terusik ide-ide kreatifnya setelah menyaksikan rekaman-rekaman peristiwa tersebut, sehingga muncul gagasan untuk melanjutkan proses cipta itu menjadi representasi “baru”. “Maka hadirlah pameran bertajuk Erawan vs. Perupa Cahaya Sejati dengan subtema “Beyond a Light”,“ tutur I Wayan Seriyoga Parta, kurator pameran ini.

Seriyoga Parta melanjutkan proyek ini dimaksudkan untuk menjaga daya kreativitas dan proses penciptaan. Dokumen-dokumen foto dan rekaman peristiwa ritus seni tersebut disikapi secara kreatif oleh Nyoman Erawan dalam sebentuk kolaborasi bersama para perupa cahaya.

“Sebagai perupa, Nyoman Erawan adalah seniman yang dikaruniai elan kreatif tinggi. Terbukti, ia tak hanya melukis dua dimensi, tiga dimensi dan seni instalasi, melainkan melahirkan pula berbagai karya multimedia berikut performing art yang lintas batas; mempertautkan kekayaan kultural Bali dengan kemodernan nan kontekstual yang mencerminkan kekinian,“ ungkap Juwitta Lasut, staff budaya BBB.

Pameran menghadirkan kurang lebih 320 foto dokumentasi, sekitar 23 foto seni (art), karya instalasi dan video mapping. Mereka yang terlibat dalam pameran kali ini yakni Ida Bagus Darmasuta, Komang Parwata “Totok”, Agus Wiryadhi Saidi, Dewa Gede Purwita, Komang Purnama Santi “Asok”, dan Raden Cahyoko “Kokok”.

Para seniman fotografi dan video maker tersebut tidak hanya menghadirkan rangkaian dokumentasi peristiwa, namun juga menginterpretasikannya kembali melalui sebentuk representasi dan persepsi “baru”. Dalam dimensi ruang dan waktu penciptaan tersebut para seniman berkolaborasi menggali dan melampaui batas-batas konvensi pemahaman terhadap foto-dokumentasi, serta masing-masing dengan caran otentik dan unik mendayagunakan kekuatan cahaya yang penuh ketakterdugaan itu.

“Saya gembira karena akhirnya kolaborasi ini dapat terwujud. Hal ini merupakan satu upaya membangun pergaulan kreatif, saling mendorong kreativitas dan juga saling memberi semangat untuk berkarya tanpa henti,“ ungkap Nyoman Erawan.

Kolaborasi ini berangkat dari pemanfaatan secara kreatif trik-trik sederhana dalam fotografi, hingga kecanggihan teknologi di dalam mengelola kemungkinan-kemungkinan visual, termasuk juga bagaimana mendayagunakan imajinasi dan fantasi seluas dan sebebas mungkin melalui video mapping, tak ketinggalan respon langsung perupa Erawan terhadap karya-karya tersebut guna dihidupkan kembali menjadi peristiwa seni yang mengedepankan sebentuk representasi “baru”.

Eksebisi ini berlangsung mulai 10 Mei hingga 17 Mei 2014. Serangkaian pameran akan dihadirkan pula satu sesi diskusi dan penayangan dokumenter dalam program Bali Tempo Doeloe #11 bertajuk “Representasi Bali dalam Imaji Barat Masa Lalu” pada Minggu, 11 Maret 2014. Dialog akan mengetengahkan perihal perkembangan imaji atas citraan molek pulau Bali yang disampaikan lewat karya-karya fotografi.

Selain pemutaran film kilas balik, akan dihadirkan pula rekam fotografi atas Bali di masa lampau.

Sekilas Profil Seniman :
Agus Wiryadhi Saidi, lahir di Denpasar, 23 November 1960. Menyelesaikan S1 di Jurusan Arsitektur ITS (1986) dan Program Magister Kajian Budaya Unud (2001). Sejak tahun 1987 mengajar di Fakultas Teknik Universitas Ngurah Rai dan Pemimpin redaksi jurnal kampus “Akses” (2009-2013). Minat pada fotografi telah ditekuninya sejak menjadi mahasiswa di Surabaya, belakangan mulai memperdalam kamera digital.

Agus aktif mengikuti pameran foto bersama di Surabaya, Singaraja dan Denpasar. Karya fotonya pernah dimuat di berbagai media cetak di Bali, Kompas (Jakarta), majalah ipad (online) “The B Side” di Malaysia (2012) dan menghiasi sampul depan buku “Performing Arts in Postmodern Bali” yang terbit di Jerman (2013). Meraih penghargaan pada lomba foto Sanur Village Festival (2013).

Asok Nagara atau I Komang Agus Purnama Santi, SSn, lahir di Jembrana, 1 Agustus 1981. Telah mengikuti berbagai pameran bersama seperti Pameran Lukisan angkatan 99 di kampus ISI Denpasar, Bali (2000), Students Art Week, Indonesian Art College, Denpasar, Bali (2000), Pameran lukisan ”Loose,” di gedung Titik Dua, Denpasar (2001), Pameran multimedia ,”Hati-hati ada upacara” Klinik Seni (Art Clinic) Taxu, Bali (2003), Pameran Multimedia cARTe blanche # 4 Alete!!! [Waspada!], CCF ( Centre Culturel Français), Jakarta (2005), “Urban Culture” CP Biennale II 2005, Museum Bank Indonesia, Jakarta (2005), Consciousness of Here and Now”, Biennale Jogja VIII 2005, Yogyakarta (2005).

Asok pernah menjadi editor dan videografer maupun sutradara beberapa produksi video art, seperti videoHalo Malaysia (2008), I Feel Good(2008), Di Jantung Maya, Raja Ampat Papua (2009), Wisata Maluku Tengah(2009), dll.

Dewa Gede Purwita, lahir di Denpasar, 27 November 1989. Alumni Jurusan Pendidikan Seni Rupa, UNDIKSHA Singaraja. Pernah berpameran, di antaranya : PASSION Printmaking Exhibition, B-Tjap printmaking community di Griya Santrian Gallery, Sanur (2014), ”Situs Daun”, Cuci Otak #5, GSRBT, Unsung Hero House, Tabanan (2014), (Un)detection on Gang Art, Cuci Otak#4, GSRBT vs Putu Bonuz (2013), Pameran”Ruang Waktu” di Neka Art Museum (2013), Pameran fotografi bersama “Landscape Bali” di Mall Kuta Bex, Badung (2012), Pameran bersama, “ekstra(versi)” di Sika Contemporary Gallery, Ubud (2011), Pameran Fotografi bersama PFB (Perhimpunan Fotografer Bali) “Soul of Bali” di Hypermart, Mall Bali Galleria, Denpasar (2011), Pameran Foto dalam HUT Persma Akademika UNUD “Bali Masa Kini” di Bentara Budaya Bali (2011), dll.

Ida Bagus Darmasuta lahir di Denpasar, 10 April 1962. Selaku Ketua Senat Mahasiswa, pada era tahun 80-an Darmasuta bersama kawan-kawan di kampus rutin menggelar Lomba Drama Modern dan Lomba Cipta Naskah Drama Modern Se-Bali. Pada tahun 2007, Ida Bagus Darmasuta diberikan Penghargaan Sastra Rancage. Aktif menghadiri berbagai kegiatan sastra, dan fotografi yang diselenggarakan di Bali maupun di luar Bali. Ia juga kerap diminta sebagai pembicara, pemandu, maupun sebagai juri untuk berbagai kegiatan kesenian. Karya Fotografinya pernah dipamerkan di Griya Santrian Gallery Sanur dalam rangka pameran bersama dalam rangka Sanur Village Festival 2013. Beberapa karya fotonya pernah dimuat di Majalah Tempo, Bali Post, Bali Arts. Surat Kabar Seni, Buku Kamus Istilah. Di penghujung tahun 2013, Darmasuta telah menerbitkan buku berjudul Jejak Kanvas: Puisi – Fotografi.

Komang Parwata SSn “Totok”, lahir di Singaraja, 10 Maret 1966. Menamatkan pendidikan di PSSRD (Program Studi Seni Rupa Dan Desain) Universitas Udayana. Pernah menjadi freelancer fotografer di koran Bali Post (1988-1990), meraih juara I Lomba Foto PAM, Bali (1989), Juara I Lomba Desain Logo TAHURA (1990), dll.

Pernah berpameran di antaranya : Pameran Foto Bersama di Kartika Plaza Hotel Kuta (2000), Pameran Foto Bersama di Grand Hyatt Nusa Dua (2001), Pameran foto bersama PFB di Monumen Bajra Sandi Renon, Denpasar (2003), Pameran Foto Bersama Lingkara Community Bali –Make-up Orthipedia- Bali Creative Festival di Art Centre, Bali (2010), Foto bersama Komunitas Semut Ireng Bali ( kamera Lubang Jarum ) di Art Centre, Bali (2010), Pameran Foto Bersama Lingkar Community Bali – HypomaniCam di Tonyraka Art Gallery Ubud – Bali (2011), Pameran Foto bersama LingkaraPhotoArt, Ganesha gallery, Four Season, Jimbaran (2013), Pameran bersama“ Bali on the Move ” Bali Art Society Tony Raka Gallery Ubud, Popo danes Gallery, Denpasar, Bali (2013), Pameran bersama 29 perupa foto Indonesia“ The Age of Photography “ di Tony Raka Gallery, Mas Ubud, Bali (2013), dll.

Raden Cahyoko aka Kokok. Lahir di Semarang dan menamatkan pendidikan di Institut Seni Indonesia tahun 1989. Sejak tahun 1992 mendirikan komunitas desain “multimedia sindikat” di Yogyakarta. Beberapa karya yang dihasilkan komunitas ini seperti Interactive Multimedia System atau sering disebut KIOSK yang telah tersebar di beberapa daerah. Pada tahun 1993-1995 menjadi creative director di Computa Jogja. Sejak tahun 1998 hijrah dan menetap di Bali, mengembangkan sebuah bengkel multimedia yang mencoba bergerak di bidang desain.

Tahun 2002 berubah haluan menjadi seorang movie director, bergabung dengan Air Diving Course untuk mengerjakan beberapa project underwater video untuk departemen kelautan dan film dokumenter, serta aktif menggarap berbagai artvideo. Mulai tahun 2005 mencoba menjajaki seni fotografi dan kemudian memfokuskan diri menggeluti video mapping, salah satu bidang di dalam berkesenian yang lebih mengutamakan motion graphic atau animasi, baik 2 dimensi atau 3 dimensi (2009).

Nyoman Erawan, lahir di Sukawati, Gianyar, 27 Mei 1958. Ia merupakan lulusan STSRI Yogyakarta. Pameran tunggalnya antara lain; “Penciptaan dan Penghancuran”, Natayu Contemporary Art Gallery, Sanur, Bali (1995), Pameran tunggal lukisan & instalasi “Keindahan dalam Kehancuran”, Komaneka Gallery, Ubud Bali (1999), Pameran tunggal lukisan di The Gallery, Chedi, Kedewatan, Bali (2000), Pameran tunggal “Pralaya: Prosesi Kehancuran dan Kebangkitan”, Gedung Bentara Budaya Jakarta (2003), dll.

Turut dalam pameran bersama di antaranya: “Reading Multi Sub Culture”, Two Demension Indonesian Fine Art, Berlin Jerman (2004), Pameran Ilustrsi Cerpen Kompas, Bentara Budaya Yogyakarta (2006); “Bali Biennale Astra Otoports Award 2005”, Sika Contemporary Art Gallery, Ubud Bali, Biennale Jakarta XII 2005 “Beyond The Limit and its Challenges”, Galeri Nasional Jakarta (2006); “The Gate: Pre Discourse” Semar Art Gallery Malang dan Hu Bei Art College Wu Han, China (2006), “Imagined Affandi” Peringatan 100 tahun Affandi, Gedung Arsip Jakarta 92007), dll. Meraih penghargaan dari Winsor & Newton Inggris (1992), First Prize “The Philip Morris Group of Companies Indonesia Art Award” (1994), “Astra Otoparts Art Award 2005” sebagai Life Time Achievement, Bali Biennale 2005. [b]

Tags: AgendaBentara Budaya BaliBudayaSeni
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Redaksi BaleBengong

Redaksi BaleBengong

Menerima semua informasi tentang Bali. Teks, foto, video, atau apa saja yang bisa dibagi kepada warga. Untuk berkirim informasi silakan email ke kabar@balebengong.id

Related Posts

Di Balik Panggung Seni: Cerita Diskriminasi dan Perjuangan Pekerja Ragam Gender di Ekosistem Kreatif

Di Balik Panggung Seni: Cerita Diskriminasi dan Perjuangan Pekerja Ragam Gender di Ekosistem Kreatif

19 December 2025
Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Sanggah Kemulan Bermakna Unik dari Susunan Bambu di Desa Pedawa

Sanggah Kemulan Bermakna Unik dari Susunan Bambu di Desa Pedawa

25 July 2025
Budaya Ngayah Makin Langah

Budaya Ngayah Makin Langah

13 June 2025

Bali Hampir Habis, Semenjana dan Tergantikan

4 January 2025
Melestarikan Tapel Ngandong, Kesenian Unik dari Desa Les Lewat Akses Digital

Kesenian yang Terancam Hilang di Desa Wisata Les

3 January 2025
Next Post
Grasi, antara Corby, Vincent, dan Felipe

Grasi, antara Corby, Vincent, dan Felipe

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Imagine: Never Called by My Name Mewakili Kegelisahan Perempuan

Imagine: Never Called by My Name Mewakili Kegelisahan Perempuan

14 February 2026
Dari Bali ke Bangkok, Morbid Monke dan Bab Awal Feel Alive Tour

Dari Bali ke Bangkok, Morbid Monke dan Bab Awal Feel Alive Tour

14 February 2026
Sekolah Pembaharu Ashoka: Kelola Sampah sampai Ekskul Agro

Sekolah Pembaharu Ashoka: Kelola Sampah sampai Ekskul Agro

13 February 2026
Investasi WNA di Bali: Meningkat, Didominasi Rusia, Usahanya dari Real Estate sampai Rental Motor

Investasi WNA di Bali: Meningkat, Didominasi Rusia, Usahanya dari Real Estate sampai Rental Motor

12 February 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia