• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Sunday, May 17, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Ngerebeg, Menghormati Panjak “Wong Samar”

Iin Valentine by Iin Valentine
15 October 2016
in Budaya, Travel
0
0
Ngerebeg
Para pengayah berkumpul di Pura Duur Bingin untuk mengikuti tradisi Ngerebeg. Foto Ngurah Hartawan

Bali memang pulau penuh pesona.

Tiap daerah memiliki ciri khas tersendiri. Begitu pula Tegallalang. Salah satu kecamatan di Kabupaten Gianyar ini, tidak hanya terkenal dengan agrowisata dan kerajinan tangan, tetapi juga keunikan adatnya.

Jangan kaget jika pada 12 Oktober 2016 lalu, Anda melihat parade di sepanjang jalan Desa Pakraman Tegallalang dengan riasan menyeramkan. Mereka tidak sedang merayakan Halloween seperti di Amerika. Tetapi, itu adalah rangkaian upacara yang dilakukan menjelang puncak piodalan di Pura Duur Bingin.

Ngerebeg, begitulah upacara yang dilaksanakan setiap Rabu Kliwon Pahang itu dinamai. Uniknya, upacara ini mewajibkan pesertanya untuk merias diri seseram mungkin. Mereka menggunakan berbagai macam riasan dan membawa perlengkapan berupa penjor serta alat upacara lainnya.

Hal tersebut ternyata tidak bertujuan sebagai hiburan semata. Dia juga bermakna untuk menghormati panjak Pura Duur Bingin yang berwujud wong samar serta leluhur pura tersebut.

Pande Wayan Karsa, tokoh masyarakat setempat menyatakan bahwa dalam perjalanannya, upacara ini mengalami beberapa perkembangan. Awalnya hanya diusung oleh dua banjar. Pada perkembangan selanjutnya, Ngerebeg diusung oleh satu desa pakraman yang terdiri dari tujuh banjar.

Banjar-banjar tersebut adalah Tegallalang, Triwangsa, Tegal, Tengah, Penusuan, Gagah, dan Pejengaji. Pengayahnya pun terdiri dari berbagai umur, mulai dari siswa SD, SMP, hingga orang-orang dewasa.

“Kalau dilihat dari jumlah pengayah, dulu hanya sedikit, tetapi sekarang sudah berkembang menjadi sangat banyak,” ujar Karsa.

Dia menambahkan pada sekitar 1963 atau 1965, hampir seluruh pengayah ikut menyiapkan sarana upacara, mulai dari mencari bunga, sayuran, hingga memanjat pohon kelapa untuk mencari janur. Namun saat ini, pengayah golongan muda cenderung tidak pernah mengambil bagian yang terlalu berat seperti memanjat pohon kelapa itu.

“Biasanya mereka hanya menyiapkan penjor dan bunga,” tambah Karsa.

Ngerebeg
Pelaksanaan Ngerebeg di Desa Pakraman Tegallalang pada Rabu (12/10). Foto Ngurah Hartawan.

Perkembangan pada upacara Ngerebeg ini ternyata tidak hanya dari segi jumlah pengayah dan tugas-tugasnya saja, tetapi juga dari segi rute perjalanannya. Dulu, perjalanan dimulai dari Pura Duur Bingin sampai ke Tirta Empul di Kecamatan Tampaksiring. Selanjutnya sembahyang di Pura Tanjung Sari dan kembali lagi ke Pura Duur Bingin.

Jarak yang ditempuh pada waktu itu lebih jauh daripada jarak yang ditempuh dalam upacara Ngerebeg zaman sekarang, di mana rutenya hanya di seputaran Desa Pakraman Tegallalang saja.

Meskipun dilaksanakan berulang tiap enam bulan, upacara ini tidak pernah kehilangan antusiasme pengayahnya. Mereka selalu totalitas dalam mengikuti tradisi tersebut meskipun menempuh jarak cukup jauh dengan berjalan kaki.

Pande Wayan Karsa mengharapkan agar tradisi Ngerebeg ini dapat tetap berjalan seperti kaidah seharusnya, sekalipun zaman terus berkembang ke arah modernisasi. Beliau tidak ingin tradisi ini kehilangan keunikan serta esensinya. [b]

Tags: BudayaGianyar
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Iin Valentine

Iin Valentine

seorang penikmat buku, musik, dan penggemar foto.

Related Posts

Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

14 May 2026
Ruang Healing di Pesisir yang Berubah

Mendamaikan Nyepi dan Takbiran di Bali 2026

16 March 2026

Patologi Atensi: Kenapa Otak Dangkal dan Malas Kontemplasi

6 March 2026
Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Sanggah Kemulan Bermakna Unik dari Susunan Bambu di Desa Pedawa

Sanggah Kemulan Bermakna Unik dari Susunan Bambu di Desa Pedawa

25 July 2025
Budaya Ngayah Makin Langah

Budaya Ngayah Makin Langah

13 June 2025
Next Post
Nusa Penida Kian Alami Ketergantungan Pangan

Nusa Penida Kian Alami Ketergantungan Pangan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

15 May 2026
Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

14 May 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Senja Kala Humaniora

14 May 2026
Satu Abad Rarud Batur 1926: Ingatan jadi Mitigasi Bencana di Masa Depan

Satu Abad Rarud Batur 1926: Ingatan jadi Mitigasi Bencana di Masa Depan

13 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia