• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, March 11, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Menyalakan Harapan Anak-anak Pedagang Buah

Anton Muhajir by Anton Muhajir
19 November 2010
in Kabar Baru, Pendidikan, Sosial
0
1

Teks dan Foto Anton Muhajir

“Nama saya Wayan. Ongkos belajar mahal. Tak ketulungan,” tulis anak pedagang buah itu.

Wayan Samah, 10 tahun, menulis di buku tulisnya di bawah temaram cahaya lampu di depan kamarnya. Dia duduk lesehan menggunakan lantai sebagai meja sekaligus kursi untuk belajar menulis petang itu.

Sehari-hari Wayan berjualan buah, seperti pepaya, semangka, nanas, jagung, dan lain-lain. Buah-buah ini sudah dipotong. Wayan menjajakannya dengan cara membawa di atas kepala dan berjalan di sekitar tempat tinggalnya, pemukiman kumuh di Banjar Perang, Desa Lukluk, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung.

Wayan lahir dan besar di Desa Tianyar, Kecamatan Kubu, Karangasem. Kabupaten di bagian timur Bali ini salah satu daerah termiskin di Bali. Tianyar salah satu desa kering dan miskin di Karangasem. Banyak pengemis, gelandangan, dan anak-anak jalanan dari desa ini yang merantau ke Badung ataupun Denpasar. Wayan salah satunya.

Sejak enam bulan lalu dia merantau ke Badung, kabupaten terkaya di Bali. Dia berjualan buah dengan pendapatan kotor per hari setidaknya Rp 110.000. Tapi, dia cuma mendapat upah Rp 300.000 per bulan. Padahal dia bekerja dari pukul 5 pagi hingga 2 siang.

Di usianya yang baru 10 tahun, Wayan seharusnya mendapat pendidikan formal. Itu seperti disebut oleh Undang-undang (UU) Perlindungan Anak. Tapi, UU hanya manis di atas kertas. Tidak bagi Wayan. Dia tidak mendapatkan haknya sebagai anak, pendidikan.

Wayan memang pernah sekolah di desanya. Tapi, baru setahun sekolah, dia berhenti. Selain karena biaya sekolah yang, menurutnya, mahal juga karena jarak tempat sekolahnya jauh. Dia mengaku butuh waktu tiga jam untuk berangkat dari rumah hingga sekolah. Berangkat pukul 6 sampai sekolah pukul 9.

“Sampai sekolah sudah capek. Tidak bisa ikut pelajaran,” katanya. Wayan tak lagi mau sekolah meski dia ingin belajar.

Maka, dia senang ketika di tempat tinggalnya yang kumuh sekarang ada kelas untuk belajar. Namanya Kelas Beranda. Nama ini mengacu pada tempat di mana kelas diadakan tiap dua hari sekali dalam seminggu.

Bersama belasan anak seusianya, Wayan tinggal di kos-kosan kumuh di Banjar Perang. Ada dua bangunan memanjang khas rumah kos-kosan. Masing-masing punya empat kamar. Dua bangunan ini berhadapan satu sama lain membentuk beranda di antara keduanya. Di sanalah kelas ini diadakan saat petang, antara pukul 6 sore hingga 8 malam.

Kelas Beranda ini diadakan sejak tiga bulan lalu. Ada tiga relawan pengajar di sini. Semuanya perempuan muda, Intan Paramitha, Asta Ditha, dan Widya Ratha. Mereka masih mahasiswa tingkat akhir atau baru saja lulus kuliah.

Para relawan ini pada awalnya didukung Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bali. Namun, sejak sekitar sebulan lalu WHDI tak lagi mendukung dengan alasan administrasi, mereka tak mendukung pendidikan untuk anak di bawah 15 tahun, seperti halnya di Banjar Perang.

Sebagian besar anak didik di Kelas Beranda memang masih berumur di bawah 15 tahun atau bahkan di bawah 10 tahun. Selain Wayan Samah, peserta lain di kelas ini adalah Ketut Juliani dan Komang Karyawan, 3 tahun. Ketut, gadis berlesung pipit itu, tak tahu berapa umurnya. Tapi dia lebih muda dibanding Wayan.

Ketut, anak keempat dari lima bersaudara, itu tinggal tanpa bapak ibunya. Bapaknya tinggal di kampung asalnya, Tianyar. “Meme suba sing ada,” katanya dalam Bahasa Bali. Ibunya sudah meninggal.

Mereka mengaku senang belajar di Kelas Beranda. Karena itu, tiap kali para relawan pengajar datang, anak-anak pedagang buah ini akan menyambutnya dengan gembira. Begitu juga saat belajar Kamis kemarin.

Kelas terbagi dalam tiga kelompok kecil. Intan mengajar lima murid yang dua di antaranya sudah punya anak meski umur mereka baru 18 tahun. Widya mengajar tiga anak lain umur belasan tahun tentang Biologi. Adapun Ditha bergabung dengan lima anak lain belajar menulis dan membaca, termasuk Wayan dan Ketut.

Menurut Ditha, mereka memang tidak menggunakan kurikulum khusus untuk belajar. “Kami lebih fleksibel, tergantung dari kebutuhan anak-anak,” katanya.

Dengan umur beragam, anak-anak itu juga punya kemampuan baca tulis berbeda. Beberapa anak lebih tertarik belajar membaca. Sebagian lain tertarik belajar menulis.

Berdasarkan kebutuhan murid itu pula, maka para relawan mengajarkan Bahasa Inggris dan Matematika. “Kami ingin bisa ngomong Bahasa Inggris,” kata Kadek Widyawati, murid lain di Kelas Beranda.

“Biar bisa menghitung dagangan,” kata Nengah Suparmi, murid lainnya ketika ditanya alasan kenapa ingin belajar Matematika.

Maka, suasana Kelas Beranda campur aduk. Ketika satu murid belajar membaca, murid lain belajar menulis. Ketika satu murid belajar Biologi, di tengah jalan mereka tiba-tiba minta belajar Bahasa Inggris. Mereka belajar bebas.

Begitu juga dengan buku yang mereka gunakan. Tiap orang bebas menggunakan buku sebagai acuan untuk belajar. Malam itu Wayan dan Ketut belajar dari buku karya penulis ternama Bali, Gde Aryantha Soetama. Judulnya Bali Tikam Bali.

Wayan dan Ketut secara bergantian menyalin tulisan tersebut di artikel berjudul Belajar Gaya Bali. “Ongkos belajar bisa mahal. Tak ketulungan mahalnya. Itu sebabnya banyak anak-anak putus sekolah,” tulis mereka. [b]

Tags: Anak JalananAnak-anakBadungPendidikanSosial
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Patologi Atensi: Kenapa Otak Dangkal dan Malas Kontemplasi

6 March 2026
Serbuan Konten AI: Ketika Membedakan Asli dan Palsu itu Melelahkan

Kontroversi Jasa Joki Tugas Kuliah

26 November 2025
Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Mendata Bencana Banjir dengan Crowdsourcing

Mendata Bencana Banjir dengan Crowdsourcing

17 September 2025
Budaya Ngayah Makin Langah

Budaya Ngayah Makin Langah

13 June 2025
A Day in My Life, 140.000 untuk Segelas Keringat Pekerja Harian

A Day in My Life, 140.000 untuk Segelas Keringat Pekerja Harian

9 June 2025
Next Post

Berbagi Cerita Arsitektur Belgia

Comments 1

  1. luhde says:
    15 years ago

    wah, kangen berat ngajar lagiii setelah 2 minggu absen. minggu depan semoga tak ada halangan..

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

10 March 2026
Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

8 March 2026

Dinamika Nyepi di Bali: Imbas Tawur hingga Kesepakatan Nasional

8 March 2026
Titik Berburu Takjil di Bali

Titik Berburu Takjil di Bali

6 March 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia