• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, April 18, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Opini

Nusa Penida Menuju Paradise atau Parahdise?

Wayan Sukadana by Wayan Sukadana
8 September 2015
in Opini, Sosial
0
0
Snorkling menikmati pemandangan bawah laut salah satu daya tarik Nusa Penida. Foto Viar M Suganda.
Snorkling menikmati pemandangan bawah laut salah satu daya tarik Nusa Penida. Foto Viar M Suganda.

Diskusi tentang pengembangan suatu wilayah pariwisata yang ideal tak pernah berujung.

Bisa panjang dan melelahkan. Satu pihak menginginkan wilayah tetap lestari budayanya, terjaga alam dan vibrasi spiritnya, serta tetap mempesona lautnya.

Adapun pihak lain berpikir agak berbeda. Kelompok yang berpikir ideal seperti ini adalah kelompok idealis yang tidak rela daerahnya tergerus oleh dampak negatif pariwisata.

Tanpa dipungkiri pariwisata banyak membawa dampak baik yang juga diidam-idamkan sebagian orang lain. Pariwisata membawa gemerincing dolar dan pertumbuhan ekonomi. Selain itu pengembangan pariwisata akan dibarengi pembangunan infrastruktur seperti jalan, listrik dan air yang sekaligus untuk masyarakat sekitarnya.

Kelompok-kelompok yang menyetujui konsep pariwisata sebagai penumbuh ekonomi adalah mereka yang menganggap pariwisata dewa penolong penurun angka kemiskinan. Mereka berpikir realistis dan oportunis (menangkap peluang).

Antara kelompok idealis dan realistis ini ada polarisasi pemikiran. Biasanya bertentangan satu sama lain yang biasanya disebuat sebuah paradoks. Inilah dualitas kuno.

Kenyataannya memang tidak bisa dipungkiri setiap pengembangan wilayah pariwisata pasti akan menimbulkan patologi (penyakit) pariwisata. Mengutip pernyataan Profesor I Wayan Geria dari Universitas Udayana (Unud), pariwisata pasti menimbulkan berbagai masalah.

Menurut Prof Geria, masalah itu misalnya pariwisata akan menyebabkan merosotnya kualitas lingkungan, kualitas seni menurun karena berorientasi turis, kapiltalistik (penguasan daerah oleh pemodal), tersisihnya masyarakat lokal, perang komisi, kemacetan, harga-harga semakin mahal karena mengacu touris, kerentanan masalah sosial, meningkatnya kriminalitas dan lain-lain.

Demikian pun masalah pengembangan Nusa Penida sebagai destinasi pariwisata. Perdebatan tentang bagaiamana meminimalkan dampak negatif pariwisata di pulau yang sedang menggeliat pariwisatanya ini mungkin sudah ribuan kali didiskusikan.

Demikian pun saya. Misalnya dengan Direktur Friends of the National Parks Foundation Bali Bayu Wirayudha yang getol mengembangkan wisata lingkungan atau eco tourism di Nusa Penida ini.

Pertanyaan saya hanya satu pada Bayu, “Adakah suatu tempat ideal yang telah mengembangkan pariwisata tapi dampak negatifnya seminimal mungkin?”

Bayu menjawab ada tiga tempat yang mampu meminmalkan itu yaitu di Suku Baduy Jawa Barat, Tenganan Pegringsingan, dan suatu kawasan Kuil Budha di Thailand.

Menilik ketiga tempat itu baik di Baduy, Tenganan Pegrisingan dan kawasan kuil budha di Thailand, proteksi dampak negatif pariwisata kuat karena adanya persatuan masyarakat yang sama di sana untuk tetap menjaga budaya dan alamnya.

“Apakah Nusa Penida bisa seperti itu dengan karakter masyarakatnya?” saya lanjut bertanya.

Bayu terdiam tidak menjawab.

Tulisan ini tentunya ingin mengkitik diri kita sebagai masyarakat Nusa Penida sendiri. Apa yang telah, sedang dan akan kita lakukan untuk meminimalkan dampak negatif pariwisata? Kita tidak boleh hanya diam ataupun mengkritik tanpa berbuat apa-apa. Karena diam dan mengkritik tanpa solusi tidak akan menghasilkan apa-apa.

Pemerintah sebagai pemegang kebijakan sejatinya telah memiliki instrumen untuk menangkal itu. Semisal Perda tata ruang, perda sampah, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), dan perangkat regulasi lainnya. Dalam setiap pembagunan Resort atau hotel hal itu dilakukan.

Tetapi semua itu tidak serta merta bisa menjawab persoalan dan dampak negatif pariwisata. Karena ketidak dispilinan warga (kita), masalah akan muncul.

Misalnya masalah sampah saja baru-baru ini. Beredar foto-foto sampah yang berserakan di kawasan Pasih Hug. Peristiwa ini cukup membuat kita malu sebagai pemilik pulau ini. Selain itu misalnya pemerintah tidak ada regulasi yang menyatakan tidak boleh menjual tanah sendiri atau yang bersertifikat.

Diskusi tentang meminimalkan dampak negatif pariwisata juga pernah saya lakukan dengan Made Iwan Dewantama. Ia adalah manager Conservation International Indonesia dan salah satu inisiator dijadikan Gunung Batur dan Subak sebagai warisan budaya dunia UNESCO. Iwan

Iwan Dewantama mengatakan bahwa dalam pengembangan suatu wilayah semacam Nusa Penida harusnya tidak saja mengandalkan design engineering detail (DED). Itu kan gambar atau design teknisnya saja.

Mestinya, menurut Iwan, pemerintah juga memikirkan tantang membuat pola perencanaan dengan design social detail (DSD). DSD dibuat dengan maksud agar bisa diproyeksikan atau diperkirakan bagaiamana dampak sosial bila suatu wilayah dikembangkan pariwisatanya. Dari proyeksi tersebut bisa dibuat kebijakan-kebijakan preventif atau pencegahan.

Dari Bayu Wirayudha dan Iwan Dewantama didapat role model dan pola perencanaan DSD. Tinggal bagaiamana pemerintah dan masyarakat bisa mengaplikasikannya dalam awig-awig di masyarakat dan regulasi pemerintah.

Harapannya Nusa Penida menjadi the real paradise yang berkelanjutan bukan parah dise atau tempat yang parah masalahnya seperti kekhawatiran beberapa pihak. Atau Anda punya ide atau usul agar Nusa Penida tetap menjadi paradise? [b]

Tags: Nusa PenidaOpiniPariwisataSosial
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Wayan Sukadana

Wayan Sukadana

Penggerak komunitas. Penikmat dan peminat musik. Sedang belajar jadi pengusaha pariwisata di tanah kelahirannya, Nusa Penida.

Related Posts

Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Pemerintah Tanpa Modal, Masyarakatnya Dipenjara?

14 April 2026
Pulau Wisata ini Ditutup Sementara untuk Perbaikan Kualitas Lingkungan  akibat Overtourism

Pulau Wisata ini Ditutup Sementara untuk Perbaikan Kualitas Lingkungan akibat Overtourism

8 April 2026
Siapkah Nyepi Digital?

Siapkah Nyepi Digital?

23 March 2026
Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

17 March 2026
Ruang Healing di Pesisir yang Berubah

Mendamaikan Nyepi dan Takbiran di Bali 2026

16 March 2026

Patologi Atensi: Kenapa Otak Dangkal dan Malas Kontemplasi

6 March 2026
Next Post
Merekam Bencana dan Peradaban Tambora 1815

Merekam Bencana dan Peradaban Tambora 1815

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Pekerja Luar Ruangan Berisiko Tinggi Heat Stress ketika Panas Ekstrem

Pekerja Luar Ruangan Berisiko Tinggi Heat Stress ketika Panas Ekstrem

18 April 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Bali dan Histeria Festival

17 April 2026
Pulau Bali pun Rentan Tenggelam

El Niño “Godzilla”: Ketika Monster Iklim Mengancam Pulau Dewata

16 April 2026
Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

15 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia